Beda Berita dengan Siaran Pers

By Helfizon Assyafei

Pagi ini, saya membaca sebuah tulisan yang masuk ke WAG. Judulnya terorisme media. Intinya; media tidak obyektif, apalagi investigatif terhadap kasus teror melainkan ikut menghakimi dengan framing subyektif. Framing media bukan saja terjadi di Amerika tetapi juga di Indonesia dalam kasus serupa. Pesan dari berita framing itu; cap teroris itu ‘hanya’ untuk Islam. Tidak untuk yang lain. Saya lihat respon netizen di medsos pasca berita teror belakangan memang mengalami perubahan.

Intinya; khusus berita soal terorisme, netizen tidak percaya pada berita media arus utama (media-media besar nasional). Media bahkan dituding jadi bagian teror yang menyampaikan ‘pesan satu sumber’ yang belum diverifikasi dari sumber berbeda di lapangan. Media seperti terkooptasi oleh kekuasaan. Berubah menjadi corong kepentingan yang mengabaikan obyektifitas sebuah pemberitaan.

Bagaimana tanggapan orang media sendiri? Adalah wartawan senior yang juga pengajar dan pengamat media, Dr Srikit Syah MA ternyata tidak menyalahkan pendapat itu. Menurutnya banyak jurnalis yang mengandalkan informasi satu sumber atau yang dikenal dengan pers release. Harusnya pers release hanya informasi awal dan jurnalis mestinya segera terjun ke lapangan dan menggali serta memperkaya informasi lebih lanjut. Bukan terima bersih lalu siarkan.

Menurut Srikit Syah, dalam pemberitaan seorang perempuan yang menerobos Mabes Polri tidak kelihatan wartawan media arus utama melengkapi informasi dengan meninjau lapangan, mengajukan banyak pertanyaan misalnya; dengan siapa perempuan itu datang? Siapa yang mengantar? Mengapa KTP tidak ditinggal di pos jaga depan seperti aturan biasanya? Siapa keluarganya? Mengapa dia baru membuat instagram sehari sebelum kejadian? Apakah dia melek digital sehingga iabisa membuat instagram? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Lebih lanjut Srikit Syah mengatakan bahwa yang membedakan berita dengan siaran pers adalah adanya verifikasi, penelusuran, keterangan dari pihak lain (cover both sides), dan independensi dari narasumber. Ketergantungan mutlak pada satu sumber menjadikan jurnalis seperti staf humas. Lebih tegas lagi corong penguasa. Jurnalis tidak menjalankan kewajiban memantau kekuasaan. Tapi hanya memberi informasi yang bahkan belum diverifikasi.

Sebagai jurnalis, saya memahami kerisauan Mba Srikit Syah. Tapi pengalaman di lapangan, kejadian begitu tidak mudah menelusurinya. Sebab informasi siapa keluarga pelaku misalnya, itu tidak bisa didapatkan langsung pasca kejadian. Semua informasi memang hanya lewat satu pintu; polisi. Bahkan pasca kejadian rumah pelaku sudah dipolice line. Bagaimana wartawan bisa masuk untuk wawancara misalnya. Ini bukan pembelaan tetapi melihat dari sisi kendala internal jurnalis nya sendiri.

Bahwa konsekuensinya informasi bisa dibelokkan untuk kepentingan pemberi informasi misalnya ya bisa saja terjadi. Dan itulah yang membuat netizen tidak percaya informasi media arus utama. Tapi saya sepakat bahwa setelah menerima informasi pertama dari sumber resmi, wartawan memang harus bekerja keras mencari tahu (memverifikasi) info awal itu. Seperti megembangkan pertanyaan kritis seperti yang ditulis Mba Srikit Syah itu. Agar beritanya jadi berimbang.

Saya coba melihat hal ini dari kacamata global. Bahwa agenda setting global sepertinya memang memframing kasus-kasus terorisme kambing hitamnya adalah Islam. Jika pelakunya muslim maka itu disebut aksi terorisme. Tapi bila pelakunya selain muslim maka istilah medianya tidak terorisme walau kerjanya sama. Bisa dinamakan  kelompok kriminal bersenjata (KKB), orang tak dikenal, orang gila dan sebagainya. Jadi media dimanfaatkan oleh framing global yang mendiskreditkan satu pihak saja dalam kasus terorisme.

Jadi sebenarnya-menurut saya-tidak semua media ingin menjadi terorisme framing itu. Hanya ada keadaan yang membuat media jadi mengalami situasi dilematis. Seperti kata Mba Srikit Syah; Saya tidak menghakimi bahwa jurnalis Indonesia makin tumpul cara berfikirnya. Saya hanya menangkap bahwa jurnalis Indonesia makin tertekan, makin harus banyak berkompromi dan makin tidak bebas mengeksplorasi peristiwa.

Pekanbaru, 7 April 2021

Foto diskusi soal jurnalistik

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: