Sabtu , Juni 19 2021

Demokrasi

Oleh Helfizon Assyafei

Dulu di sebuah pasar loak buku di Jogjakarta saya menemukan sebuah buku yang amat ‘terlarang’ ketika itu. Sebuah buku yang ditulis Hasan Tiro (Pimpinan GAM). Saya tertarik dan membelinya. HT menolak sistem demokrasi karena menurutnya itu sistem curang. Ia memberi contoh sederhana. Bila ada 3 daerah misalkan a,b, c bergabung jadi satu maka sistem demokrasi memungkinkan voting (pemilihan suara terbanyak).

Bila dua daerah (a dan b) sepakat agar kekayaan daerah (c) dibagi bersama maka lewat voting maka pembagian bersama itu sah. Menurutnya itulah yang dialami Aceh. Kekayaannya diambil pusat tapi kesejahteraan mereka diabaikan. Sebagai editor surat kabar saya juga banyak membaca opini soal cacat demokrasi. Bahkan pernah membaca buku berjudul  Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat: Belajar dari Kekeliruan Negara-negara Lain  karya Juan J. Linz et al

“Di Indonesia, benih-benih ‘demokrasi kaum penjahat’ telah ditanamkan, kebanyakan selama periode Soeharto atau sebelumnya, serta beberapa kali sejak era reformasi, di ladang-ladang yang subur dan dirawat dengan baik.” (Prof. R. William Liddle dalam Pengantar buku ini). Buku ini merupakan pemandu jalan bagi para teoretisi dan praktisi politik di Tanah Air untuk menjauhkan negeri ini dari manuver-manuver politik “demokrasi kaum penjahat.”

Di buku itu disebutkan bahwa demokrasi itu sebenarnya hanya alat. Dia bisa jadi baik atau buruk tergantung yang menggunakannya. Seperti pisau. Kalau di tangan orang baik bisa untuk mengupas bawang. Kalau di tangan orang jahat bisa mengupas orang. Saya tidak tahu apakah demokrasi yang kita rasakan sekarang di tangan siapa.

Sudah lama tak membaca dan menulis soal politik. Sebab biar hati damai saja. Tapi pagi ini terbaca berita beberapa hari lalu di indonesia today (Idtoday; 13 Feb 2021), soal pernyataan ketua umum partai bulan bintang Yusril Ihza Mahendra. Katanya, demokrasi sekarang akhirnya jadi permainan kekuasaan. Yang kuat akan menang dan berkuasa, yang lemah tersingkir. Demokrasi sekarang bergantung pada kekuatan baru; uang dan modal.

Saya tak tahu mengapa tiba-tiba beliau jadi ‘kritis’ begitu. Tapi sudahlah. Politik ya begitu itu. Pagi tempe sore tahu. Kalau mau happy jangan banyak baca politik. Begitu saran seorang teman. Dia mungkin benar. Tapi mungkin juga tidak. Sebab boleh jadi itu bahasa lain pelarian diri dari kenyataan yang tidak menyenangkan. Tapi kadang pelarian itu juga menyenangkan. He he..selow bro..

Pekanbaru, 16 Feb 2021

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: