Rabu , Juni 16 2021

Generasi Bertakwa, Cerdas, dan Berahlak Baik, Lahir dari Sistem Pendidikan Islam

Nelly, MPd
Nelly, M.Pd.

Oleh: Nelly, M.Pd.

Sistem pendidikan di negeri ini kian mengkhawatirkan, orientasi, tujuan dan arahnya semakin tak jelas. Terbaru adanya kebijakan penempatan guru beragama Kristen di sekolah Islam atau Madrasah sungguh mencederai tujuan pendidikan tersebut. Apakah Madrasah di Indonesia kekurangan tenaga pengajar Muslim? Seperti diberitakan, menurut Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama kristen di sekolah Islam atau madrasah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia.

Tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30. PMA nomor 90 tahun 2013 telah diperbaharui dengan PMA nomor 60 tahun 2015 dan PMA nomor 66 tahun 2016, dimana pada Bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam, guru non muslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Bahkan ini salah satu manifestasi dari moderasi beragama, dimana Islam tidak menjadi ekslusif bagi agama lainnya, (SuaraSulsel.id, 30/1/2021).

Moderasi Agama, Picu Pendangkalan Aqidah

Ya, adanya kebijakan membuka peluang guru Kristen mengajar di sekolah Islam sungguh sangat disayangkan. Harus difahami bersama, bahwa tujuan dari pendidikan adalah mencetak generasi peserta didik beriman dan bertakwa serta memiliki kepribadian ahlak mulia. Artinya sebagai pendidik guru bukan hanya menyampaikan materi tapi juga menanamkan kepribadian. Maka peluang guru non muslim mengajar di sekolah Islam atau madrasah adalah pintu pendangkalan akidah bagi generasi Islam.

Jika ditelesik, karut-marut semua pengaturan kebijakan dalam sistem pendidikan ini tidak lain karena pangkalnya adalah sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan dalam tatakelola negeri ini.

Kapitalisme yang melahirkan sekularisme-liberal pada hakikatnya adalah pemisahan agama dari kehidupan, seterusnya akan memisahkan agama dari negara yang juga secara langsung akan memisahkan agama dari pendidikan. Kelahiran sekularisme adalah hasil kompromi, yang menyandarkan kebenaran pada manfaat semata.

Pendidikan negeri diperparah lagi dengan adanya asas dari sistem pendidikan sekuler ini yaitu materialisme. Melihat dari sini sangat nampak sistem kapitalisme sebenarnya konsep ilmiah ala pendidikan sekuler, yang sejatinya hanya menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Dan inilah salah satu tujuan pendidikan sekuler menjauhkan kaum muslimin dari agamanya sendiri.

Sehingga dapat dilihat hasil dari pendidikan sekuler hanya akan menghasilkan generasi yang hidupya semata-mata mengejar materi dan ijazah. Begitu lulus mereka belum memiliki skil, kepribadian, keshalihan dan keterampilan.

Kebanyakan output pendidikan sekuler lebih bermental korup, terjerumus dalam lembah maksiat, generasi alay dan jauh dari harapan generasi yang akan memajukan negeri dengan karyanya.

Kurikulum pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi tidak lagi bervisi-misi untuk menghasilkan generasi cemerlang yang hebat dalam hal dunia dan mahir dalam hal akhirat.

Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi dikerdilkan hanya mencetak manusia bermental buruh.

Sistem Pendidikan Islam Cetak Generasi Takwa dan Cerdas

Tentu ini sangat berbeda jauh dengan bagaimana sistem pendidikan dalam sistem pemerintahan Islam. Dilihat dari segi tujuannya pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/IPTEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Pada tingkat TK-SD, materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan.

Barulah setelah mencapai usia balig yaitu SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan).

Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat Islam.

Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah SWT.

Kurikulum dibangun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya.

Sementara materi ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya seperti kapitalisme-sosialisme disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan cacat-celanya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia dan bertentangan dengan Islam.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan keterampilan).

Dalam proses pengajaran, yang menjadi faktor terpenting adanya keberadaan peranan guru yang bukan saja sebagai penyampai materi pelajaran, namun sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan yang baik.

Seorang guru dituntut harus memiliki kekuatan akhlak yang mulia agar menjadi teladan bagi peserta didik sekaligus profesional. Untuk menjadi profesional, maka guru harus mendapatkan pengayaan guru dari sisi metodologi, mendapatkan sarana dan prasarana yang memadai, mendapatkan jaminan kesejahteraan sebagai tenaga profesional, yang ini semua wajib disediakan negara.

Dalam sistem negara Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah dan bahkan gratis.

Maka tugas negara juga wajib menyiapkan sarana prasarana, peralatan dan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Sehingga dapat dipastikan sistem pendidikan Islam mampu menciptakan SDM yang handal sekaligus tinggi dalam nilai agama.

Sepanjang sejarah keemasan Islam masa kepemimpinan Islam telah membuktikan keberhasilan pendidikan Islam selama 13 abad lebih lamanya, yang kemudian banyak menghasikan ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Ibnu Sina (bapak kedokteran), Alzahrawi (bapak ilmu bedah), Al Khawarismi (penemu aljabar), Abbas Ibn Firnas (penemu pesawat pertama), Ibn Al Haytam (bapak optik), Jabir Ibn Hayyan (ahli kimia).

Dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim yang bukan hanya ahli dalam akademik atau ilmu pengetahuan namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat ahli dalam agama. Sejarah juga mencatat pada masa kejayaan Islam, masa kekhilafaan umaiyyah di Spanyol. Cordova pada masa itu dikenal dengan pusat ilmu pengetahuan.

Cordova mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Bukan hanya ummat Islam yang menjadi mahasiswa di Universitas ini, banyak mahasiswa dari berbagai negara datang termasuk mahasiswa kristen dari Eropa. Cordova di masa itu dikenal dengan “the greatest center of learning” di Eropa.

Kejayaan Cordova banyak menginspirasi penulis barat dan banyak digambarkan oleh ahli sejarah ataupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi barat di masa sekarang.

Perlu dipahami bahwa Universitas Cordova hanya salah satu dari banyak keberhasilan Islam dalam dunia pendidikan dan ini membuktikan sistem pendidikan Islam itu pernah ada dan berhasil dalam memajukan pendidikan.

Artinya, dalam sistem pendidikan Islam akan menghasilkan output yang siap kerja dan terampil. Namun mereka juga memiliki kepribadian Islam yang akan menjadikannya shalih dan shalihah, jauh dari perilaku menyimpang dan asusila. Nah, ini sebenarnya yang diperlukan oleh bangsa ini. Kerusakan generasi harusnya diberi solusi yang mampu mencetak mereka jadi generasi yang unggul dalam segala bidang, bukan berorientasi hanya pada materi dan dunia.

Di sinilah Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, semestinya menjadikan pendidikan Islam di masa kepemimpinan Islam sebagai contoh dalam memperbaiki sistem pendidikan yang bobrok hari ini di negeri tercinta.

Mengapa negeri ini harus berkiblat pada sistem barat kapitalis yang nyata-nyata hanya merusak generasi dan masa depan bangsa? Sudah saatnya mengambil dan menerapkan sistem Islam dalam kehidupan bernegara untuk keberkahan dan menjadikan generasi bangsa sebagai penerus peradaban gemilang.

Wallahu a’lam bish shawab.***

Penulis merupakan Akademisi dan Aktivis Peduli Generasi

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: