Pilah-pilih Syariat Islam; Dinar dan Dirham Dikriminalisasi, Wakaf dan Zakat Diakomodasi

dinar dan dirham
Pemerintah Indonesia melarang transaksi menggunakan dinar dan dirham.

Oleh: Alfiah, S.Si

Pasar Muamalah yang berada di wilayah Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, dan telah beroperasi sejak 2014 telah dipasangi garis polisi dan tidak beroperasi lagi, Rabu (3/2). Penyegelan itu dilakukan setelah petugas Bareskrim mengamankan pendiri sekaligus pengelola pasar tersebut, Zaim Saidi, pada Selasa (2/2) malam.

Zaim pun lantas dibawa ke markas polisi guna diperiksa. Pendiri pasar yang transaksi di sana menggunakan keping dirham dan dinar itu kemudian ditetapkan sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terhadap dirinya (cnnindonesia.com).

Ironis memang. PP Muhammadiyah mempertanyakan proses hukum terhadap aktivitas Pasar Muamalah yang menggunakan dinar dan dirham dalam bertransaksi. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, membandingkanya dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar, dalam transaksi wisatawan asing di Bali.

Oleh karena itu, menurut Anwar Abbas, transaksi di Pasar Muamalah bisa dikategorikan ke dalam tiga bentuk yaitu: Pertama, sama dengan transaksi barter. Yaitu pertukaran antara komoditas (emas atau perak) dengan barang lainnya seperti TV, sepeda, makanan dan minuman, atau produk lainnya.

Kedua, transaksi tersebut mirip dengan transaksi yang mempergunakan voucher. Karena yang akan berbelanja, membeli atau menukarkan terlebih dahulu uang rupiahnya ke dalam bentuk dinar dan dirham, baru mereka bisa berbelanja di pasar tersebut. Praktik transaksi mempergunajan voucher ini juga sudah banyak terjadi di negeri ini.

Ketiga, dinar dan dirham yang mereka pergunakan itu mirip dengan penggunaan koin di tempat permainan anak-anak, di mana kalau sang anak ingin mempergunakan mainan A misalnya, maka dia harus membeli koin dulu dengan rupiah, lalu koin itulah yang digunakan untuk membayar permainan.

Kriminalisasi terhadap penggunaan dinar dan dirham, yang tidak lain adalah emas dan perak terkesan aneh dan lucu. Karena sebenarnya Pasar Muamalah ini bukan baru-baru ini terbentuk, tapi sudah lama sejak 2014. Dan masyarakat sekitar banyak terbantu dengan adanya pasar ini. Karena mereka mendapatkan santunan dirham yang bisa mereka tukarkan dengan rupiah atau kebutuhan lain.

Terkesan ada phobia terhadap penggunaan dinar dan dirham. Apa karena dinar dan dirham berbau syariah atau mata uang yang pernah digunakan oleh Khilafah? Padahal negeri ini mengakomodasi adanya BAZIS yang memfasilitasi penyaluran zakat, infak dan sedekah. Bank- bank, asuransi, dan pegadaian di Indonesia juga ada lini syariah.

Bahkan yang terbaru pemerintah melaunching Dana Wakaf. Terkesan ada pilah-pilih terhadap ajaran Islam. Padahal Islam adalah agama sempurna yang mengatur aspek kehidupan. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan…,” Demikian Allah memerintahkan kita dalam Q.S. Al-Baqarah: 208.

Tindakan pemerintah mengkriminalisasi transaksi dinar dirham menegaskan fobia terhadap Islam. Padahal pemerintah tidak dirugikan sedikit pun dan negara diancam sedikit pun dari aktifitas pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat.***

Penulis Merupakan Pemerhati Sosial dan Politik

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: