Jumat , Desember 3 2021

Amalan Rahasia

Pilot dan kru kabin sebuah maskapai penerbangan melaksanakan shalat sebelum menerbangkan pesawat.

Oleh Helfizon Assyafei

Sebuah nada sambung telepon dari tanah air. Pegawai yang bekerja di Mesir itu harus pulang hari itu juga ke Indonesia karena ibunya sakit keras. Tak berapa lama ia sudah dibandara. Tiket sudah di tangan. Beberapa saat sebelum masuk ke pemeriksaan paspor baru sadar paspornya lupa diperpanjang alias sudah mati. Ia terdiam. Pucat dan tahu ia takkan bisa berangkat.

Tak disangka ia berjumpa di Bandara itu mantan menteri agama RI Prof Dr Said Aqil Munawar. Ia mengenal si prof dan menceritakan masalahnya. Lalu mereka bercakap-cakap sebentar. Kemudian meski terlihat ragu si ibu tadi memutuskan untuk ikut antri pemeriksaan paspor sebelum berangkat. “Terus saja jangan lihat ke belakang,” kata si Prof. Dan lolos.! Si ibu akhirnya jadi terbang hari itu juga ke Indonesia. Kok bisa?

Ternyata ada suatu amalan ayat Alquran dibaca berulang-ulang yang diberikan si Profesor Tafsir Quran itu kepadanya. “Hanya bisa digunakan dalam keadaan mendesak,” ujar si Profesor itu saat memberi kuliah di S2 di sebuah universitas. Saya dapat cerita ini dari peserta yang mengikuti kuliah sang profesor itu.

Pengalaman khusus begini biasanya bersifat personal. Di luar kelaziman. Seperti yang pernah dialami Ustad Jefry Al Buchori (alm) sewaktu beliau masih belum bertaubat dan asyik dengan dunia malam keartisannya. Dalam sebuah buku yang ditulis Haidar Musyafa berjudul “Tuhan aku kembali” yang mengisahkan perjalanan Uje, sebuah pengalaman personal uje dituliskannya.

Uje pernah koma di sebuah RS usai pulang dari sebuah pesta dugem. Orang-orang melihat uje hanya seperti tidur saat di opname. Tapi yang sesungguhnya dialami uje bukan seperti yang orang lihat. Uje menceritakannya. “Tiba-tiba saja ketakutan datang menyergapku. Aku melihat seakan-akan ada gerombolan orang yang mencoba mendekatiku membawa kayu dan palu. Aku ketakutan dan berteriak-teriak karena ketakutan,” ujarnya.

“Dalam mimpi itu,” lanjutnya “aku melihat bagaimana jasadku disiksa habis-habisan oleh gerombolan yang mengerikan itu. Berwajah sangar dan tubuh menyala-nyala. Dipukul, dicambuk, dilempari batu tanpa ampun. Aku hanya bisa berteriak-teriak dengan rasa sakit tak tertahankan,” ujarnya. Pasca kejadian itulah Uje bertaubat dan akhirnya menjadi ustad kondang tanah air. Sebuah pelajaran berharga dari sebuah pengalaman personal.

“Yang aku takutkan, aku harus tidur dan tak pernah bangun lagi. Sementara amalku belum cukup. Ibadah ku ngga karuan. Masih ada orang-orang yang hatinya tersakiti karena aku. Semoga saja masih ada sisa umurku yang manfaat,” ujar Uje usai menceritakan pengalamannya itu. Tidak semua kita punya pengalaman personal sampai seperti itu. Tapi kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Dalam hal-hal yang bersifat metafisik (ghaib) pilihan kita hanya dua; percaya atau tidak. Sebab tak bisa diindrawi. Tapi begini bro, percaya atau tidak semua kita kelak akan memasuki dunia ghaib tersebut lewat kematian. Jadi kalau kita baru percaya di sana (maksudnya ketika sudah di dunia ghaib itu) maka terlambat sudah. Kalau mau percaya di sini. Sekarang ini. Itulah yang disebut iman. Percaya pada akhirat. Berbuat baik disiini untuk jadi bekal ketika di sana. Satu bekal besar itu adalah 10 hari penutup Ramadhan. Jangan lewatkan brader.

O ya, saya penasaran dan bertanya pada peserta kuliah S2 yang menceritakan kejadian di Bandara Mesir itu. Apa sih amalannya? Lalu ia menatap saya dan berkata. “Itu untuk orang yang terdesak boi, bukan untuk orang yang suka mendesak?” ujarnya. Alamaak…

[helfizon assyafei]

Pekanbaru, 2 Mei 2021

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: