Selasa , Agustus 3 2021

Pergi yang Tak Kembali

Ustaz Tengku Zulkarnain.
Ustaz Tengku Zulkarnain.

Pertamakali mengenalnya tujuh belas tahun lalu. Lewat buku yang ditulisnya. Satu diantara judul buku itu; Salah Faham Penyakit Umat Islam Masa Kini (jawaban atas buku Rapot Merah AA Gym) terbitan 2014. Tertera nama penulisnya Tengku Zulkarnain.

Saya membacanya perlahan. Saya menemukan kecerdasannya membangun argumen. Membangun kesadaran bahwa jangan mudah memvonis sesama itu salah atau sesat hanya karena berbeda pendapat.

Ketika itu ia membela AA Gym yang diserang oleh sesama Islam yang berbeda pandangan. Yang menuding AA Gym dan pengikut Manajen Qolbu (MQ) berpeluang besar terseret pada kesesatan.

Menurutnya ada sekelompok kecil umat Islam yang selalu bersuara lantang mengobarkan permusuhan dan kekerasan hati dengan sesama muslim juga dengan non muslim. Dia menyebut itulah kaum religius phobia. Sakit jiwa.

Bahkan ketika itu ia berseberangan paham dengan Habib Rizieq Syihab. Menurutnya Islam itu harus rahamatallilalamin (penuh kasih sayang). Bukan suka menonjolkan kekerasan, kebencian dan kemarahan.

Bertahun setelah itu saya tak lagi mengikuti perkembangan pemikiran beliau. Sampai kemudian di era medsos kembali saya melihat aktivitas beliau. Pembelaannya atas ketidakadilan yang menimpa umat Islam muncul di tulisan-tulisannya.

Ia bertransformasi pada saat yang tepat. Dari penuh kelembutan di era politik yang damai jadi tegas. Pada saat kezaliman ada ia tampil kritis, oposisi dan bahkan garang. Tak jarang saya melihat ia dikeroyok buzzer dengan celaan dan cacian yang tak beradab tiap kali beliau menyampaikan pandangan dan pemikirannya di twitter.

Ia bergandengan tangan dengan HRS dan ulama-ulama yang dulu berseberangan dengannya dengan satu tekad melawan ketidakadilan yang dirasakan. Berbagai julukan ejekan tak lepas darinya mulai dari Kadrun (kadal gurun) hingga kata tak pantas lainnya. Meski demikian sebanyak orang benci sebanyak itu pula orang suka dan mendukungnya.

Ia jadi model ulama yang apa adanya. Tidak merunduk-runduk pada kekuasaan. Tidak takut mengatakan kebenaran walaupun pahit. Dilarang ceramah di sejumlah tempat dialaminya. Ia tahu kapan jadi ulama lembut rahmatallilalamin dan kapan harus tegas.

Dari kiprahnya saya jadi tahu ternyata beliau seorang multi talenta.

Seorang ulama yang seniman. Bisa bermain alat musik. Pandai bernyanyi. Mahir pula bersyair dan spontan berpantun. Dia bukan Cuma ulama tetapi juga pujangga.

Saya terkesima mendengar petikan gitarnya saat diminta Fadli Zon di acara talkshownya saat sang Ustad membawakan lagu Barat Angela karya Jose Feliciano. Ia bawakan dengan english yang fasih dan petikan gitar dengan tingkat keterampilan yang luar biasa. Saya juga bisa main gitar tapi masih jauh di bawah beliau.

Ia juga mendendangkan syair Tauhid yang mengagumkan itu. Dari sebuah pelajaran rumit dan mendalam di tasawuf bisa jadi sebuah dendang ringan menghibur dan menambah pengetahuan.

Saya beruntung suatu kali di Hotel Ayola Panam tak sengaja bertemu beliau dan timnya yang sedang safari dakwah di Pekanbaru. Bergegas saya menghampiri beliau meraih tangan beliau dan menciumnya. Kami ngobrol ringan sejenak.

Ah, rasanya tak percaya itulah perjumpaan pertama sekaligus terakhir saya dengannya. Mendengar berita beliau wafat kemarin terasa ada yang patah di hati saya. Belum reda pahitnya kehilangan Arifin Ilham, Syehk Ali Jaber kini satu lagi benteng moral meninggalkan kita. Pergi yang tak kembali lagi.

Kepergian ulama adalah sebuah kehilangan besar. Bagi saya beliau adalah seorang yang berjuang tidak saja lewat kata tetapi juga lewat sikap dan perbuatan nyata. Peduli pada apa yang dirasakan orang banyak. Beliau pergi di hari baik bulan baik. Semoga bahagia di sana. Selamat jalan tuan guru.

Tapi tak apalah. Tidak ada jua yang abadi. Pada akhirnya yang mengucapkan dan menerima salam perpisahan akan sama; sirna. Hanya DIA yang MAHA ABADI..

[helfizon assyafei]

Penghujung Ramadhan 1442 H

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: