Tiga Pertanyaan..

By Helfizon Assyafei

Saya mendengar cerita ini dari tuan guru. Tentang seorang lelaki sederhana yang wara’. Wara’ artinya menjaga diri dari dosa (besar maupun kecil). Menghabiskan malamnya dengan sholat dan siangnya dengan kerja keras mencari nafkah. Menjaga pandangan dan lisannya dari hal yang sia-sia. Suatu kali tuan guru yang biasa memberi ceramah setiap subuh di masjid tempatnya tinggal tidak hadir. Jamaah memintanya menggantikan. Ia menolak. Jamaah memaksa.

Sesaat setelah mengucap salam di atas mimbar, ia terdiam. Lama sekali. Seperti tak tahu apa yang hendak ia katakan. Hanya airmatanya mengalir. Dan entah mengapa getaran hatinya itu menulari ruangan. jamaah pun ikut menangis. Lalu ia mengucap salam untuk keduakalinya dan ia kembali ke tempat. Tanpa sepatah katapun. Tak ada ceramah subuh itu. Lalu perwakilan jamaah mendatanginya dan bertanya, mengapa?

Lalu ia balik bertanya pada perwakilan itu. “Kelak ketika ajal menjemput saya, apakah saya akan mati dalam kebaikan (husnul khotimah) atau dalam keburukan (su’ul khotimah)?” ujarnya. “Tidak tahu,” ujar si perwakilan. “Kelak ketika di kubur bisakah saya menjawab pertanyaan malaikat penanya?” ujarnya lagi. “Tidak tahu,” ujar si perwakilan.

“Kelak ketika setiap orang menerima catatan amal baik dan amal buruk di mahkamah Ilahi, catatan apakah yang akan saya terima?” ujarnya . “Tidak tahu,” ujar si perwakilan. “Itulah sebabnya saya tak bisa berkata-kata di mimbar itu,” ujarnya.

Lama saya ingat kisah ini. Tentang kerendah-hatian orang yang soleh. Kisah itu layaknya cermin. Tempat saya, anda, kita semua bisa bercermin pada diri orang yang jauh lebih baik dari kita. Lebih soleh. Lebih berilmu tetapi tetap rendah hati. Tidak ada yang lebih takut pada Tuhannya kecuali ulama (orang yang berilmu).

Lelaki itu bernama Ibrahim bin Adham. Seorang sufi besar yang namanya melintasi abad demi abad.

Pekanbaru, 9 April 2021

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: