Merantau

Oleh Helfizon Assyafei

Ini hanya diskusi kecil di jalan sepulang takziah ke rumah tetangga tadi malam. Tentang perasaan takut dan tidak siap jika harus mati.  Anda dan setiap orang yang anda kenal, akan meninggal suatu hari nanti. Meski kita sering melupa-lupakannya. Seolah kematian hanya untuk yang lain. Padahal tidak ada kecuali. Ini hanya soal waktu. Mati adalah kepastian dan hidup adalah ketidakpastian. Dalam diskusi itu seorang sahabat punya pandangan yang mencerahkan soal ini. Ia berkata;

“Ya adalah benar tidak semua orang siap, tapi ini buka soal siap atau tidak siap. Ini soal mengambil keputusan untuk siap,” ujarnya. Saya hanya diam. Dalam hati saya setuju dengan pendapatnya. Kami terus berjalan kaki. Sesekali angin sepoi menerpa wajah. Menurutnya Tuhan telah menamakan diri-Nya dengan Arrahman (Pengasih) dan Arrohim (Penyayang). Harusnya tidak ada alasan untuk takut kembali pada yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Masalahnya; kita sering melakukan hal yang tidak disukai oleh yang Maha Pengasih dan Penyayang itu. Namanya dosa. Saya melontarkan hal ini. Sahabat tadi menjawab; ya kita takkan  bersih dari dosa. Tapi Tuhan memberi kita kesempatan untuk membersihkan diri dengan taubat dan zikir. Menurutnya seperti piring kotor yang bila dicuci akan bersih lagi dan bisa digunakan. Meskipun akan kotor lagi dicuci lagi.

Bukankah kita tak pernah bilang pada piring kotor buang saja. Tidak. Kita bisa mencucinya dan menggunakannya lagi dan lagi. Sekotor apapun diri kita selagi masih hidup akan punya harapan untuk bersih jika memang ada upaya untuk itu. Tuhan masih menerima permohonan ampun selagi kita masih bernafas. Selagi sadar akan kekotoran diri kita. Sadar kita cuma singgah di sini. Jadi prioritas kita sebenarnya adalah menjaga agar ‘piring’ itu tidak dikembalikan pada yang punya sebelum bersih.

Itulah yang disebutnya ‘mengambil keputusan untuk siap’. Sebab hidup seperti piring kaca. Kapan saja bisa pecah (mati). Katanya lagi mengapa kita takut pulang (mati) karena kita lupa kita ini perantau. Karena bumi bukan tempat tinggal tapi tempat singgah saja. Umumnya setiap perantau merindukan pulang bila ia berhasil. Sebaliknya bila tidak berhasil malu (takut) untuk pulang.

Sebuah diskusi yang membekas di hati saya. Saat kan tidur malam dengan tangan di kening teringat lagi diskusi itu dan sebuah potongan ayat Qur’an; Beruntunglah orang yang selalu mensucikan (membersihkan) dirinya dan merugilah orang yang mengotorinya..

Pekanbaru, 6 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: