Minggu , Juni 20 2021

Pedofilia Anak Masih Marak

(ilustrasi)

Oleh: Alfisyah S.Pd

Sebuah alasan yang tidak logis. Karena tidak disayang Istri, takmir masjid cabuli enam Anak di Atas sajadah. Polisi telah menetapkan MYD (57) sebagai tersangka dalam kasus pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur. Aksi bejat takmir masjid itu dilakukan di atas sajadah.

Kapolresta AKBP Yudhi Heri Setiawan memaparkan ada enam korban yang berusia 9 sampai 12 tahun. Aksi persetubuhan mulai dilakukan tersangka sejak tahun 2017 lalu. Terakhir pada salah satu korban tanggal 21 Februari 2021. Semua korban disetubuhi berkali-kali (DetikNews,29/3/2021).

MYD mengaku melakukan itu karena merasa tak disayang istri. Dia mengakui semua perbuatan bejatnya dilakukan dengan penuh kesadaran. Bahkan direncanakan.

Polisi menjerat MYD dengan Pasal 81 ayat 2 atau Pasal 82 ayat 1 UU RI Nomor 17 Tahun 2016, tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2016, tentang perubahan kedua atas Undang-Undang RI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancamannya, pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Kasus pencabulan ini belum usai, bahkan kian marak. Pedofilia makin merebak.Inilah gambaran sakitnya masyarakat sekuler liberal. Pelakunyapun bertambah banyak. Seiring dengan mewabahnya pornografi, pornoaksi, kurang kasih sayang hingga lemahnya iman karena tak bisa menahan hawa nafsu.

Ya, suasana saat ini memang mengkondisikan akan terpancingnya naluri seksual karena beberapa sebab di atas. Peran media baik online maupun ofline berkontribusi dalam menaikkan birahi pelakunya. Kehidupan yang tidak harmonis menyebabkan rapuhnya benteng terkecil yang bernama negara.

Apa mau dikata. Semua ini dampak sistemik dari sebuah keadaan yang buruk. Saat negara tak punya mekanisme yang kuat dalam memutus rantai pedofilia karena kebebasan berprilaku. Saat itulah seseorang merasa tak masalah jika harus mengorbankan orang dalam pemenuhan naluri seksualitasnya. Kondisi jiwa masyarakat yang sakit ini telah meluas dan cukup mengkhawatirkan.

Keberadaan hukum yang tidak tegas dan tidak membuat jera, juga menghambat putusnya rantai pedofilia ini. Negara harus tampil lebih fokus menuntaskan penyakit masyarakat ini. Sebab pemerintah lah yang memiliki akses dan kewenangan untuk menekan dan menghentikan kasus pedofilia ini.

Berdasarkan tujuan agar segera memutuskan rantai ini, negara harus memiliki hukum yang tegas yang menimbulkan efek jera bagi pelaku. Orang lainpun akan berfikir seribu kali melakukannya jika hukum yang dijadikan sebagai sanksi itu membuat jera.***

Penulis merupakan guru di Medan

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: