Sabtu , Juli 31 2021

Old Friend

Oleh Helfizon Assyafei

Hidup dan nasib siapa yang tahu? Dulu kami teman lama di sekolah dasar. Persamaan kami ketika itu adalah di sisi ekonomi; sama-sama susah. Tigapuluh tahun lebih tak berjumpa. Sehari sebelum Ramadhan ini berjumpa. Usai sholat Zuhur di sebuah masjid. Ia tak lupa. Begitu juga saya. Wajahnya tak jauh beda dengan dulu. Begitu juga wajah saya katanya. Kami ngobrol. Ia tak ada kesan sombong. Hangat seperti dulu. Tidak berubah. Yang berubah itu posisi kehidupan ekonomi kami; satu masih susah (apalagi zaman covid ne) dan satunya lagi sudah senang.

Ia  PNS. Tapi juga berjiwa bisnis. Tuah tangan dinginnya membuat bisnis yang ia pegang berkembang pesat. Asetnya banyak. Liburan keluar negeri bersama keluarga tak terhitung lagi. Umroh pun sudah berkali-kali. Saya senang mendengarnya sekaligus sedih. Senang karena dia sudah senang. Sedih karena saya belum seperti dia. Tapi mungkin saya hanya cemburu. Cemburu sosial maksudnya.

Saya tak tahu ternyata dia ada sedihnya juga. Baru tahu ketika ia ungkapkan. Ternyata kesedihannya itu dia belum sempat naik haji. Sekarang baru teringat. Padahal sekarang ia tidak seperti dulu lagi. Semua bisnisnya meredup sudah. Keuangan tak seperti dulu lagi. Terkuras sudah untuk proses hukum yang harus ditempuhnya karena mencari keadilan atas kerugian bisnisnya yang disebabkan kecurangan mitranya.

Hmm..hidup memang tidak selalu seperti kelihatannya. Selalu penuh dengan soalan. Ia belajar dari kasusnya dan menasehati saya agar jangan terlalu ambisi pada keuntungan dunia. Menurutnya terlalu ambisi membuat kita abai pada hal-hal yang meragukan dalam hal pendapatan. Ia menyebutnya subhat. Maksudnya ragu apakah bercampur halal dan haram dalam memperolehnya.

Ia tidak menampik bahwa kalau bicara tentang suap, uang saku, biaya pelicin, ongkos pelumas, uang rokok di dunianya beraktivitas sama biasanya dengan bicara tentang makan, minum, mandi, memakai kaos kaki dan memotong kuku  bila telah memanjang. Begitu lumrahnya.  Sama lumrahnya ketika suap seperti jadi ‘kewajiban’ sehari-hari orang modern dalam hal apa saja.

Ya apakah itu mencari sekolah, masuk instansi sipil-militer, mencari kerja, membatalkan perkara, memenangkan peradilan, unggul dalam tender atau apa saja. Baik dan buruk dalam genggaman uang. Benar dan salah dalam cengkraman suap. Katanya uang banyak bila loss control bisa mengubah prilaku orang menjadi lupa diri dan buta pada kebenaran.

Saya angguk-angguk saja. Tiba-tiba perasaan saya tidak sedih lagi. Tidak cemburu lagi. Bahkan bersyukur tak mengalami seperti yang dia alami. Sebab belum tentu iman saya sekuat dia. Hebatnya dia masih menyadari yang salah itu salah dan benar itu benar. Lalu tak lagi meneruskannya. Melakukan gerakan hijrah kembali ke ‘masjid’.

Ternyata hidup kadang memang seperti senda gurau saja. Semua tak seperti yang terlihat. Banyak tidak selalu berarti bahagia. Sedikit juga tidak selalu berarti derita. Teringat pesan ahli hikmah; bila yang sedikit tak membuat mu bersyukur maka yang banyak juga kan terasa sedikit dan tak mampu kau syukuri. Bahagia itu urusan hati. Bukan urusan berapa banyak yang kau punya.

[helfizon assyafei]

Pekanbaru, 21 April 2021

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: