Wafatnya Ulama Senjakala Dunia

Syekh Ali Jaber
Syekh Ali Jaber wafat pada 14 Januari 2021.

Oleh : Alfiah, S.Si

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Dewi Tanjung kembali membuat gaduh. Melalui akun Twitter pribadinya, Dewi Tanjung mendoakan sejumlah tokoh seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, Habib Rizieq Shihab, dan Novel Baswedan dibinasakan.

Aneh memang, padahal orang-orang yang dimaksud Dewi Tanjung bukanlah koruptor, penjahat, atau bandar narkoba. Namun mereka justru orang yang sedang dan sering dizalimi oleh ketidakadilan sistem demokrasi-kapitalis. Bahkan salah satu yang didoakan adalah ulama besar bahkan keturunan Rasulullah SAW. Seharusnya kita bersedih jika ada ulama yang wafat, bukan malah mendoakan kebinasaan ulama.
Mengingat belakangan ini, semenjak memasuki tahun 2021, sudah ada puluhan ulama yang mendahului kita. Kepergian mereka berbarengan dengan berbagai bencana yang susul menyusul.

Seharusnya kita bersedih mendengar kabar meninggalnya ulama. Karena seolah umat kehilangan mutiara yang sangat berharga. Bagaimanapun, ulama juga manusia yang jatah hidupnya dibatasi oleh Sang Pencipta. Suatu saat giliran kita. Entah hari ini, esok atau lusa.

Belum hilang duka mendengar kabar wafatnya Syeikh Ali Jaber, beberapa waktu lalu umat dikejutkan dengan wafatnya Ustaz Maher Ath Thuwailibi di rutan Polri dan ulama-ulama besar lain. Seakan-akan Allah memberi pesan pada kita bahwa bumi kian menua dan kiamat sudah tak lama.

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ [HR. Bukhari]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Demikian besar peran ulama sehingga Rasulullah SAW menjuluki ulama sebagai pewaris para nabi. Celakanya hari ini ulama pewaris para nabi satu persatu berpulang, sementara umat masih terkepung kebodohan.

Kurangnya semangat mendalami ilmu Islam masih kentara di tengah masyarakat. Majelis-majelis ilmu sepi peminat, sementara urusan-urusan dunia lebih memikat. Para ulama hanif yang lantang menentang kezholiman difitnah dan dibui. Sementara selebihnya yang masih bebas terus dicurigai.

Wajar umat takut belajar Islam Kaafah karena khawatir dituduh teroris atau makar terhadap penguasa. Sehingga umat masih berkubang dalam kebodohan dan kemaksiatan. Namun anehnya, sebagian mereka menganggap tetap berada dalam kebenaran. Alergi terhadap ide Syariah dan Khilafah. Dan hanya mengikuti ulama yang menyerukan zikir dan ibadah.

Padahal Dinul Islam bukan hanya perkara zikir dan sholat. Namun Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, dari mulai perkara ibadah, uqubat dan muamalat. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (QS al-Baqarah [2]: 208).

Sungguh meninggalnya para ulama adalah bencana bagi dunia. Maka jangan ditambah bencana ini dengan malasnya kita mendalami ilmu agama. Jika kita tidak sanggup menjadi ulama, maka belajarlah agama kepada mereka. Jika kita tidak juga bisa belajar agama karena uzur syar’i yang menghalanginya maka cintailah ulama, dan jangan pernah benci ulama. Insya Allah kita akan tetap tertunjuki pada hidayah dan mengeluarkan kita dari gelapnya kebodohan kepada cahaya kebenaran.

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ [HR. Bukhari]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻳَﺘَﻘَﺎﺭَﺏُ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ ﻭَﻳُﻘْﺒَﺾُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻭَﺗَﻈْﻬَﺮُ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻭَﻳُﻠْﻘَﻰ ﺍﻟﺸُّﺢُّ ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺍﻟْﻬَﺮْﺝُ

“Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak” [HR. Muslim]

Wafatnya seorang alim saleh bukan hanya akan membuat kita berduka, melainkan juga membuat bumi nestapa. Allah SWT berfirman dalam surah ar-Ra’d (13) ayat 41 yang berbunyi: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?”.

Ibnu ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya (4/406), berkata: “Maksud dari firman Allah: ‘lalu Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya’, maksudnya adalah hancurnya bumi, dan hancurnya bumi dengan wafatnya para ulama, fuqaha (para ahli fikih) dan orang-orang shaleh di dalamnya”.

Demikian juga Imam Mujahid berpendapat maksud hancurnya bumi adalah dengan wafatnya para ulama. ‘Atha` bin Abi Rabah juga mengatakan yang sama. Dalam Kitab Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih karya Imam Ibnu Abdil Barr (w 463 H) 1/600, ketika menafsirkan ayat di atas, ‘Atha` bin Abi Rabah berkata: “Maksudnya adalah dengan wafatnya para fakih dan orang-orang terbaiknya”.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa wafatnya para ulama merupakan di antara tanda kiamat sudah semakin dekat. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda kiamat sudah semakin dekat adalah diangkatnya ilmu, menyebarnya kebodohan, merajarelanya minuman keras dan perzinahan”. (HR. Bukhari)

Bukankah tanda-tanda itu hari ini telah tampak dengan benderang? Para ulama lurus satu persatu wafat, urusan rakyat diserahkan kepada yang bukan ahlinya sehingga akal waras terasa langka, sementara minuman beralkohol (minol dilegalkan) dan para pezina dibela sehingga prostitusi merajalela.

Ironisnya dan lebih menyayat hati, ulama lurus yang masih hidup difitnah secara keji dan dibui. Kalau sudah begini, maka siapa yang akan melakukan amar ma’ruf nahi munkar? Masyarakat akan terkepung kebodohan. Sementara mereka merasa hidup dalam keabadian. Astaghfirullah. Wallahu a’lam bi ash-shawab.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: