Minggu , Desember 5 2021

Doakan saya…

Oleh Helfizon Assyafei

Wajahnya tak memperlihatkan raut kelelahan. Meski baru saja kembali dari luar kota. Belum sempat istirahat malam itu sudah harus mengisi tausiah pula. Dini hari ia sudah berada di tengah-tengah kami. Ia Pernah beberapa tahun tinggal di Makkah dan Mesir menuntut ilmu. Ia menatap kami dan berkata. “Jika ada diantara kita yang bertemu dengan malam lailatul qadar malam ini atau malam-malam yang akan datang, jangan lupa doakan saya,” ujarnya. “Sebutkan nama saya. Kalau lupa bayangkan wajah saya,” ujarnya lagi.

Jantung saya berdegup mendengar kata-katanya itu. Seorang lelaki soleh. Pendakwah yang saya kagumi. Menghabiskan usia mudanya dengan belajar agama. Kemudian setelah itu sebagian besar waktunya berjuang mendidik umat dari satu tempat ke tempat lain. Menunjukkan jalan kebaikan. Yang senantiasa melakukan ibadah mulia (mengajak pada ketaatan), tiba-tiba minta doa pada kami pendengarnya?

Saya tak habis pikir.  Selama ini yang saya tahu orang biasa seperti saya yang selalu diajarkan agar senantiasa minta didoakan oleh orang soleh. Tapi di majlis dinihari tadi orang soleh di depan kami itu terang-terangan minta doa pada kami orang awam? Apakah saya tidak salah dengar atau si ustadnya yang salah ucap?

Tertanyata tidak. Baru saya tahu setelah ia melanjutkan kata-katanya. “Tuan-tuan sekalian. Kata Nabi orang yang terbaik di antara kita adalah orang yang paling bertakwa. Persoalannya siapa yang paling bertakwa kita tidak saling mengetahui. Karena kata Nabi letak takwa itu di sini..(sambil menunjuk dada),” ujarnya.

Jadi, lanjutnya, ukuran orang terbaik itu bukan pada panjang jubahnya, janggutnya, sorbannya, bukan pula pada ilmu atau status ustad, buya, dan juga  bukan nama besarnya. Tapi ketakwaannya. “Mungkin anda hanya orang biasa. Tapi ketakwaan anda yang tulus kepada Tuhan membuat derajat anda bisa lebih tinggi dari status dan label apapun yang disandang manusia lain,” ujarnya lagi.

Bilal hanya seorang budak mulanya, lanjutnya lagi. Bukan intelektual. Bukan ustad dan kiai. “Tapi bunyi alas kakinya sudah terdengar di surga saat Nabi melintas pada perjalanan Isra’ Mi’raj,” ujarnya lagi. Ketulusannya berbakti pada Allah membuat ia sudah mulia bahkan sebelum dimerdekakan dari status budak itu. Derajat kita di hadapan-Nya bukan dari status duniawi kita. Tapi dari bakti kita.

“Jadi berbaktilah dengan tulus pada Allah apapun status anda. Bangunlah di tengah malam ketika banyak orang berat untuk turun dari tempat tidurnya. Sujudlah. Minta ampunlah. Maka kita akan dapat makam (tingkatan) mahmuda (yang terpuji),” ujarnya lagi. Saat sesi instropeksi diri (muhasabah) ia bertanya pada kami semua. “Bukankah kita bisa muhasabah sendirian saja tanpa harus berjamaah?”

Lalu ia jawab sendiri. “Itu karena kita belajar membersihkan jiwa kita yang kotor. Orang yang jiwanya bersih kalau beribadah dalam kesendirian air matanya mudah mengalir. Sedang kita? Sudah ramai-ramai begini pun masih sulit menangis. Dosa-dosa membuat hati kita keras. Andai saja kita tahu kubur itu adalah pertanda pertama nasib kita selanjutnya baik atau buruk, maka kita akan menangis.

Mungkin ketika di dunia kita dipanggil dengan sebutan ‘bapak/ibu yang terhormat’. Begitu mati ternyata malaikat memanggil kita ‘Hei kau yang tercela’. Siapa yang tahu?” ujarnya. Mengira diri soleh ternyata salah. Maka selalulah bertaubat. Jangan merasa dirimu suci,” ujarnya.

“Saya mungkin ustad tapi itu bukan berarti saya lebih takwa dari anda. Dari pendengar saya. Bisa saja ketakwaan bapak/ibu lebih baik sehingga membuat bertemu dengan malam qadar. Jadi, jika bapak-ibu bertemu malam qadar jangan lupakan saya..doakan saya..doakan saya,” ujarnya terisak.

[helfizon assyafei]

Pekanbaru, malam 24 Ramadhan 1442 H

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: