Selasa , Juni 22 2021

Hadir RDP di DPRD Riau Pimpinan DPRD Bengkalis Minta Ada Aksi Nyata Bagi Petani Ubi Kayu

Wakil Ketua DPRD Bengkalis, Syahrial Basri ST MSi

PEKANBARU (RiauNews.com)-Rapat Dengar Pendapat (RDP) komisi II DPRD Riau dengan Perkumpulan Tani dan Nelayan Indonesia (Tanindo)  Riau, instansi terkait serta perusahaan pengguna tepung tapioka seperti PT RAPP, PT Indah Kiat dan PT Indofood Tbk, Rabu (18/3/21)  terlihat istimewa pasalnya RDP ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Riau Hardianto dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis, Syahrial Basri.

Syahrial dalam RDP tersebut menegaskan jika ingin para petani ubi kayu sebagai bahan tepung tapioka,  sejahtera mesti ada langkah konkrit dari pemerintah baik dalam meningkatkan produksi maupun menyuport pasar ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan baik di dalam Provinsi Riau maupun diluar.

“Harusnya pemerintah melakukan intervensi terhadap para petani ubi kayu untuk kesejahteraan para petani, tapi dalam RDP tadi saya lihat Dinas Pertanian tidak memiliki langkah konkrit hanya mengulang keterangan-keterangan pihak-pihak yang bicara sebelumnya,” kata Syahrial usai RDP.

Menurut politisi Golkar ini intervensi perlu dilakukan bagaimana usaha pertanian tanaman ubi kayu ini tetap eksis salah satunya menekan biaya produksi petani dengan menyediakan rekayasa alat dan teknologi yang mendorong para petani ubi kayu bisa melakukan peningkatan produksi dan percepatan panen

“Misalnya panen dalam satu hektar hanya menghasilkan 40 ton dengan rekayasa dan teknologi mungkin hasil panen bisa ditingkatkan menjadi 80 sampai 100 ton. Termasuk lama waktu memanen misalnya memakan waktu tiga hari, bagaimana bisa menjadi satu hari

“Kalau saya berharap ada intervensi dari pemerintah dalam menyediakan peralatan untuk membantu petani yang sedang panen seperti mereka mengajukan apa-apa saja peralatan yang dibutuhkan ajukan permohonan ke dinas terkait untuk peminjaman alat atau alat ini diberikan dan dikelola oleh petani,” ujarnya.

Lanjut Syahrial persoalan yang dihadapi petani bahwa petani di Riau belum mampu menyediakan jumlah yang dibutuhkan industri karena tingginya biaya produksi jadi harus ada dorongan dari pemerintah serta pemetaan. Dari segi ketersedian lahan tidak ada persoalan namun untuk menekan biaya produksi salah satunya dengan cara lokasi mesti dekat dengan pabrik tapioka.

“Kalau misal daerah yang jauh dari dari perusahaan tersebut mungkin kalau ada yang mau bertanam singkong kita anjurkan jangan dulu karena tak tertutupi biaya produksi.  Kalau pabrik tapioka yang saat ini ada di Kandis Kabupaten Siak bolehlah karena tidak terlalu jauh dari perusahaan yang membutuhkan tapioka,” imbuhnya.

Pewarta : Edi Gustien

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: