Selasa , Mei 18 2021

Andai Masa itu Telah Tiba, Siapkah Kita?

(Ilustrasi: iycoalition.org)

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd

Waktu terus berjalan, usia juga bertambah tua dan tentunya ini semakin mengurangi jatah hidup di dunia fana ini. Namun, manusia kerap kali tertipu oleh bergulirnya waktu, padahal waktu adalah nikmat kesempatan yang tak datang untuk kedua kalinya.

Detik berganti jam, minggu, bulan berlalu setiap tahun hanya terbuang sia-sia. Tak sadarkah manusia bahwa bagian hidup hilang setiap harinya? Atau bisa saja manusia terlalu terlena pada dunia yang menipu? Padahal nikmat waktu begitu singkat dan sementara.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT telah bersumpah atas masa dalam firmannya yang artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3).

Begitu cintanya Allah SWT pada hamba-Nya yang tak putus hanya sebatas umur saja, namun juga pada bulan suci yang penuh rahmat. Satu di antara dua belas bulan dijadikan Allah SWT sebagai kesempatan bagi hamba-Nya untuk menimba ampunan dan rahmat secara gratis tanpa syarat. Tamu agung itu dikenal dengan Bulan Ramadan. Bulan ketika amalan dan ibadah dilipat gandakan.

Bulan penuh keberkahan yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh belahan dunia. Tak heran apabila orang-orang beriman selalu berharap dapat bertemu dengan bulan yang mendapat gelar mulia. Sebagaimana Rasullullah SAW dan para sahabat senantiasa menanti dan mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum kedatangan tamu agung tersebut.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Selama satu bulan penuh pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup rapat, dan dibelenggunya para syaitan. Momentum indahnya bulan Ramadan juga dilengkapi oleh peristiwa Nuzulul Qur’an, yaitu manakala Al-Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan. Selain itu, Allah juga memberikan bonus malam Lailatul Qadr atau malam seribu bulan. Bagi umat-Nya yang beribadah dengan mengharap ridho dari Allah SWT, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan mendapat kebaikan lebih besar daripada 1000 bulan.

Dengan berpuasa menahan rasa lapar dan dahaga, maka akan memberi hikmah pada kaum Muslim menjadikannya lebih peka terhadap kaum fakir miskin. Ikatan persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah antar sesama semakin erat dan terjaga. Sebulan penuh beribadah siang malam menempa diri menjadi semakin terbiasa. Lantunan syahdu ayat-ayat Al-Qur’an terdengar membahana dan dilantunkan di setiap waktunya. Ucapan dzikir tanpa jemu diucap dengan mengharap ridho-Nya. Di bulan agung ini juga rumah Allah menjadi tempat persinggahan yang nyata, inilah Ramadan begitu indah.

Lantas, sudahkah umat Muslim sadar dan bersegera memaksimalkan ibadah pada bulan yang istimewa ini? Mengazamkan niat untuk bertaubat nasuha. Jangan sampai Ramadan ini tersia-sia, berlalu tanpa ada makna, hanya sekedar rutinitas dan seremonial tahunan?

Bila Ramadan telah berakhir, maka istiqomahlah menjalankan perintah Sang Ilahi. Berusahalah untuk taat dalam keseharian dan tak terlena dengan hiruk pikuk duniawi. Lanjutkanlah jalan meniti kehidupan dengan tetap mempertahankan kedekatan pada Sang Robbul Izzati.

Marilah merenung, ada banyak dari mereka umat ini, keluarga, saudara dan teman yang tahun lalu masih bersama dengan kita dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadan. Kini tak semua dari mereka yang sama masih di bersama dengan kita. Satu per satu telah pergi meninggalkan kita, dijemput kematian bahkan ada yang baru saja masih berdiri dengan sehat di samping kita. Namun, Allah telah menetapkan takdir yang lain yaitu kematian. Jadi, bagaimana dengan kita? Sudah siapkah setiap diri ketika dihadapkan dengan masa tiada lagi kesempatan untuk memohon ampunan?

Jika ini Ramadan tahun ini terakhir untuk kita, masih sanggupkah kita menahan air mata untuk tetap tidak memperdulikan sisa usia yang semakin berkurang? Setelah sekian lama diri diberikan waktu oleh Allah untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang akan datang setiap waktu. Telah banyak peringatan untuk diri, namun hanya lewat dan tak diperdulikan.

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramal sholehlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Andai saja setiap diri tahu ini adalah Ramadan terakhirnya, tentu semua orang akan bersujud dan berdoa tiada henti menengadahkan tangan mohon ampunan. Tiada jemu bertadarus, mendirikan sholat dengan khusyu’ serta tawadhu’ mengharap ampunan. Andai saja setiap diri tahu puasa ini adalah saat terakhirnya, pasti semua akan sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan, membuang segala kesombongan dan keacuhan diri.

Tentu tak akan tertarik pada lelapnya tidur, pasti akan melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan. Andai diri ini tahu bahwa waktu ini adalah jatah terakhir untuk bernapas pada bulan Ramadan, tentu hati dan jiwa akan selalu terjaga untuk mencintai Rabb sekalian alam dengan penuh kesadaran. Bersimpuh untuk selalu mengingat nama-Nya, menyingkap dunia yang tak henti menyibukkan.

Jika ini Ramadan terakhir bagi kita, sudah sejauh mana perolehan dalam meraih keutamaan Ramadan? 6 Ramadan telah berlalu, masih ada waktu untuk terus berbenah memperbaiki diri. Mari siapkan diri untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan dihadapan-Nya. Sadarlah wahai diri bahwa pernak-pernik dunia akan selalu melenakan di penghujung usia. Ingatlah bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Usia adalah misteri, maka optimalkanlah Ramadan ini untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari segala dosa agar kita tidak menjadi orang-orang yang merugi. Hadirkanlah dalam diri bahwa ini kesempatan terakhir menemui Ramadan. Seakan-akan berpuasa dan ibadah lainnya adalah wujud perpisahan.

Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani).

Wahai umat Muslim, marilah kita isi bulan Ramadan yang penuh rahmat ini dengan tekad dan semangat untuk beribadah sebaik-baiknya, seperti memperbanyak doa dan memohon ampunan, menanamkan niat baik sebanyak mungkin, menunaikan sholat di awal waktu, melakukan sholat sunnah, rajin bersedekah, sering bermuhasabah, semangat meraih Lailatul Qadr’, rajin bertadarus, dan ibadah lainnya. Hadirkan mindset dalam diri jika ini Ramadan terakhir bagi kita, agar kita tidak kehilangan momentum emas untuk meraih keberkahan dan ampunan di bulan suci ini.

Mungkinkah ini Ramadan terakhir kita? marilah raih kemuliaan Ramadan seakan-akan terjadi perpisahan. Agar setiap insan senantiasa terhindar dari kemaksiatan. Semoga Allah meridhoi kita dan mengakhiri usia kita dalam keadaan beriman dan Husnul Khatimah. Aamiin.
Wallahu’alam bis showab.***

Penulis merupakan Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: