Selasa , Juni 22 2021

Teh Telor..

(Sebuah Catatan Akhir Pekan)

Oleh Helfizon Assyafei

Waktu kadang seperti pencuri yang mengendap-endap. Tahu-tahu sudah 25 tahun lebih saja sejak kami berpisah selesai dari pendidikan di Fekon Unri. Dan suatu pagi yang cerah mempertemukan kami di sebuah meja kedai sarapan pagi. Wajah mereka masih tak jauh berbeda dengan waktu kuliah dulu. Cuma warna rambut mulai dua; ada hitam dan ada yang putih.  Kami memesan Teh. Tepatnya lagi Teh Telor. Mengapa teh telor?

Entahlah. Kadang memilih yang begitu-begitu mungkin terbawa arus saja. Satu yang pesan begitu, yang lain ikut. Begitulah tren. Padahal teh teh telor kan kolesterol-an. Biar saja. Sesekali tak apalah. Ngobrol juga yang ringan-ringan saja. Yang berat-berat biar ‘Dylan’ saja. Biar di telvisi dan media-media saja. Tempat orang-orang hebat bicara. Tempat  Vijay Khumar si polis di pelem-pelem India yang terkenal tu mengatakan apapun. Dan media percaya saja lalu mengutipnya tanpa bertanya lagi.

Sesekali tawa lepas kami membuat beberapa pengunjung melirik kami. Mungkin sedikit geram. “Norak amat seh,” mungkin itu gumaman mereka. Melihat kami bertiga bak oligarki yang merasa kedai itu milik kami saja dan yang lain menyewa. Kami cuek. Mungkin mereka harus ‘KLB’ pula untuk bisa mendepak kami dari demkorat eh dari kedai itu maksudnya.

Topik pembicaraan pun tak pakai schedule macam di seminar. Dari utara ke selatan. Tiba-tiba belok ke barat. Seiring bertambah usia, saya perhatikan teman lama saya itu semakin arif dan bijaksana. “Manusia yang sukses itu manusia yang bermanfaat bagi orang lain Boi,” ujarnya bak filosof. Saya angguk-angguk balam saja. Seperti mendengar arahan kakak pembina. Mungkin karena ditraktir.

“Kalau hanya kaya untuk diri sendiri dan kelompok saja itu mah  mafia,” ujarnya lagi. Sebagai mantan caleg yang telah berjuang tapi belum beruntung,  ia paham politik. Jadi ketika ia membahas tipe-tipe pemimpin, saya menyimak dengan baik. Melipat tangan di meja dan menegakkan sandaran kursi (emang di pesawat ha ha). Katanya begini; tipe-tipe pemimpin itu banyak. Tapi yang bikin jengkel itu ada tiga.

Pertama, katanya  gadang ota (pembohong). Kedua, gadang sarawa. Maksudnya penakut tapi suka sok jago. Istilah ini dilekatkan pada seseorang yang bermulut besar tapi bernyali kecil, atau berjanji besar tapi tidak menepatinya. Jika disingkat jadi omdo (omong doang). Atau bacrit (banyak cerito pado yang nyato). Tukang kombur. On kason..on kason istilah di kampung mesjid sana.

Ketiga, gadang…, ini yang agak payah saya menuliskannya.  Agak sulit mencari padanannya jika dibahasa tuliskan. Ngga sopan amat.  Intinya tipe ketiga ini pikirannya hanya nafsu doank. Kalau itu sesuai nafsunya maka berapapun anggarannya tidak masalah. Tapi meskipun program itu baik tapi tak sesuai nafsunya maka program itu ditunda dulu saja.

Tapi beginilah.. biar saya coba mencari cara bagaimana menuliskan poin ketiga itu  dengan tidak vulgar. Dan anda ngga penasaran; apanya yang gadang? Kembali ke teh telor. Kalau saya terlalu bersemangat memesan teh telor lalu kelupaan mengatakan kata ‘teh’ nya…

Dah segitu aja..Happy Week End.

[fizboi]

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: