Sabtu , Juli 31 2021

Seminar di Hari Kartini, Saadiah: Perempuan Berkontribusi Signifikan Terhadap Pembangunan

Anggota DPR RI Saadiah Uluputty saat menjadi pembicara dalam seminar memperingati Hari Kartini di Masohi, Maluku Tengah. (Foto: istimewa)

Masohi (Riaunews.com) – Anggota DPR RI Saadiah Uluputty menyebut, perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera.

“Tidak sedikit hasil kajian yang menyebut jika perempuan masih tergolong kelompok rentan yang sering mengalami berbagai masalah. Namun, seiring berjalannya waktu, perempuan mulai bangkit dan membuktikan bahwa kecerdasan serta kepiawaiannya tidak bisa lagi dianggap remeh karena berperan signifikan dan turut berkontribusi terhadap pembangunan,” tandas Saadiah Uluputty.

Pandangan ini disampaikan oleh anggota legislatif perempuan dapil Propinsi Maluku tersebut, ketika menjadi narasumber pada Seminar yang dilaksanakan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Maluku Tengah di Kota Masohi Provinsi Maluku, Rabu (21/4/2021).

Seminar yang dilaksanakan dalam rangkaian memperingati Hari Kartini, mengangkat tema ‘Dengan Semangat Kartini, Wujudkan Perempuan Mandiri, Cerdas, Sehat, dan Tangguh, Pilar kokohnya Peradaban Bangsa’.

Ratusan perempuan peserta seminar berasal dari berbagai kalangan di kota Masohi, antusias mengikuti kegiatan yang digelar di Hotel Lulu Masohi.

Selain Saadiah, seminar tersebut diisi oleh narasumber lain yakni Praktisi Pendidikan, Nurhayati dan Praktisi Kesehatan, Hapsa Salampessy,

Kepada Riaunews.com, anggota Komisi IV DPR RI ini mengurai contoh peran perempuan di dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Dia menyebut, sektor perikanan, pusat data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) 2018 mencatat sedikitnya 5,6 juta orang terlibat di dalam aktivitas perikanan. Aktivitas ini mulai dari penangkapan, pengolahan, sampai dengan pemasaran hasil tangkapan.

“Dari jumlah itu, 70% atau sekitar 3,9 juta orang adalah perempuan, pekerjaan produksi perikanan dengan waktu kerja hingga 17 jam,” tandasnya.

Bagi anggota dewan yang terkenal kritis ini, dalam skala nasional, kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi penting bagi Indonesia yang dapat berkontribusi secara signifikan sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

“Lebih mengerucut, dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender, dan pemberdayaan perempuan begitu erat kaitannya dengan memperbaiki kualitas generasi penerus bangsa. Mengingat, perempuan adalah pendidik pertama di dalam keluarga,” kata perempuan asal desa Negeri Lima Kabupaten Maluku Tengah.

Ia mengajak perempuan Maluku untuk bangkit agar meminimalisir stigma bahwa perempuan dalam posisi domestik dianggap sebagai variable terlambatnya perempuan untuk berkiprah dalam berbagai sektor. Sebagai salah satu indikatornya adalah jumlah perempuan yang memegang jabatan publik masih sangat sedikit.

“Perempuan Maluku saya ajak untuk bangkit Bersama. Maka peningkatan kompetensi menjadi keharusan agar perempuan Maluku dan mengisi ruang-ruang strategis tersebut,” tegas Saadiah.

Menurutnya keragaman lewat keterlibatan perempuan dalam proses penetapan keputusan di ruang publik akan menghasilkan value yang bermakna bagi masyarakat.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: