Jumat , Juli 30 2021

Tragedi Nanggala: Ironi Alutsista Indonesia

Kapal selam milik TNI AU KRI Nenggala sudah 72 jam tenggelam dan belum diketahui posisinya. (Foto: Antara)

Oleh : Alfiah, S.Si

Innalillahi wa innailaihi raajiuun.. Indonesia kembali berduka. 53 orang putra terbaik negeri dinyatakan gugur. KRI Nanggala-402 yang dibuat tahun 1977 di Jerman hilang kontak di perairan utara Pulau Bali, Rabu 21 April 2021 waktu subuh.
Kapal selam milik TNI AL itu hilang kontak saat melaksanakan misi latihan penembakan torpedo. Posisi terakhir kapal selam berusia 40 tahun itu berada di 50 mil atau 95 kilometer utara Pulau Bali. TNI pun langsung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari keberadaan KRI Nanggala 402. Kapal selam TNI AL itu tenggelam di kedalaman 850 meter di perairan Bali utara (liputan6.com).

Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati menuturkan, insiden ini merupakan kecelakaan kapal selam pertama yang terjadi di Indonesia. Senada dengan Nuning, Pengamat Militer, Connie Rahakundini Bakrie mengatakan bahwa insiden ini merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Menurut dia, kapal selam merupakan alutsista yang jarang sekali mengalami kecelakaan.

Ada beberapa faktor yang diduga menyebabkan KRI Nanggala 402 mengalami accident, antara lain karena usia, pemakaian, dan perawatan. Connie mengungkapkan mestinya alutsista untuk fungsi latih dan operasi berbeda. Sementara fungsi alutsista Indonesia masih tumpang tindih karena keterbatasan.

Dosen Universitas Pertahanan Indonesia ini juga menyoroti jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia. Menurut dia, armada yang dimiliki TNI AL saat ini masih jauh dari jumlah ideal untuk menjaga pertahanan laut Indonesia. Apalagi kapal yang dimiliki tidak mungkin digunakan dalam waktu bersamaan secara terus menerus.

Connie berharap peristiwa ini menjadi momentum bagi semua pihak, tak hanya pemangku kebijakan, tapi juga seluruh bangsa untuk merenung dan berbenah. “Bahwa TNI yang tercinta ini ternyata masih berjuang demi bangsa ini dengan segala keterbatasan. Salah satunya keterbatasan yang dimiliki oleh kapal selam ini”.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto Wahyuwidayat juga menyoroti kualitas alutsista TNI yang sudah usang. Menurut dia, insiden hilangnya kapal selam yang didatangkan dari Jerman pada 1981 ini menunjukkan bahwa alutsista TNI butuh peremajaan.

Negara Besar Memilliki Industri Militer

Indonesia yang merupakan negara maritim selama ini memang belum memprioritaskan industri militer dalam negeri. Kebutuhan alutsista masih tergantung dengan negara luar.

Padahal untuk menjadi negara kuat dan disegani baik lawan maupun kawan adalah kemandirian dan kecanggihan alutsista suatu negara. Baik dalam kondisi aman maupun perang, industri militer tetap harus menjadi perhatian.

Agar suatu negara memiliki kontrol atas semua masalah perang dan militer serta jauh dari pengaruh negara lain, negara harus mendirikan industri persenjataannya sendiri dan mampu mengembangkan persenjataan sendiri. Dengan begitu, negara memiliki kendali atas dirinya sendiri untuk mengukuhkan kekuatannya.

Negara juga harus memiliki dan menguasai persenjataan yang paling canggih dan paling kuat sekalipun. Dengan begitu, semua bentuk dan tingkat kecanggihan persenjataan yang dibutuhkan negara dapat dikuasai hingga akhirnya bisa menggentarkan musuh-musuh negara, baik musuh yang nyata maupun musuh laten.

Tak bisa dipungkiri memang, karena lemahnya sistem pertahanan Indonesia, banyak pihak baik negara maupun kelompok ingin menguasai dan mengobok-obok kedaulatan negeri ini.

Ditemukannya pesawat drone di perairan laut Indonesia beberapa waktu lalu, seringnya kapal asing masuk perairan Indonesia dan mencuri ikan Indonesia, semakin menjadi-jadinya KKB di Papua dan sebagainya, mengkonfirmasi bahwa pertahanan Indonesia masih sangat lemah sehingga diremehkan oleh kelompok atau negara yang berkepentingan ingin menguasai negeri ini. ***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: