Di Bawah Pohon Matoa..

Pohon matoa

By Helfizon Assyafei

Ini kisah orang kecil. Yang disampaikan pada orang kecil lainnya (saya). Bukan kisah orang besar. Yang disampaikan pada orang besar lainnya di tempat-tempat yang besar, mahal dan mewah. Di suatu pagi menjelang siang. Kami ngobrol di bawah sebatang pohon matoa yang tidak rindang. Seorang teman lama datang berkunjung. Rumah kami berjauhan.  Masih di kota yang sama tetapi beda kecamatan.

Meski saya bukan pegawai dinas sosial, sesekali ia mengunjungi saya. Minimal untuk ngobrol barang sejenak dua jenak. Saya mengenalnya sebagai kepala keluarga tangguh dengan tujuh anak,  tipe pekerja keras. Mau kerja serabutan apa saja. Mulai jadi tukang parkir, kernet, kuli bangunan, penjaja koran, nyopir, tukang antar air galon, dagang asongan sudah pernah dilakoninya. Dan semua kerja kerasnya itu tak kunjung membuat ia terbebas dari kemiskinan yang membelitnya.

“Mungkin sudah nasib ku Boi,” ujarnya santai. Rambut di kepalanya sudah banyak yang memutih. Seolah jadi saksi kerasnya kehidupan yang dilaluinya. Baru juga saya tahu ternyata anak keduanya terpaksa berhenti sekolah di jenjang SMA. Pasalnya, begitu anaknya tamat SMP Negeri berlakulah sistem zonasi. Tak ada satu biji pun sekolah negeri yang dekat ke rumah petak sederhana tempat ia sampai kini masih menyewa.

Ia sudah coba daftarkan anaknya itu tapi kalah jarak rumah-sekolah dengan yang lain. Saat dicobanya dari jalur warga tak mampu jawaban yang diterimanya; kuota sudah penuh. Mau tak mau harus ke swasta. Ia pusing karena tidak ada biaya masuk sekolah swasta yang murah. Mau masuk ada uang pembangunan, seragam dan lain-lain yang harus dipenuhi.

Akhirnya sang anak menemukan sebuah sekolah swasta yang paling rendah biaya masuknya dibanding yang lain. Meski murah kata anaknya tapi tidak baginya karena perlu dana Rp2 Juta. Ia tak punya apa-apa kecuali sebuah becak motor pengangkut barang bekas dan karah yang kala itu jadi mata pencariannya. Demi anaknya ia jual becak motor satu-satunya itu. Ia senang anaknya bisa melanjutkan pendidikan. Sejak itu ia kerja serabutan untuk bisa bertahan hidup.

Hanya satu semester akhirnya sang anak menyerah, tak sampai hati melihat bapaknya tunggang langgang mencarikan dana sekolahnya. Sedang untuk makan saja susah. Akhirnya gabung sama sang bapak berkuli. “Saya korban sistem zonasi Boi,” ujarnya lagi. Saya sedih mendengarnya. Tapi saya bukan menteri pendidikan. Jadi juga tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi mungkin baginya tak penting saya ini menteri pendidikan atau bukan. Yang penting mau mendengarkannya. Lalu ia pamit. Dan saya tak dapat memberi sesuatu yang besar untuknya kecuali tak seberapa. Ia tak langsung menerima. Saya memaksanya. Saya tahu tipenya. Tak suka meminta-minta. Kalau masih bisa ditahan kepahitan tu kan ditahankannya.

Entah mengapa tiba-tiba saya teringat kasus BLBI Sjamsul Nursalim yang dihentikan penyidikannya itu. Kalau saja 4,58 triliun itu bisa dikembalikan ke negara lalu diberikan kepada orang-orang seperti mereka. Mungkin anaknya takkan putus sekolah. Mungkin ia tak menyewa lagi. Ah sudahlah boi…

Pekanbaru, 8 April 2021

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: