Jembatan Kesementaraan

Oleh Helfizon Assyafei

Tahanlah pandanganmu dari segala yang bisa merusak hati mu. Begitu kata seorang salik (pejalah ruhani) pada ku. Katanya; Ini zaman kedengkian mendapat tempat. Masuk ke ruang publik. Banjir di Jakarta telah membuat kedengkian keluar dari dada-dada orang yang sudah lama memendam benci pada pemimpin yang bukan dari golongannya. Lalu lidah menjadi tempat lewat hati yang kotor dalam bentuk ucapan-ucapan merendahkan pemimpin itu. Sedang bila golongannya korupsi tidak sepatah pun lidahnya berkata.

Wahai sahabatku yang malang, lanjutnya lagi. Kau hanya memiliki penglihatan lahiriah tapi hati mu buta. Kau baru menyadari kebutaan mu kini. Kau tidak memiliki pandangan batin yang dapat memandang tanda-tanda-Nya yang jelas. Engkau makhluk yang malang yang telah dianugrahi dengan tubuh lahir yang sempurna  dan dalam bentuk yang tepat, tidak mengetahui bahwa dunia agung (akhirat) yang tersembunyi berbeda dari dunia ini.

Engkau harus berjuang demi kehormatan batin. Bukan demi pandangan makhluk. Agar kau dapat berdiri tegak secara terhormat di hari akhir. Ruh mu harus menjadi ruh seorang manusia. Bukan ruh berjasad manusia tapi berkepala hewan. Engkau telah salah menduga tentang dunia tersembunyi itu. Tempat dimana seluruh rahasia disingkapkan dan seluruh perbuatan mu yang engkau tutupi akan diungkapkan.

Kau mengira sama dengan dunia sekarang ini. Yang tampak ini. Dimana orang dapat menipu yang lain dan menciptakan kekacauan, fitnah (hoax), kesesatan dan membuat penilaian yang salah. Tidak kawan. Di sana mata, telinga, tangan, kaki dan semua anggota tubuhmu akan bersaksi atas semua perbuatan mu di dunia ini. Bahkan hatimu pun kan bersaksi tentang kesombongan dirimu yang mencari perhatian makhluk, bukan perhatian-Nya. Dan karena itu, semua kebaikan mu tak lagi bernilai di sisi-Nya. Seperti debu yang ditiup angin. Hilang tanpa bekas. Na’uzubillahi min zalik (kami berlindung dari yang demikian)

Maka sahabatku, kau mesti selalu mohon ampun. Berlindung pada-Nya dari ketergelinciran niat. Bukalah telinga dan mata hati mu. Kasihanilah diri mu sendiri sehingga kau kelak dapat meninggalkan dunia ini dalam bentuk manusia dan menjadi selamat serta diterima-Nya. Berjuanglah meluruskan niat mu mencari perhatian-Nya bukan perhatian makhluk. Berbuat dan berkatalah demi-Nya. Jangan bercampur sedikitpun dengan niat selain-Nya. Astaghfirullah. Betapa hati ini begitu gampang bengkoknya.

Biarlah jelek di pandangan makhluk tapi baik di pandangan-Nya. Daripada baik dipandangan makhluk tapi hina di pandangan-Nya. Terserah makhluk mau memandang kita seperti apa. Jangan pernah perdulikan apapun pandangan makhluk pada mu selama kau mencari pandangan-Nya. Nilai kita sebenarnya bukan pada pandangan makhluk tapi pada pandangan-Nya.

Belajarlah memaafkan. Jangan memelihara dendam. Sebab hidup kita semakin lama bukan semakin bertambah tetapi semakin berkurang. Hidup sebenarnya itu bukan di sini. Kita hanya sedang menjalani kesementaraan di ‘jembatan’ yang bernama umur. Jangan tertipu dengan tempat dimana kini kau berada dan semua yang kau lihat…Ya Robb ampuni diri yang hina ini..

Terimakasih tuan guru…

Nasihat diri

[H.A]

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: