Senin , Juni 21 2021

Melawan Lupa

Oleh Helfizon Assyafei

Pertemuan audiensi tanggal 9 Maret 2021 lalu antara Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) 6 Laksar ef pe i yang dihadiri Prof M Amien Rais, Dr Abdullah Hehamuha, Marwan Batubara dkk dengan Presiden Jokowi membawa secercah harapan. Mudah-mudahan saja sila kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab bisa ditegakkan. Saya membaca siaran persnya.

Pak Amin dalam pengantar pertemuan itu sampai mengutip surah An-Nisa ayat 93 yang artinya; Dan barangsiapa yang membunuh seorang beriman dengan sengaja maka balasananya neraka jahanam dan dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar.

Meski Polri telah menetapkan 3 tersangka pelaku pembunuhan atas 6 anak muda itu dan Komnas HAM menyebut itu pelanggaran pidana biasa tetapi temuan TP3 yang disampaikan pada kesempatan itu adalah; kejadian bukan pidana biasa tapi pelanggaran HAM Berat. Harusnya diproses denga ketentuan UU No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM. TP3 mendesak agar kasus ini diselesaikan secara tuntas, transparan dan berkeadilan agar tidak menjadi warisan buruk dari pemerintahan ini.

Menanggapi hal itu pemerintah siap menerima masukan dari TP3. Bahkan Presiden juga berjanji untuk mendukung penuntasan kasus pembunuhan tersebut. Semoga ini benar-benar terwujud dan bukan sekadar lips service saja. Karena ini sebuah luka nurani yang takkan pernah sembuh bila tidak diselesaikan dengan cara berkeadilan.

Terimakasih pak Amin dkk yang terus melawan lupa. Menuntut keadilan. Melawan perpecahan dengan cara tidak segan bertemu presiden  meski beda pandangan politik. Ini bukan soal menang-kalah. Ini soal keadilan. Bahwa kita semua punya kedudukan sama dalam hukum. Akankah hukum berkeadilan akan tegak? Waktu akan menjawabnya.

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: