Rabu , Juni 16 2021

Lentera Hati

Oleh Helfizon Assyafei

Di antara kitab yang tinggi hikmahnya adalah Tanbighul Ghofilin (peringatan bagi orang lalai) karya Abu Laith Samarqandi. Saya kagum pada kitab ini sekaligus takut. Setiap membaca atau mendengar pemaparannya dari ulama saya merasakan satu hal; saya orang yang lalai. Lalai itu abai terhadap hal yang bermanfaat. Suka pada hal yang sia-sia. Lalai hidup ini sementara. Lalai melakukan apa yang harus dilakukan. Lalai melakukan yang baik .

Lalai pada gilirannya membuat batin kita jadi kotor dan gelap. Dalam gelap kita tidak bisa membedakan mana baik mana buruk. Mana yang halal mana yang haram. Semua tampak sama; hitam. Itu sebabnya tidak ada perasaan bersalah atau takut pada-Nya setelah melakukan dosa. Itu pula sebabnya kemaksiatan suka dilakukan dalam remang-remang dan gelap karena tidak tampak dari pandangan makhluk. Bagi hati yang lalai pandangan makhluk lebih penting dari pandangan-Nya.

Saat tuan guru membacakan kitab ini kepada kami, rasanya seperti seseorang yang membawakan lentera ke hati saya yang gelap. Diantara yang menggelapkan hati ada beberapa hal. Ia menyebutnya maksiat batin. Di antaranya banyak makan, banyak bicara, suka marah, dengki, cinta harta dan pelit, cinta kemegahan, cinta dunia, takabur, bangga diri dan pamer. Tandanya sifat-sifat itu ada pada kita bila kita mudah merasa mulia dan tidak merasa takut atau menyesal bila berbuat dosa.

Kita perlu dunia karena kita makhluk yang punya kebutuhan. Tapi yang tidak perlu adalah mencintainya. Biasa sajalah. Sebab, lanjutnya, mencintai dunia akan membawa kita pada kemunafikan.  Kemunafikan adalah terminal awal yang kan membawa ke arah selanjutnya yakni musyrik dan kafir. Tanda kemunafikan menyebar adalah maraknya berita bohong (hoax). Orang tidak takut membuat dan menyebar berita bohong demi keuntungan politik dan ataupun keuntungan kebendaan.

Dalam kisah Nabi Yusuf, sang Nabi yang tidak bersalah harus masuk penjara demi menutupi aib yang dilakukan oleh istri petinggi negeri waktu itu. Misal yang lainnya sudah jelas-jelas membunuh orang tanpa kebenaran, lalu membuat dalih seolah-olah orang yang dibunuhlah yang bersalah. Begitulah bila maksiat batin sudah bertahta. Benar bisa jadi salah. Salah bisa jadi benar.

Begitulah hidup ketika kelalaian tumbuh dan berkembang di hati kita. Maka, lanjut tuan guru, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah berjuang memelihara benih cintamu pada-Nya. Jangan sampai benih itu tercemar oleh kelalain. Tercemar oleh maksiat batin yang menggelapkan hati.  Karena itu sahabatku, tuturnya, ciptakanlah nilai diri mu di hadapan-Nya. Bukan di hadapan makhluk-Nya.

Apalah gunanya rasa cinta dan benci pada makhluk-makhluk-Nya yang sama-sama lemah dan hina. Dan apakah manfaatnya memperoleh bantuan dan penghargaan dari mereka? Kalaupun ada manfaatnya hanya berumur pendek. Jika pandangan mereka lebih penting bagi mu dari pandangan-Nya, maka jika kau tak terhina di sini (dunia) maka pasti kau kan terhina kelak di dunia sana.

Jadi jangan kau gantungkan hatimu pada mereka. Pada siapapun. Kecuali hanya pada-Nya. Tidakkan bisa sesiapun menolong mu kecuali DIA jika saatnya tiba.  Kelak kau kan sendiri berdiam dan tertanam di tanah tak dikenal. Membusuk dan hancur. Dilupakan. Apapun pangkatmu. Siapapun dirimu..

Semoga DIA menolong kita beramal demi-Nya saja. Bukan demi tepuk tangan atau manfaat lain yang tersembunyi jauh di dasar hati kita. Tidak mudah bisa selalu menjaga hati dan meluruskannya. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Mohonlah selalu pertolongan-Nya. Itulah upaya menempuh jalan yang lurus. Jalan sunyi yang indah..

Pekanbaru, 8 Desember 2021

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: