Kuliah Subuh Ahad

Oleh Helfizon Assyafei

Saya hanya ingin berbagi apa yang saya dengar dalam kuliah subuh Ahad tadi. Tuan guru bertanya pada kami. “Pernahkan bertanya pada istri/suami kalian apakah dia pernah mendoakan ampunan pada Tuhan untuk kalian?” ujarnya. Kami diam saja. Ia melanjutkan. “Mudah-mudahan adalah hendaknya. Tapi kalau tidak ada jangan sedih. Ada yang lebih hebat dari suami/istri kalian yang mendoakan kalian tanpa kalian ketahui,” ujarnya lagi. Kami penasaran. Siapa?

Ia menukilkan kitab Riyadus Sholihin karya Imam Nawawi. Katanya; “Barangsiapa yang menyempurnakan wudu’ nya dari rumah dan pergi ke masjid dengan hati ikhlas dan niat ibadah saja (tanpa bercampur dengan niat lain), maka malaikat akan mendoakan orang tersebut dengan tiga doa,” ujarnya. Pertama, Ya Allah sayangilah dia. Kedua, Ya Allah ampunilah dia. Ketiga, Ya Allah terimalah taubatnya. Setiap satu langkah kakinya diampuni dosanya dan diangkat derajatnya.

“Jadi itulah keutamaan orang yang pergi ke masjid menunaikan shalat berjamaah. Jika saja anda masih hidup saat ini, masih bernafas, tapi tak mau mengamalkan hal ini anda rugi,” ujarnya. “Kita perlu modal besar saat memasuki alam barzakh nanti. Modal itu tidak bisa dicari di sana. Tapi di sini. Sekarang ini,” ujarnya lagi. Menurutnya doa manusia ada kemungkinan diterima atau ditolak. Tapi kalau malaikat yang terpelihara dari dosa mendoakan maka Insya Allah dikabulkan oleh Allah SWT.

Tuan guru juga mengatakan datanglah lebih awal ke masjid. Jadilah orang yang menunggu masuknya waktu shalat. Sebab, lanjutnya lagi, orang yang menunggu datangnya waktu shalat di masjid terhitung sedang melaksanakan sholat sunnah sampai azan dikumandangkan. Meski kita hanya duduk diam menunggu waktu masuk saja. Tapi dihitung sebagai ibadah. “Jadi jangan biasakan masbuk (telat) shalat berjamaah ke masjid,” ujarnya lagi. Beberapa teman yang sering telat melihat ke arah saya.

Saya tahu maksudnya; ia mengingatkan saya. Sesama masbukers alias sering telat datang. Kadang sudah satu rakaat baru datang. Ah kadang kaji tu memang perlu diulang-ulang juga. Sesampai di rumah dengan agak sungkan-sungkan saya jalankan saran tuan guru tadi; bertanya pada istri. Apakah ada mendoakan ampunan untuk saya. “Ya iyalah pa..” ujarnya nyantai. Oh syukurlah..

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: