Sabtu , Juni 19 2021

Buku

Oleh Helfizon Assyafei

Buku ini tipis halamannya tapi tebal isinya. Buku ini memberitahu saya bahwa semua orang (taat maupun pendosa) bisa tertipu oleh syetan karena syetan mempunyai ‘jalan masuk’ ke dalam diri yakni melalui nafsu. Tertipunya orang taat; memandang enteng dosa karena merasa punya kebaikan yang banyak. Tertipunya pendosa; memandang enteng dosa karena Tuhan Maha Pengampun.

Saya, anda dan kita semua bisa tertipu jika tidak ada yang mengingatkan kita bahwa si penipu (syetan) akan selalu bekerja dengan segala cara agar kita tak menyadari bahwa kita telah tertipu. Ada orang yang tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat tetapi tetap merasa tenang-tenang saja. Ada yang berbuat maksiat dengan gembira dan bangga. Ada juga yang taat tapi memandang diri terlalu tinggi dan orang lain selalu lebih rendah. Padahal posisi kita sebenarnya sama; makhluk yang tidak ada jaminan masuk sorga.

Teringat kisah Nabi Adam yang menangisi satu dosa yang dilakukannya (memakan buah khuldi) selama 40 tahun hingga air matanya mengalir seperti anak-anak sungai. Sementara kita tak jarang dengan mudah melupakan dosa yang kita lakukan selama 40 tahun. Beda sekali kan? Itulah perbandingan kondisi orang yang tidak tertipu dengan orang yang tertipu.

Setiap satu dosa yang tidak diampuni-Nya adalah jurang yang menghalangi kita ke surga-Nya. Sudah berapa dosa kita buat, belum bertaubat lalu terlupakan? Meskipun taruhlah kita sudah bertaubat lalu apakah ada pernah kabar sampai ke kita bahwa dosa kita telah diampuni-Nya? Kok kita bisa merasa lebih mulia dari orang lain? Ampuni kelalain ini ya Robb.

Jadi siapa mereka yang tidak tertipu? Di buku itu dijelaskan adalah orang-orang yang dilindungi Allah. Siapa mereka? Orang-orang yang tidak pernah menganggap enteng dosa sekecil apapun, selalu berupaya menaati-Nya dengan sabar dan Ikhlas dan tidak pernah putus memohon ampun pada-Nya. Membaca buku ini membuat hati ini terus bergumam; Ya Allah jadikanlah diri ini orang baik yang tidak tertipu. Sebab tertipu itu artinya; rugi.

“Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang yang amat merugi perbuatannya? Itulah orang yang sia-sia perbuatannya di dunia ini, sementara mereka mengira dirinya telah berbuat sebaik-baiknya.”(QS 18 ayat 103-104).

Nasihat diri

 

 

.

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: