Selasa , Mei 18 2021

Ziarah

Oleh Helfizon Assyafei

Sekali setahun menjelang bulan suci Ramadhan ramai peziarah mendatangi makam keluarga mereka. Menyambungkan silaturahmi dengan doa-doa. Ini juga jadi hari penting bagi berkumpulnya keluarga yang masih hidup dan bersama-sama mendoakan mereka yang sudah tiada di dunia ini. Tapi tetap hidup di hati mereka masing-masing.

Tahun ini bagi saya ada yang berbeda. Biasanya kami datang ke makam ayah dalam formasi lengkap kakak-beradik. Menjemput mereka dari rumahnya masing-masing lalu bersama-sama ziarah. Tapi kali ini satu diantara kami tak lagi bersama. Enam bulan lalu, kakak saya yang kedua wafat.  Rasa tak percaya tapi nyata. Usai berdoa di makam ayah saat hendak pulang saya bertemu teman beliau semasa SMP dulu yang juga menziarahi makam keluarga. Ia turut menyampaikan dukacitanya.

Kata makam dan dukacita seperti dua sayap kesedihan yang selalu terbang di atas kepala manusia yang hidup. Bisakah kita memandang kematian sebagai suatu yang bukan dukacita? Kata tuan guru bisa. Justru kalau kita abadi di dunia ini maka dunia jadi tak indah lagi. Seperti telur, kesempurnaannya menjadi anak ayam saat ia keluar dan meninggalkan telur itu ketika menetas. Datang dan pergi.

Soal ini Prof Dr Komarudin Hidayat pernah menjelaskan dalam bukunya. Apa peristiwa yang paling kita rindukan dalam hidup? Jawabnya; peristiwa pulang. Pulang sekolah, pulang kerja,  pulang dinas, pulang kampung. Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan, dunia ini tempat bercocok tanam. Sedang masa panennya di akhirat nanti.

Jadi sesungguhnya, berbagai rumah megah yang ada di dunia ini tak ubahnya bangunan gubuk penunggu sawah karena satu saat nanti mesti ditinggalkan pemiliknya. Bayangkan setelah capek kerja di sawah maka pulang menjadi suatu yang dirindukan. Menurutnya ‘pulang’ dari dunia ini juga begitu. Kembali kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Sama seperti sawah. Bila kita garap dengan serius maka kita berbahagia saat masa panen tiba. Sebaliknya kita sedih bila sawah kita abaikan lalu masa panen tiba. Orang lain mendapat kita tidak. Mereka yang taat saat pulang akan mendapatkan ketentraman, kebahagiaan dan surga yang penuh kenikmatan (QS Al-Waqi’ah: 89).

Jadi berbahagialah mereka yang memiliki pandangan hidup, tujuan, dan keyakinan yang jelas bahwa Allah adalah tempat kembali (ilaihi rojiun). Lalu mereka mempersiapkan bekal untuk peristiwa kepulangannya. Sehingga kepulangannya itu dimaknainya sebagai hari wisudanya atau datangnya hari panen. Hari bahagia.  Jadikan hidupmu ketika lahir orang tertawa dan engkau menangis. Dan jadikan pulangmu engkau tertawa dan orang menangis.

Tanpa kesadaran ini maka hidup bisa seperti kata pujangga; hanya menunda kekalahan. Sebab kematian bukan lawan seimbang buat kita. Ia pasti menang. Tapi bagi yang memiliki visi, bagi mereka hidup adalah kesempatan beribadah dan berbuat baik. Kemudian mati adalah masa panen. Dua-duanya baik. Semoga..

[helfizon assyafei]

Marhaban ya Ramadhan..

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: