Pahlawan Hati

Oleh Helfizon Assyafei

Ada banyak berita hangat yang dingin kalau tidak dibaca. Misalnya Said Aqil Siroj jadi Komut Kereta Api Indonesia. Atau seorang turis Rusia di Bali terpaksa berurusan dengan polisi karena berfoto naik gajah tanpa pakaian. Ah ada-ada saja. Tapi kadang saya melewatkannya dan membiarkannya dingin. Sebab dari judul beritanya saja-menurut saya-baik sedang hangat ataupun sudah dingin membuat ngga selera bacanya. He he. Boleh donk beda selera.

Tapi saya selalu tak melewatkan informasi apa saja soal Artidjo. Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) Artidjo Alkostar tutup usia pada Minggu (28/2/2021) sekitar pukul 14.00 WIB. Bagi saya berita tokoh yang satu ini hangat selalu. Terutama di hati. Seorang pengacara. Pejuang hukum. Mantan Hakim Agung Indonesia di era Gus Dur. Kesaksian orang-orang yang mengenalnya bagi saya membuat ia seperti Pahlawan Indonesia Dr Mohammad Hatta. Kesamaan mereka; kejujuran.  Bagi Artidjo, kebenaran itu tak bisa dinegosiasikan (truth is non-negotiable).

Sahabat-sahabatnya menulis bahwa beliau sosok yang sederhana, pendiam dalam arti bicara hanya seperlunya, pekerja keras dan menikmati kesendiriannya. Kekuatan Artidjo adalah kejujurannya. Dan keberpihakannya kepada yang lemah. Buat Artidjo, kata Todung Mulya Lubis, dunia ini adalah hitam-putih. Benar-salah. Ngga ada abu-abu atau ruang yang bisa diatur, dibicarakan, di ‘lapanenam-kan’. Tak ada itu. Tahan godaan, tidak gaul, tidak pacaran dan menikah pada usia yang terlambat.

Ah benar-benar sosok langka di tengah era komersialisasi yang penuh kegenitan ini. Dia sangat dibenci koruptor. Bila kasus itu masuk ke mejanya sudah dipastikan hukuman akan diperberat. Tak ada yang bisa membelinya dan menekannya karena ia tidak butuh kemewahan dan tidak takut mati. Tak pindah dari rumah kontrakan di gang sempit di Kwitang meski sudah jadi Hakim Agung. Pergi dan pulang kerja pakai honda bebek butut selow saja.

Apapun gambaran yang muncul di benak anda-seburuk apapun-setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraah maka citra itu di hadapan Artidjo hancur berkeping-keping. Ia bukan jenis yang suka pencitraan. Ia memang beda. To the point. Ia juga tak pernah merundingkan biaya jasa pada klien yang dibelanya. Sewaktu jadi pengacara ia pernah memecat stafnya yang menelpon klien yang dimenangkannya di pengadilan karena meminta uang jasa yang padahal itu wajar. Ia pantang meminta uang. Klien mau berterimakasih atau tidak, ia abaikan.

Dia telah menunaikan tugasnya sebagai manusia dan sebagai seorang pengacara. Ia dikenang karena bukan ingin dikenang. Dipuji karena bukan ingin dipuji. Ia hanya menapak jalan lurus dengan modal kejujuran. Dia pergi di saat yang tepat. Ketika zaman dipenuhi orang-orang yang antara kata dan perbuatannya beda. Selamat jalan pak Artidjo. Anda adalah pahlawan meski tanpa SK di hati kami. Dan kami bangga Indonesia pernah punya pribadi seperti Anda. Semoga akan lahir Artidjo-Artidjo lainnya.

Pekanbaru, 4 Maret 2021

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: