Minggu , Mei 9 2021

Nanggala 402

Oleh Helfizon Assyafei

Usai subuh tadi, teman ku bercerita. Ia punya kawan. Kawannya bercerita padanya. Satu di antara personil yang terjebak di dalam KRI Nanggala 402, kapal selam TNI AL yang hilang kontak itu adalah saudaranya. Saya terkesiap mendengarnya. Saat ini seluruh daya dan upaya baik nasional maupun internasional dikerahkan ke area pada jarak 43 Km sebelah utara pantai Celukan Bawang, utara Bali. Tempat ditemukannya 9 titik sebaran area BBM yang dasumsikan berasal dari Nanggala.

Setiap tragedi menimbulkan kesedihan sosial yang luas. Entah itu bencana alam ataupun kecelakaan. Apalagi bagi anggota keluarga. Tekanannya lebih hebat lagi. Saya pernah merasakan situasi ini. Ketika Tim SAR menyusuri Sungai Siak mencari keponakan saya yang hilang saat berenang. Harapan dan putus asa bergumul di dada menunggu kepastian.

Doa-doa tumpah ke langit. Dalam sujud panjang yang tak terkatakan. Ketika akhirnya semua harapan saya patah oleh kenyataan; keponakan saya ditemukan tapi sudah diam untuk selamanya, saya sempat terpukul. Apakah doa-doa menguap begitu saja? Lalu apa hikmahnya?

Bertahun sesudah kejadian itu saya tidak menemukan hikmahnya. Tapi tuan guru memberi tahu saya; Tuhan berhak mengabulkan doa dan juga berhak tidak mengabulkannya. Tuhan adalah pemilik semuanya. Tuhan bukan pekerja partai yang bisa diperintah dengan doa-doa kita. Tugas kita cuma ini; ketika masih ada harapan berdoalah. Ketika hadapi kenyataan; terimalah dengan Ridha (rela). Tidak ada yang bisa menolak kematian. Jangankan kematian orang lain, kematian kita sendiripun tak bisa kita tolak.

Dia mengajarkan ini kepada saya; terima kematian sebagai bagian normal dalam siklus hidup mu. Jangan menolaknya. Melupakannya. Menganggapnya hanya untuk orang lain. Sebab itu membuat kita lalai. Dalam islam disebut zikrul maut (mengingat mati). Gunanya agar kita tahu betapa berharganya hidup. Jangan disia-siakan hidup hanya untuk kebencian, kemarahan, permusuhan dan hal-hal tak berguna.

Sungguh jauh di hati kecil saya tetap berharap semua personil itu selamat. Meski saya tahu secara logika kemungkinan itu tipis. Tapi sebelum ada kepastian, harapan adalah hal yang paling wajar dipertahankan. Doa semua anak bangsa untuk mu patriot kami; semoga tetap dalam keselamatan. Baik dalam kehidupan maupun kematian. Hidup dan mati bukan kuasa kita. Sebuah ketentuan yang tak kita ketahui tapi harus kita jalani.

Jika hidup itu sebuah catatan, maka biarkan catatan itu menulis yang baik-baik tentang kita. Tentang apa yang kita lakukan saat pernah melintasi hidup sementara di bumi ini. Seperti setitik debu, kita kelak akan hilang. Tapi catatan itu tidak…

 

[helfizon assyafei]

Pekanbaru, 25 April 2021

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: