Selasa , Mei 18 2021

Terusan Suez, Kekuatan Geopolitik dan Geostrategis Khilafah

terusan suez
Otoritas terusan Suez Osama Rabie saat menyampaikan keterangan pers mengenai kandasnya kapal MV Ever Given yang memblokir jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut.

Oleh: Alfisyah Ummu Arifah

Berita tentang kapal barang super raksasa Ever Given yang terjebak di terusan Suez mengundang tanya warga dunia. Kapal dengan muatan 200 ribu ton itu berangkat dari Malaysia menuju Rotterdam. Kapal tersebut menimbulkan kemacetan selama 6 hari. Kapal-kapal yang hendak melintas dari depan dan belakang kapal raksasa itu menjadi terganggu perjalanannya. Waktu yang dibutuhkan untuk mengevakuasi isi kapal itu sampai dengan enam hari bukan waktu yang sebentar.

Kerugiannya ekonomi dunia saat itu menyebabkan banyak spekulasi. Ada yang beranggapan jika akan terjadi perang dunia ketiga. Benarkah?

Sebagai seorang muslim selayaknya tidak hanya melihat fakta ini sebagai masalah ekonomi dunia belaka. Namun mestinya menyadari bahwa itu terjadi di kawasan milik kaum muslimin. Masa khilafah yang pertama dahulu.

Kholifah umar pernah memerintahkan untuk mengeruk apa saja yang menyebabkan dangkalnya terusan suez. Gubernur Amri bin Ash melakukannya. Terusan suez inj milik khilafah. Artinya milik kaum muslimin di seluruh dunia. Terusan ini kini sangat strategis sebab memiliki 12 persen perannya dalam aktifitas pelayaran perdagangan dunia. Bukan angka yang kecil.

Pada masa khilafah Abbasiyah yakni di masa khilafah Al mansur, terusan Suez ini pernah ditutup karena ingin memblokir negara-negara yang “bandel” terhadap khilafah. Negara yang memberikan kerugian bagi khilafah dan kaum muslimin.

Dari sini sangat jelas peran pemimpin dunia kala itu yaitu kholifah dalam mengendalikan perdagangan di area ini. Kehebatan dan kewibawaan kaum muslimin kala itu sungguh diperhitungkan.Tidak seperti hari ini, dimana kaum muslimin dikangkangi dan dibantai karena posisinya yang lemah di hadapan kapitalisme dunia.

Fakta di atas menunjukkan perhatian yang luar biasa itu terhadap terusan Suez ini. Tentu semuanya agar kemaslahatan kaum muslimin tidak terkendala.

Selanjutnya pada masa Khilafah usmaniyah, perhatian besar tetap diberikan agar pengerukan tetap dilakukan agar terusan berfungsi baik terutama pada musim dingin. Namun di akhir khilafah usmani Mesir mulai lengah.

Mesir pun kemudian bekerjasama dengan Prancis dalam pengelolaan terusan ini. Prancis mendapatkan porsi besar dan benefit dari kerjasama ini. Tentu setelah khilafah usmani runtuh, banyak negara berambisi ikut campur tangan agar mereka menjadi pemilik terusan ini. Setelah itu kita pasti sudah bisa menebak perebutan banyak negara pada terusan ini. Benefit dan keuntungan yang sangat besar dalam perdagangan dunia Internasional menjadikan terusan ini sebagai primadona dunia.

Kerjasama Mesir dengan Prancis dan Inggris itu terjadi hingga tahun 1956. Tentu saat itu khilafah sudah tidak ada. Namun pada tahun itu juga presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menasionalisasi terusan ini. Dunia kemudian menyerang Mesir termasuk Inggris, Prancis dan Israel.

Hal yang terjadi kemudian justru sangat mengejutkan. Israel melalui kapal-kapalnya melintas dengan santai di kawasan ini.

Pakar politik dunia saat itu melihat semacam ada kompensasi dari Mesir atas Israel sehingga kapalnya bisa melintas di terusan ini. Artinya telah terjadi perubahan pemilikan atas terusan ini meskipun tidak sepenuhnya. Namun perlakuan Mesir pada Israel berbeda dengan negara yang lainnya. Semua itu tentu saat khilafah tak lagi diperhitungkan karena sudah runtuh.

Israel dan negara-negara di dunia telah menginjak milik dan kehormatan kaum muslimin. Terusan Suez kehilangan posisi geostrategis dan geopolitiknya sebagai milik khilafah.

Hingga hari ini terusan ini menjadi milik dunia. Sementara kaum muslimin di belahan dunia manapun hidupnya sengsara, menderita, teraniaya, terusir dan mengalami ketidakadilan. Terusan Suez itu akan kembali menjadi milik kaum muslimin jika dan hanya jika Khilafah itu kembali lagi. Saat ini sedang diperjuangkan.

Semoga tidak lama lagi. Niscaya kehormatan kaum muslimin dan kekuatannya ditakuti lawan dan disegani lawan. Terusan suez menjadi saksi bahwa Khilafah pernah ada, memang ada dan insya Allah akan ada dan kembali lagi. Aamiin.***

Penulis Merupakan Guru dan Pegiat Literasi Islam

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: