Selasa , Juni 22 2021

Prof Wiku Minta Daerah Belajar Penanganan Covid-19 dari DKI

Prof Wiku Adisasmito
Prof Wiku Adisasmito.

Jakarta (Riaunews.com) – Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, daerah-daerah di Indonesia dapat belajar mengenai upaya penanganan Covid-19 dari Provinsi DKI Jakarta.

Melansir Republika.co.id, berdasarkan pengamatan pada 31 Januari, Satgas mencatat terjadi penurunan tren kasus aktif di DKI Jakarta, di mana pada dua minggu sebelumnya mengalami tren kenaikan kasus. Angka kasus aktif pun tercatat mencapai 8,78 persen dari sebelumnya yang sebesar 9,85 persen.

Sedangkan, tren kesembuhan di DKI Jakarta menunjukkan terjadinya kenaikan. Pada minggu-minggu sebelumnya, Satgas mencatat terjadi penurunan tren kesembuhan. Namun, pada pekan terakhir yakni pada 31 Januari tercatat mengalami kenaikan menjadi 89,46 persen.

“Kita dapat belajar bahwa upaya testing DKI Jakarta yang mencapai 12 kali standar minimal WHO dalam seminggu dan 87 persennya ditujukan kepada kasus suspek, probable, dan kontak erat memberikan dampak positif terhadap pencegahan penularan,” kata Wiku saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta.

Kendati demikian, Wiku menekankan Provinsi DKI Jakarta masih harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit. Sehingga, dapat menekan angka BOR di bawah standar yaitu 70 persen.

Berdasarkan koordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta, jumlah tempat tidur isolasi dan ICU per harinya tergolong fluktuatif. Hal itu tergantung pada kondisi dan data pelaporan dari rumah sakit. Tingkat BOR rumah sakit pun berada di kisaran 75-80 persen.

“Upaya yang Pemda DKI lakukan untuk menekan angka kasus aktif ialah melalui peningkatan testing dan tracing,” ujarnya.

Wiku menyampaikan pelaksanaan PPKM di DKI Jakarta telah menunjukan hasil di sejumlah indikator. Namun, kondisi itu belum menunjukkan keberhasilan dari implementasi kebijakan PPKM.

Salah satu ukuran keberhasilan dari PPKM ini yakni jika suatu provinsi dapat keluar dari empat indikator yang ditetapkan selama empat minggu berturut-turut. Keempat indikator tersebut yakni tingkat kasus aktif, kesembuhan, kematian, dan juga keterisian tempat tidur atau BOR.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: