Senin , Juni 21 2021

Hadiah Terbaik

Oleh Helfizon Assyafei

Saya tersenyum melihat foto itu dengan sebaris kalimat di bawahnya; Kalian terlalu sibuk hingga lupa bahwa hari ini Supersemar. Sebuah meme yang positif; mengingatkan kita pada sejarah surat perintah sebelas maret 1966.  Tapi bukan mau bahas ini. Cuma meme ini mengingatkan saya bahwa mungkin saja saya lupa bahwa hari ini juga adalah 27 Rajab 1442 H. Hari ketika Nabi menjemput perintah shalat wajib.

Dalam sebuah diskusi lepas, saya pernah bertanya mengapa sholat harus lima waktu. Mengapa tidak satu waktu saja. Atau sekali Jumat saja. Atau sekali setahun saja pas shalat hari raya misalnya. Sahabat saya merespon. Mengapa makan minimal dua kali sehari? Mengapa tidak sekali sehari saja. Atau sekali sejumat saja. Atau sekali setahun saja?

Jawaban yang cerdas. “Keburu mati kalau makan sekali sebulan apalagi sekali setahun boi,” ujarnya terkekeh. Jasmani perlu makan. Rohani begitu juga. Tanpa makanan jasmani akan melemah, sakit dan mati. Begitu juga rohani. Bedanya kalau jasmani mati, rohani ikut mati. Tapi kalau rohani mati bisa jadi jasmaninya masih hidup.

Rohani yang mati dalam jasmani yang hidup pedoman hidupnya ya hanya jasmani. Yang penting keperluan jasmani terpenuhi entah dengan cara halal atau haram sikat saja. Tak ada hukum. Tak ada perintah dan larangan. “Persetan orang susah karena aku yang penting asyik sekali lagi asyik,” ujar syair lagu Bento. Jangankan merampok bank, merampok parpol pun ayok.

Sholat, lanjut sahabat ku lagi, adalah hadiah terbaik bagi rohani kita. Makanan rohani. Intinya kalau you sujud pada-Nya, ya patuhi dong perintah-Nya. Jangan mencuri, berzina, minuman keras, berbohong, merampok, curang, boros dan yang sejenis dengannya. Sholat bukan sarana ambil muka sama Tuhan. Habis ngerampok sholat misalnya. Uang korupsi bawa naik haji misal lainnya lagi. Itu cinta palsu namanya. Pura-pura taat formalitas pada-Nya tapi maling aslinya.

Ia mengutip hadis. Nanti amalan yang pertama dihitung (dihisab) di akhirat adalah Sholat. Kalau baik sholatnya maka baiklah semua urusannya. Bila buruk sholatnya maka buruklah semua urusannya. Jadi bila sholat tak membuat akhlak kita jadi baik, maka sholat kita tergolong buruk. Perbaikilah selagi ada masa. Yang penting jangan sampai tidak sholat. Sebab sholat amalan pertama yang dihitung, kalau mati tak bawa sholat apanya yang mau dihitung? langsung dilempar? Na’uzubillahi min zalik.

Saya senang mendapat pencerahan dari diskusi itu. Terimakasih kawan..

[helfizon assyafei]

27 Rajab 1442 H/11 Maret 2021

 

 

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: