Selasa , Juni 22 2021

Prajurit Pejuang

Oleh Helfizon Assyafei

Ketika itu pagi menjelang siang. Saya melihat orasi singkat seorang mantan perwira TNI di halaman Kantor LAM Riau di Jl Diponegoro. Di bawah teriknya matahari. Hanya dinaungi tenda sederhana. Ia orasi dari atas kursi rodanya. Semangatnya mengalahkan ringkih tubuhnya. Sebagai mantan perwira intelijen, ia sangat resah dengan keadaan negeri ini. Yang menurutnya petinggi negeri  terlalu abai dengan ancaman keamanan dalam dan luar negeri.

Dan heroiknya lagi, ia lalu mengembalikan tanda gelar adat  yang pernah diberikan LAM kepadanya. Sebagai bentuk protes karena LAM memberikan penghargaan juga kepada orang yang menurutnya justru abai pada hal yang diresahkannya itu. Saya melihat prosesi singkat itu. Beliau datang dengan pakaian adat Melayu lengkap dengan tanjak. Panasnya hari membuat peluh mengalir dari keningnya.

Saya terharu mendengar orasinya. Melihat semangatnya. Mendengar kerisauannya. Kerisauan yang lahir murni karena cintanya pada negeri ini. Bukan karena ingin mendapat jatah politik. Kerisauan seorang prajurit. Kerisauan seorang yang pernah di ring satu negeri ini sebagai Kasospol ABRI di sebuah masa lalu. Kerisauan yang muncul bukan karena perbedaan pandangan politik. Bukan. Tapi kerisauan karena cinta negeri ini.

Usai orasi orang-orang yang hadir berebut menyalaminya. Juga saya. Menjabat dan mencium tangannya yang sesekali bergetar itu. Saat kuris rodanya didorong menuju mobil, saya masih sempat melihat beliau menyeka keringat di keningnya..

Pagi ini, berita duka itu datang. Ia telah dipanggil yang Maha Kuasa di sebuah rumah sakit di Jawa Barat. Putra terbaik Riau itu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Di atas bumi pertiwi yang dicintai dan dibelanya. Datuk Letjen TNI (purn) H Syarwan Hamid telah memenuhi janji kesementaraan setiap makhluk. Dia memang bukan manusia sempurna. Sepertinya halnya kita semua. Yang tak sepi dari salah dan dosa.

Tapi setidaknya beliau pernah mewakili sebuah keresahan yang tak terucapkan oleh orang kecil seperti saya. Sungguh saya merasa kehilangan. Selamat jalan Datuk..

Innalillahi wa innailahi rojiun

Pekanbaru, 25 Maret 2020

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: