Selasa , Mei 18 2021

Semalam di Natuna..

Asparaini Rasyad (berdasi) menghadiri pembukaan Pelatihan Jurnalis Orientasi Kehumasan untuk OPD Pemprov Riau pada tanggal 30 November 2009.

Oleh Helfizon Assyafei

Dalam keterbatasan kita sebagai manusia, tentu tidak semua orang dapat kita kenal dengan gambaran yang lengkap dan utuh. Namun meski kita tidak mengenal secara lengkap dan utuh, sepotong pengalaman saja dari orang yang kita kenal itu bisa menyimpan kenangan. Ini kisah sepotong kenangan dengan seorang yang pernah saya kenal.

Ketika itu saya baru jadi reporter. Awal tahun 2000-an. Mengikuti rombongan Gubernur Riau Saleh Djasit meninjau sebuah pasar yang baru saja terbakar di pulau Natuna. Masa itu Kepri masih masuk Provinsi Riau. Belum jadi provinsi sendiri. Rombongan itu pejabat semua. Termasuk dari Dinas PU. Rencananya pasar itu akan dibangun kembali. Di bekas pasar terbakar itu saya masih melihat sisa-sisa kayu yang menghitam menjadi arang di sana-sini.

Kami sempat bermalam di pulau itu. Di sebuah mess yang sederhana untuk ukuran pejabat teras Riau waktu itu. Dari perjalanan itulah pertamakali saya mengenal lebih dekat Asisten II Pemprov Riau waktu itu bapak Drs H Asparaini Rasyad. Beliau mudah akrab dengan lawan bicaranya. Bahkan dengan reporter baru seperti saya. Ia bisa membangun komunikasi seolah saya sudah kenal lama dengan beliau. Pengalamannya sebagai mantan Kepala Biro Humas memang membuatnya dekat dengan wartawan.

Sebagai orang biasa di antara pejabat teras tentu saya agak sedikit kikuk. Apalagi wartawan baru. Kebetulan saya saja wartawan di rombongan itu yang mengikuti sebuah kunjungan dadakan tak teragenda. Tak ada pula pejabat Humas yang sudah biasa dengan kami wartawan. Jadi saya merasa sendiri di tengah keramaian. Para pejabat itu tentu tak perlu harus peduli pada saya.

Tapi kekikukan itu segera hilang saat ia menyapa, mengajak saya ke mejanya di aula makan malam yang dikelilingi pejabat lain. Melibatkan saya dalam obrolan diantara mereka. Saya merasa tidak lagi asing. Bisa ngobrol serius, santai dan kadang juga bercanda bersama mereka di sela rehat kunjungan singkat yang hanya dua hari satu malam itu.

Saya ingat di Bandara SSK II Pekanbaru usai liputan itu, saya menunggu bus Damri untuk pulang. Sedang beliau dijemput dengan mobil sedan crown warna hitam berkilat berplat merah. Saat akan meninggalkan bandara, sedan itu merapat ke tempat saya berdiri. Kaca penumpang depannya turun dan wajah beliau muncul. Saya kira hanya menyapa.

Tapi beliau menanyakan arah rumah. Ternyata searah. Ia menawarkan naik mobilnya saja. Saya tentu menolak. Segan sekali rasanya. Tapi beliau memaksa. Paksaan yang menyenangkan yang tak ingin juga saya elakkan. Jadilah kami satu kendaraan lagi. Penuh obrolan sepanjang jalan.  Ia bahkan mengantarkan saya hingga pagar rumah ketika itu. “Salam untuk emak,” ujarnya melambai sesaat sebelum kami berpisah. Ah waktu begitu cepat. Rasanya baru kemaren, ternyata dah hampir 20 tahun juga.

Belakangan saya mendapat info beliau sakit. Dirawat RS Eka Hospital Pekanbaru. Jajaran pimpinan di kantor kami sudah sempat membezuk karena beliau masih komisaris dan juga termasuk pendiri Harian Riau Pos. Saya juga berniat akan membezuk beliau. Tapi waktu lebih dulu menghentikan niat itu ketika kabar itu datang; Ia wafat. Sore Rabu kemaren di hari baik di bulan Suci Ramadhan tahun ini. Innalililahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga husnul khotimah. Tiada sesiapa jua pun yang abadi.  Meski demikian budi baik kan terkenang jua. Selamat jalan Pak..

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: