Minggu , Juni 20 2021

PKS Sebut Tak Usung Anies Atau AHY Pada Pilpres 2024

Ahmad Syaikhu
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu.

Jakarta (Riaunews.com) – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atau Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono pada pemilihan presiden 2024 mendatang. Pasalnya, kedua politikus itu bukanlah kader.

Sekretaris Jenderal PKS Aboe Bakar Al-Habsyi mengatakan bahwa PKS hannya akan mengusung kadernya sendiri di Pilpres 2024. Bahkan, partai yang baru saja melakukan rebranding ini sudah menjatuhkan pilihan kepada satu sososk.

“Kami sudah menyiapkan tokohnya (untuk Pilpres 2024),” kata Habib Aboe yang ditemui setelah penutupan Rakernas PKS di Jakarta, Kamis (18/3).

Saking yakinnya dengan keputusan ini, PKS hanya menyiapkan satu orang kandidat. Namun, Habib Aboe enggan mengungkap siapa sososk terpilih itu.

Yang jelas, kata Habib Aboe menegaskan, sosok itu berasal dari internal partai yang kerap dijuluki partai dakwah tersebut.

“Kami tidak akan pilih dari yang lain, kecuali dari PKS,” tutur pria Jakarta itu.

Habib Aboe menuturkan, PKS tidak menutup kemungkinan berkoalisi dengan partai lain untuk kader tersebut. Namun, legislator Komisi III itu tidak memerinci kecondongan koalisi PKS tersebut.

“Kalau berkoalisi itu wataknya PKS, kolaborasi itu wataknya PKS,” ujar Habib Aboe.

Menurut dia, tokoh yang dipilih sebagai capres dari PKS itu telah mendapatkan kesepakatan dari seluruh kader. Dia pun berharap, tokoh itu bisa mengatrol suara PKS dalam kontestasi Pileg 2024.

PKS, kata Habib Aboe, menargetkan 15 persen suara dalam Pileg 2024. “Semoga lebih dari 15 persen,” kata dia.

Di sisi lain, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu mengatakan Indonesia butuh seorang pemimpin memiliki lima visi nasional yang bersumber dari para pendiri bangsa.

Ini disampaikannya dalam pidato politik di penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PKS, Jakarta, Kamis (18/3).

Menurut Syaikhu, visi pertama yang perlu dimiliki pemimpin yaitu ketuhanan. Indonesia, kata dia, terlahir sebagai bangsa yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan.

Syaikhu mengatakan, jika terdapat kebijakan yang berusaha memarginalkan atau menghilangkan peran agama dalam proses pembangunan di negeri ini, hal itu adalah tindakan yang mengkhianati visi ketuhanan.

“Oleh karena itu, jika benar peta jalan pendidikan nasional tidak memasukan peran agama dalam visi pendidikan nasional, kebijakan tersebut harus dikoreksi,” ungkap Wakil Wali Kota Bekasi itu di dalam Rakernas, Kamis ini.

Selanjutnya, kata Syaikhu, pemimpin perlu memiliki visi kemanusiaan. Negara, kata dia, bertanggungjawab memanusiakan dan menjaga harga diri manusia.

“Pemimpin yang memiliki visi kemanusiaan akan meyakini bahwa dalam mengendalikan pandemi, negara harus lebih mengutamakan keselamatan jiwa warganya dibandingkan memacu pertumbuhan ekonomi,” jelas pria asal Jawa Barat itu.

Visi yang diperlukan pemimpin berikutnya yaitu tentang kebangsaan. Menurut Syaiku, kepemimpinan nasional harus berakar kepada satu nusa, bangsa, dan bahasa.

Menurut dia, di tangan pemimpin yang memiliki visi kebangsaan, Pancasila bisa menjadi energi besar menyatukan seluruh komponen bangsa.

“Sebaliknya, di tangan pemimpin yang buta visi kebangsaan, Pancasila akan dijadikan alat kekuasaan untuk memberangus kelompok-kelompok yang dianggap mengancam kekuasaan,” tutur Syaikhu.

***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: