Selasa , Juni 15 2021

’Mikrofon’

Oleh Helfizon Assyafei

Siapapun yang meledakkan bom di rumah ibadah orang lain itu jelas tindakan biadab. Barangsiapa yang membunuh jiwa tanpa sebab (seperti qishash), atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menghidupkan (memberi kehidupan pada satu jiwa), seakan-akan ia menghidupkan manusia seluruhnya…(Q.S al-Maaidah ayat 32).

Ayat di atas jelas kalimatnya “membunuh jiwa”. Artinya siapa saja manusianya, apapun agamanya, haram hukumnya dibunuh tanpa alasan yang benar. Apa alasan yang benar? Misalnya membuat kerusakan di muka bumi.  Seperti hukuman mati bagi gembong narkoba misalnya. Atau pada pengkhianat agama atau negara misalnya. Atau menghukum bunuh si pembunuh.

Tapi boleh jadi pelaku dibodohi oleh orang lain yang punya agenda lain yang lebih besar; adu-domba muslim-non muslim. Atau mencitrakan Islam itu teroris. Atau untuk mengalihkan isu. Atau untuk-untuk lainnya. Ada banyak kemungkinan di balik sebuah peristiwa. Juga di balik sebuah berita. Bahwa berita ada aksi terorisme itu memang benar terjadi. Tapi kadang dalam liputan kasus terorisme banyak jurnalis tergelincir menjadi corong satu pihak.  Ada juga yang terjebak sensasi.

Kesulitan mendapat narasumber selain narasumber resmi yakni polisi menyebabkan berita-berita kadang menjadi satu arah saja. Dan menurut buku Panduan Jurnalis Meliput Terorisme terbitan Tim AJI Jakarta, ini adalah dosa pertama (mengandalkan satu narasumber resmi) dari sembilan dosa jurnalis dalam liputan terorisme.

Pengamat media Arya Gunawan mengatakan bahwa berita yang mengandalkan satu narasumber resmi saja menghasilkan berita yang lemah dalam hal verifikasi (kebenaran berita). Selain itu berita tersebut bisa jadi di-stel untuk kepentingan si pemberi informasi.  Jurnalis mesti dan harus belajar, belajar dan terus belajar untuk menghasilkan liputan terbaik. Liputan yang terverifikasi keabsahannya.

Jurnalis mesti selalu skeptis, kritis terhadap keabsahan sebuah berita yang dilihat dan didengar sebelum menulisnya. Menjadi jurnalis sebenarnya tidak gampang. Kalau hanya meneruskan omongan sumber resmi, mikrofon pun bisa.

Pekanbaru, 29 Maret 2021

[helfizon assyafei]

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: