Rabu , Juni 16 2021

Setelah Banjir di Kalimantan Selatan, Sekarang Giliran Semarang; Islam Punya Solusi

Banjir merendam sebagian besar Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/2/2021).

Oleh: Novita

Beberapa waktu lalu, sejumlah daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) terendam banjir. Setidaknya 1.500 rumah warga di kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar Kalimantan kebanjiran. Ketiggian air mencapai 2-3 meter (kompas.com). Banjir yang melanda Kalsel di awal tahun 2021 ini menjadi banjir terdahsyat yang pernah terjadi sepanjang sejarah Kalsel.

Direktur Eksekutif Walhi (Wahana lingkungan hidup) Kalsel Kisworo Dwi Cahyono mengungkapkan bukan sekadar curah hujan yang tinggi yang menyebabkan banjir, namun rusaknya ekologi di tanah Borneo. Dalam laporan di tahun 2020 saja terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif, bahkan ditinggal tanpa reklamasi.

Lubang tambang yang ditinggalkan tanpa reklamasi akhirnya banyak memakan korban jiwa. Contohnya di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), 39 anak meninggal karena tenggelam di lubang tambang. Sebagian terbakar karena jatuh ke dalam lubang yang masih ada batu baranya (suara.com). Belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah terhadap air. Ini tentu menjadi pemicu penyebab terjadinya banjir.

Seperti diberitakan sebelumnya Kota Semarang dilanda banjir di banyak wilayah pada Sabtu (6/2/2021). Banjir itu bahkan melumpuhkan beberapa simpul transportasi di Kota Atlas tersebut.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Yoga menilai banjir di Semarang, Jawa Tengah terjadi karena pesatnya pembangunan infrastruktur memangkas daerah resapan air di kota tersebut.

Nirwono mengatakan, ada tiga faktor penyebab banjir di Semarang. Pertama, pembangunan infrastruktur kota yang masif sehingga menutup daerah bukaan atau resapan air. Pembangunan infrastruktur yang masif juga membuat penyedotan air tanah yang tidak terkendali. Akibatnya, terjadi penurunan muka tanah dengan cepat, sehingga ketika air rob atau limpasan air laut meningkat menimbulkan banjir.

Pemerintah daerah perlu segera melakukan percepatan dan perluasan kawasan hutan mangrove di pesisir pantai. Hal ini lebih efektif ketimbang membangun tanggul pantai yang berbiaya mahal dan tidak ramah lingkungan.

Kedua, banjir terjadi karena berkurangnya luasan saluran air akibat sampah dan lumpur. Hal ini membuat saluran air tak lagi mampu mengalirkan air sesuai dengan kapasitas dan curah hujan yang semakin membesar.

Maka dari itu, ia menilai pemerintah perlu segera melakukan rehabilitasi saluran air dan menata kembali jaringan di dalam saluran air secara terpadu. Tak ketinggalan, perlu dipastikan pula bahwa aliran air mengalir dengan lancar ke danau, waduk, hingga embung terdekat sebagai cadangan air di musim kemarau.

Ketiga, banjir muncul karena kurangnya aktivitas penghijauan di sekitar sungai. Selain itu, aktivitas pengerukan lumpur dan pembebasan daerah sungai dari pemukiman juga perlu dilakukan.

Bencana alam baik yang disebabkan oleh kelalaian manusia atau pun tidak, sudah menjadi qadla dari Allah Swt. yang harus diterima dengan keridhoan dan kesabaran. Sebagai manusia yang lemah tentu ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah Swt.

Adapun konteks penanganan terhadap musibah, Islam mengatur kebijakan-kebijakan komperhensif yang terhimpun dalam manajemen model Khilafah Islamiyyah yang tegak atas asas akidah Islam. Pada prinsipnya pengaturannya berdasarkan syariat Islam yang ditujukan untuk kemaslahatan umat.

Ada beberapa manajemen sistem Islam dalam menangani bencana. Yang pertama yaitu sebelum terjadinya bencana. Tujuannya untuk mencegah terjadinya bencana, seperti pembangunan sarana-sarana fisik contohnya pembangunan kanal, bendungan pemecah ombak, tanggul dan lain sebagainya. Juga reboisasi (penanaman kembali) bukan malah sebaliknya memberi izin pada perusahaan untuk menggunduli hutan yang mengakibatkan banjir.

Yang kedua yaitu ketika terjadi bencana, yaitu seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi jumlah korban secepat mungkin dan kerugian material akibat bencana. Kegiatan penting yang dilakukan evakuasi korban secepatnya, membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban serta memblokade material bencana.

Kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya yaitu penyiapan lokasi pengungsian, pembetukkan dapur umum dan posko kesehatan serta pembukaan akses jalan maupun komunikasi untuk mempermudah tim SAR berkomunikasi dan mengevakuasi korban.

Jika dilihat dari kondisi saat ini tentu kita sudah sangat jauh dari aturan Islam dan semakin tidak tahu diri hingga merusak lingkungan yang akibatnya Allah menegur dengan memberikan bencana sebagai peringatan. Sudah sepatutnya kita kembali kepada syari’at Islam demi kemaslahatan umat dan keseimbangan ekosistem di bumi . Wallahu alam.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: