Ramadhan di Tengah Wabah, Momentum Kembali pada Islam Kaffah

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd

Sudah setahun lebih wabah pandemi melanda negeri, hingga hari ini permasalahan wabah Covid-19 masih menjadi fokus persoalan yang harus segera dicari solusi. Dunia masih dilema dan dibuat tak berdaya lantaran virus ini, dimana diketahui jumlah korban baik yang meninggal dunia maupun yang terkonfirmasi positif tak terhitung jumlahnya. Virus yang muncul pertama kali di Kota Wuhan China ini telah menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di indonesia, korban yang tercatat terinfeksi virus Corona ini semakin bertambah setiap harinya. Wabah ini telah mewabah hampir di 32 provinsi, dengan jumlah korban yang mengkhawatirkan. Data yang dihimpun pemerintah hingga Kamis (8/4/2021) pukul 12.00 WIB menunjukkan, ada penambahan 5.504 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 1.552.880 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, (Kompas.com).

Di tengah wabah pandemi Virus Corona masih melanda, tinggal hitungan hari umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan 1442H. Bagi umat Islam, Ramadhan adalah bulan dimana kaum muslimin diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Semua umat muslim pasti bergembira menyambut bulan yang mulia ini. Bagaimana tidak, bulan Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh berkah dan bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an.

Ramadhan merupakan bulan yang di dalamnya banyak peluang emas untuk umat Islam sebagai seorang hamba bertaubat dengan kerendahan hati kepada Allah Swt. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam beramal ibadah dan berpuasa di bulan ini, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya sehingga dia seperti baru terlahir kembali. Setiap bayi yang baru lahir dalam ajaran Islam dipandang sebagai suci, murni tanpa dosa.

Rasululah Saw bersabda, “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap Rido Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR.Ahmad 1596).

Marilah manfaatkan kesempatan emas ini untuk meraih takwa dan bersungguh-sungguh bertaubat. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Alangkah baiknya di bulan pengampunan ini, semua berburu ampunan Allah ta’aala. Terlebih pada masa pandemi saat ini, bisa jadi wabah ini Allah turunkan sebagai buah dari maksiat serta dosa umat ini yang telah jauh dari tuntunan agama.

Maka sebaiknya kaum muslimin ikuti contoh teladan manusia, dialah Nabi Muhammad Saw. Beliau dikabarkan tidak kurang dalam sehari semalam mengucapkan kalimat istighfar seratus kali. Padahal beliau telah dijanjikan oleh Allah akan dihapuskan segenap dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Bahkan dalam satu riwayat beliau dikabarkan dalam sekali duduk bersama majelis para sahabat beristighfar seratus kali. Masya Allah.

Ibadah puasa Ramadhan ditujukan untuk membentuk muttaqin (orang bertaqwa). Sedangkan di antara karakter orang bertaqwa ialah sibuk bersegera memburu ampunan Allah ta’aala dan surga seluas langit dan bumi. Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133).

Lebih jauh, mari semua untuk introspeksi diri dengan menjadikan momentum Ramadhan tahun ini menjadi titik tolak taubat bersama atas kemaksiatan dalam pengabaian hukum Allah baik bagi pribadi maupun dalam bernegara. Kemaksiatan terbesar adalah saat hukum dan aturan Allah tidak diterapkan secara kaaffah.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan pencipta-Nya, dirinya dan sesamanya. Syariah Islam yang terkait pengaturan manusia dengan Tuhannya (seperti ibadah ritual) dan dirinya sendiri (seperti akhlak) ini bisa dilaksanakan oleh individu. Meski demikian, untuk kesempurnaannya harus ada peran negara di dalamnya. Adapun syariah yang terkait pengaturan hubungan manusia dengan sesamanya (muamalah dan ‘uqibat/sanksi hukum) harus dilaksanakan oleh negara.

Misalnya muamalah yang terkait pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik, keamanan dan sebagainya. Hanya sebagian kecil aktivitas muamalah yang bisa dilaksanakan tanpa peran negara. Syariah Islam yang mengatur masalah ‘uqubat (sanksi hukum) seperti hukum hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat, mutlak harus dilaksanakan oleh negara, tidak boleh dilaksanakan oleh kelompok apalagi individu.

Faktanya, walau sebagai negeri muslim terbesar di dunia, namun rangkaian proses sekularisasi yang di adopsi oleh bangsa ini telah menjauhkan umat muslim pada Islam kaaffah. Penyebaran ide sekularisme itu berjalan seiring dengan penyebaran ide pluralisme dan liberalisme (kebebasan) serta menjadi bagian penting dari demokratisasi di negeri ini. Perlu dicatat, sekularisasi di negeri ini dan di negeri-negeri Muslim lainnya didukung oleh negara-negara Barat, mereka berkepentingan untuk melanggengkan ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Muslim, sekaligus menyingkirkan ideologi Islam sebagai rival dan ancaman utamanya.

Oleh karena itu pada bulan Ramadhan ini, selain perlu dibahas masalah ibadah dan akhlak, perlu juga disampaikan dan dikampanyekan secara gencar penerapan syariah Islam yang bersifat menyeluruh. Hal ini sebagai upaya membersihkan pemikiran umat dari ide sekularisme, sekaligus menyelamatkan umat dari bahaya propaganda sekularisme yang bermuara pada kepentingan negara-negara kapitalis, penjajah di negeri-negeri Muslim.

Islam tidak memisahkan urusan spritual dengan politik karena keduanya diatur dalam syariah Islam. Politik Islam adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri menurut syariah Islam. Karena itu dalam Islam politik merupakan perkara yang mulia. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat. Negara secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut.

Pengaturan urusan umat di dalam negeri dilakukan oleh negara dengan menerapkan ideologi Islam dengan syariahnya secara kaaffah. Pengaturan urusan umat di luar negeri dilakukan dengan cara mengadakan hubungan dengan berbagai negara, bangsa dan umat lain dalam rangka menyebarluaskan ideologi Islam ke seluruh dunia. Politik Islam, yakni pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam, tidak dapat dipisahkan dengan aspek ritual spiritual Islam.

Islam dan politik merupakan satu kesatuan dalam struktur sistem Islam. Pengertian politik seperti itu disandarkan pada hadis-hadis yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksi penguasa serta pentingnya mengurus kepentingan kaum Muslim. Politik Islam itu dijalankan langsung oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw. Sepeninggal Nabi Muhammad Saw., politik Islam secara praktis dijalankan oleh para khalifah.

Karena itu realisasi politik Islam pasca Nabi Muhammad Saw. itu terkait erat dengan keberadan para khalifah dengan sistem Islam yang menjadi aturan negara, seperti yang tampak sejak masa Khulafaur Rasyidin. Hal itulah yang diisyaratkan oleh Rasul Saw. dalam sabda beliau: “Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang ada adalah para khalifah yang banyak. (HR Muslim).

Demikianlah pengertian politik yang syar’i karena diambil dari dalil-dalil syariah. Karena itu kaum Muslim semestinya tidak memisahkan urusan spiritual dengan politik Islam. Maka besar harapannya, Ramadhan kali ini dapat menjadi momentum penting yaitu untuk, meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Swt secara totalitas. Baik dalam aspek ibadah spiritual maupun aspek politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Allah Swt telah menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna (QS al-Maidah : 3) dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia (QS an-Nahl : 89). Karena itu tidak ada yang layak untuk mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat kecuali Islam dengan syariahnya. Allah Swt berfirman: “ Jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan hari akhir (TQS an-Nisa’ : 59).

Sangat jelas, ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Artinya, kaum Muslim diperintahkan untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu ketakwaan harus diwujudkan melalui ketundukan pada syariah Islam secara menyeluruh.

Pada bulan Ramadhan ini juga seharusnya mampu memperkuat persatuan umat muslim dengan kembali pada hukum aturan Islam yang sempurna.  Karena hanya sistem aturan yang berasal dari Allah Swt yang pasti akan menjadi solusi kehidupan. Ini sudah pernah terbukti selama 1300 tahun sejarah peradaban Islam begitu mulia, mencapai puncak keemasannya, di rasakan oleh muslim dan nonmuslim. Dan di akui oleh para cendikiawan, ilmuan barat bagaimana mahsyurnya kepemimpinan Islam memimpin dunia.

Penerapan sistem Islam merupakan keniscayaan untuk mengakhiri berbagai problem dan keterpurukan yang diderita umat saat ini termasuk dalam menangani dan mengakhiri wabah pandemi Corona. Maka, Ramadhan ini harus jadikan momentum untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan ke tangan umat Islam dengan kembali pada Islam kaaffah sebagaimana kanjeng Nabi contohkan.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.***

Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: