Senin , Juni 21 2021

Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi Bisa Tumbuh 5,3 Persen pada 2021

Menteri Keuangan Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani yang tiba-tiba berkerudung saat menyampaikan program wakaf yang digadang-gadang pemerintahan Joko Widodo untuk meraup dana umat.

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 4,5 persen-5,3 persen pada 2021. Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebelumnya yang di kisaran 4,5 persen-5,5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali pulih di kisaran 4,5 persen-5,3 persen disumbang pemulihan sektor sisi penerimaan dan sisi produksi,” ujarnya dalam Rapim TNI-Polri 2021, Senin (15/2/2021).

Dilansir CNNIndonesia.com, Sri Mulyani menuturkan pertumbuhan ekonomi tahun ini dipengaruhi oleh sejumlah hal. Pertama, penularan covid-19 yang masih berlanjut di 2021.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan bergantung dari penanganan pandemi, salah satunya melalui program vaksinasi covid-19.

Program vaksinasi diharapkan menekan penularan covid-19 dan mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk melakukan kegiatan perekonomian.

“Faktor-faktor yang menentukan pemulihan ekonomi nasional apakah covid-19 bisa kami kendalikan, apakah vaksinasi berjalan sukses,” imbuhnya.

Selain itu, ia menuturkan pertumbuhan ekonomi tahun ini masih ditopang oleh APBN yang difokuskan untuk melanjutkan penanganan covid-19 dan memperkuat pemulihan ekonomi. Untuk kebutuhan tersebut, pemerintah mempersiapkan dana sebesar Rp688,33 triliun, atau naik signifikan dari rencana awal yakni Rp372,3 triliun.

Kedua, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh implementasi reformasi struktural melalui UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang bernama Indonesia Investment Authority (INA). Upaya tersebut diharapkan bisa mendorong penciptaan lapangan kerja dan mendatangkan investasi.

“Jadi, Indonesia tidak hanya keluar dari krisis covid-19 tetapi juga keluar secara lebih cepat dan menjadi negara lebih kuat. Tidak banyak negara di dunia yang memanfaatkan krisis,” tuturnya.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 4,8 persen. Lalu, Bank Dunia sebesar memprediksi 4,4 persen dan ADB 4,5 persen.

Moderat

Dalam kesempatan itu, bendahara negara mengatakan tekanan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 termasuk moderat dibandingkan dengan negara anggota G20 dan Asia Tenggara. Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,07 persen (yoy).

Menurutnya, negara lain mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam. Meskipun, sejumlah negara mampu tumbuh positif seperti China sebesar 2,3 persen dan Vietnam 2,9 persen tahun lalu.

“Ekonomi Indonesia relatif masih moderat kontraksi ekonomi di 2020, 2,1 persen negatif (minus 2,07 persen). Dibandingkan negara G20 dan Asia Tenggara kita relatif cukup moderat kontraksi ekonominya. Artinya, kita mampu tangani covid-19 dan mampu kurangi dampak covid-19 dalam perekonomian, jadi dampaknya tidak sedahsyat dan sedalam negara lain,” tuturnya.

Sebagai contoh, Singapura mengalami kontraksi ekonomi minus 5,8 persen dan Filipina 9,5 persen. Lalu, negara maju seperti AS minus 3,5 persen, Jerman minus 5 persen, Rusia minus 3,1 persen, Prancis minus 8,4 persen, dan Italia minus 8,8 persen.

Selain itu, defisit anggaran Indonesia juga hanya 6,09 persen atau tidak sedalam negara lain. Sedangkan, sejumlah negara maju bahkan melebihi 10 persen.

“Defisit APBN 6 persen relatif kecil dibandingkan negara lain yang defisit hingga di atas 10 persen. AS mendekati 15 persen, Perancis 10,8 persen. Ini artinya negara-negara ini hanya dalam setahun utang negaranya melonjak hingga lebih dari 10 persen, sementara Indonesia tetap bisa terjaga di kisaran 6 persen,” ujarnya.

Selanjutnya, Indonesia juga masih bisa menjaga rasio utang terhadap PDB relatif lebih hati-hati dan prudent dibandingkan negara lain yakni 38,5 persen. Sebagai perbandingan, rasio utang China mencapai 66 persen terhadap PDB, India mendekati 90 persen, Malaysia 66 persen, Singapura 131 persen, Filipina 48 persen, dan Thailand 55 persen.

“Di Indonesia juga terjadi kenaikan utang tapi rasio utang terhadap PDB 38,5 persen dan kami perkirakan mendekati 40 persen,” ucapnya.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: