Rabu , Juli 28 2021

Tak Hanya Dipaksa Mundur dari All England, BWF Telantar Pebulutangkis Indonesia di Inggris

Netizen memplesetkan BWF menjadi Badminton Without Fairplay setelah Tim Indonesia dipaksa mundur dari ajang All England 2021.

Jakarta (Riaunews.com) – Ketua Komite Olimpiade (NOC) Indonesia Raja Sapta Oktohari menuntut Federasi Badminton Internasional (BWF) minta maaf karena sudah membuat atlet Indonesia telantar di All England 2021.

Okto geram dengan tindakan BWF yang tidak memberi fasilitas terbaik kepada para atlet Indonesia usai dinyatakan wajib melakukan isolasi dan dipaksa mundur dari All England 2021.

“Atlet kita yang sudah divaksin, PCR, dan bertanding, tiba-tiba dikeluarkan dari pertandingan. Bahkan tidak diperkenankan masuk bus dan lift. Apakah oleh pemerintah Inggris? Bukan, tapi sama panitia. Mereka tidak bisa berlindung pada regulasi yang sudah ada. Sampai hari ini BWF belum minta maaf karena telah melukai perasaan masyarakat Indonesia,” ujar Okto dalam konferensi pers di Kemenpora, Jumat (19/3/2021).

“Yang dilakukan adalah minta maaf atas ketidaknyamanan, jadi bukan minta maaf. Ini harus clear. Kami melihat BWF sangat tidak profesional. Kami sudah komunikasi dengan PBSI, Kemenpora, Kemenlu, Federasi Badminton Asia dan kami akan teruskan skandal ini ke Arbritase Internasional. Ini melukai masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat badminton Indonesia yang notabene fanbase badminton di dunia,” sambung Okto.

Menpora Zainudin Amali juga mengungkapkan kekecewaan terhadap BWF. Amali mengaku mendapat laporan yang tidak enak terkait perlakukan terhadap atlet Indonesia di All England 2021.

“Saya sudah komunikasi dengan Menlu, kita minta klarifikasi dan penjelasan secara transparan serta perlakuan yang fair atas apa yang dialami tim bulutangkis indonesia. Informasi yang masuk ke kami, tersakiti,” ucap Amali.

“Kita diperlakukan tidak baik. Bayangkan tim kita sudah bertanding lalu dihentikan dan bahkan setelah dikeluarkan dari arena, disuruh jalan kaki, biasanya disediakan shuttle bus. Ini penyampaian langsung dari teman-teman kita di sana. Ini sesuatu diskriminasi,” sambungnya.

Amali pun menganggap BWF sebagai organisasi badminton yang tidak profesional. BWG dituntut Amali untuk bertanggung jawab atas kasus yang dialami atlet Indonesia di All England 2021.

“Khususnya kepada BWF, kalau ditanya apa penilaian saya, BWF tidak profesional. Kemudian BWF tidak transparan dan BWF diskriminasi. Itu boleh ditulis karena cukup bukti saya berani mengatakan itu. Kami sangat kecewa. BWF tidak boleh buang badan berlindung dari aturan di Inggris,” ucap Amali.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: