Sabtu , Mei 8 2021

Moedik

(kartun: kontan)

Oleh Helfizon Assyafei

Saya hanya menyimak. Obrolan santai lepas tarawih. Kadang di teras masjid. Usai tadarus sebelum pulang. Topiknya bisa berbagai hal. Kali ini temanya soal mudik. Mengapa dilarang? Supaya wabah tidak menular, kata yang lain.

Menurut akang Sobri, sekarang aja belum lagi mudik udah pada penuh RS oleh pasien C-19. Padahal belum ada iven kerumunan seperti di India. Kok mudik yang disalahkan dan dilarang-larang? Justru si India yang datang ke sini dibiarkan? Kan ruwet kan?

Toh dulu waktu acara pergantian tahun baru boleh-boleh saja orang pergi dari dan ke luar kota. Dan ndak apa-apa. Ngga meledak penghuni RS karena aktivitas itu. Kok tiap kali mo Idul Fitri saja si virus getol betul ber-aksi. Bermutasi. Mengancam. Menakuti. Menggertak. Dan membuat zona jadi merah lagi, lagi dan lagi. Macam si virus tak senang betul dengan momen yang satu ini.

Sementara ketika terjadi kerumunan di KLB Demokrat misalnya, atau di acara-acara yang dihadiri orang-orang besar yang hebat lagi penting  semisal pernikahan anak artis terkenal tak terdengar habis itu angka pasien jadi meningkat. Kok si virus bisa membedakan ini acara orang penting; ya silakan. Ini acara orang kecil; mari bubarkan.

Dari yang saya simak adalah begitu kuatnya keinginan mudik banyak orang. Dan sulit menerima alasan normatif demi memutus mata rantai itu. Sebab mudik sekali setahun itulah momen yang hari demi hari mereka nantikan. Menabung untuk itu. Para pekerja misalnya. Dirinya terikat oleh aturan ini dan itu. Pas lebaran itulah setidaknya merasa kembali jadi manusia dengan mudik dan bertemu keluarga dan teman lama di kampung.

Saya tercenung juga dengar obrolan ini. Sebab ingatan saya melayang pada orang-orang yang saya kenal yang sempat jadi penyintas C-19. Mereka rata-rata taat prokes. Terdidik. Bahkan juga profesional. Tahu menjaga diri. Selalu menghindari kerumunan. Kadang sampai tidak ke masjid demi menghindari kerumunan apalagi mudik. Rajin mencuci tangan. Tapi kena juga.

Sebenarnya yang bikin jengkel itu bukan karena mudik itu dilarang. Tetapi karena hanya mudik yang dilarang dengan serius. Sementara terhadap yang lain larangannya ngga serius-serius amat. Ngga sampai bangun posko sana-sini. Tapi ya udahlah. Namanya juga obrolan orang kecil. Ngga perlu baper. Sebab ngga ngaruh juga sih. Hanya semacam forum curhat tanpa solusi. Fungsinya hanya mengurangi tekanan batin saja. Jaaadilah.

Apalagi orang kecil tahu kok kalau orang besar itu hebat. Pasal satu, orang besar tidak pernah salah. Pasal dua, kalau orang besar salah kembali ke pasal satu. Soal mudik cuma satu pasalnya; dilarang. Onde mande cusdei..Andaikan kau tahu jeritan hati seorang sopir akap/akdp pak, entahlah..ayi yayo indak bapiti…

[helfizon assyafei]

1 Mei 2021

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: