Selasa , Juli 27 2021

Delpedro Marhaen: Ade Armando ‘Pion’ Jokowi yang Selalu Membela Rajanya

Debat panas antara Delpredro Marhaen dari Blok Politik Pelajar dengan Ade Armando yang mengecam BEM UI karena mengkritik Jokowi.

Jakarta (Riaunews.com) – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando menilai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia kurang riset terkait kritik soal ‘Jokowi king of lip service’. Dia lantas mempertanyakan apa bukti Jokowi pintar berkata-kata?

Mulanya, Ade mengatakan kritik yang dibuat oleh BEM UI itu sesuatu yang sah dalam berdemokrasi. Namun, menurutnya, cara kritik yang mereka sampaikan tidak pintar.

“Apa yang disampaikan BEM UI itu adalah sesuatu yang seharusnya memang dilindungi, sesuatu yang sah dalam demokrasi. Tapi pada saat yang sama, karena mereka menyerang Pak Jokowi dengan cara yang menurut saya tidak pintar, maka sebagai seorang anggota sivitas UI harus menyatakan bahwa nggak beres nih kalian cara berpikirnya,” kata Ade dalam debat virtual, Senin (28/6/2021).

“Mereka mengatakan bahwa Pak Jokowi adalah raja munafik, tukang bohong, nawarul orang Sunda bilang. Saya akan bilang, boleh, tapi apa buktinya?” sambungnya.

Ade melihat kritik yang disampaikan BEM UI lemah secara logika. Salah satu kritik yang dinilai rendah secara logika terkait dengan revisi Undang-Undang (UU) ITE.

“Nah mereka kan menyajikan serangkaian bukti. Singkat saja ada UU ITE, ada KPK, ada UU Ciptaker ada penangkapan, pembubaran para demonstran. Saya melihat keempat-empatnya, walaupun dengan derajat yang berbeda-beda, itu lemah secara logika. Misalnya yang paling gampang UU ITE. Nih kayaknya anak BEM risetnya nggak baca apa yang dibuat oleh pemerintah dalam menyajikan revisi UU ITE,” ujarnya.

Ade mengatakan sejak awal Presiden Jokowi telah meminta UU ITE direvisi karena telah banyak memakan korban. Hingga akhirnya, kata Ade, pemerintah mengeluarkan pedoman terhadap pasal-pasal yang dinilai memberangus kebebasan berpendapat.

“UU ITE ini adalah sebuah UU yang sudah memakan korban banyak dan kemudian justru di saat inilah pak Jokowi sejak awal itu minta agar ini direvisi. Tapi UU DPR menolaknya. Kemudian keluarlah sekarang usulan revisi dan sebelumnya ada pedoman tentang UU ITE yang dikeluarkan Mahfud Md bersama Jaksa Agung dan Polri. Yang secara jelas justru menawarkan revisi terhadap pasal-pasal yang selama ini memberangus kebebasan,” tuturnya.

“Contoh kalau saja ini sudah keluar 2-3 tahun lalu, orang seperti Jerinx itu tidak akan masuk penjara, orang seperti Ahmad Dhani tidak akan masuk penjara, orang seperti Nuril Baiq tidak akan pernah diadili. Karena pasal-pasal dalam UU ITE yang asli, yang dikritik yang dipersoalkan oleh pemerintah itu mengandung pasal-pasal sedemikian karet, sedemikian interpretasi sehingga lazim digunakan oleh orang untuk memberangus kebebasan berbicara. Itu adalah salah satu contoh menurut saya yang menunjukkan tim BEM ini nggak ngerti apa yang dia kritik,” jelasnya.

Sementara itu, Blok Politik Pelajar, Delpedro Marhaen, balik mempertanyakan maksud ‘tidak pintar’ yang dilontarkan Ade kepada BEM UI. Dia menyebut Ade hanya membahas salah satu kritik BEM UI terkait UU ITE yang menurutnya bisa dilihat dari dua sisi kacamata yang berbeda.

“Dari cara komunikasi beliau sudah salah karena membilang kritik yang dilakukan tidak pintar, di poin pertama tadi dia bilang kritiknya tidak pintar. Nah saya mau nanya kritik tidak pintarnya apa? Mas Ade hanya bahas di UU ITE yang itu ada di dua sisi, cari celahnya di situ,” ujarnya.

Delpedro kemudian menjelaskan ada beberapa poin kritik yang disampaikan BEM UI, salah satunya ucapan Jokowi yang kangen didemo mahasiswa. Namun Delpedro menyayangkan hal itu sekadar ‘lip of service’. Sebab, kenyataannya, banyak mahasiswa yang ditangkap saat berdemonstrasi.

“Yang kedua, di konten UI ada beberapa poin, misalnya yang tadi bilang soal represi ketika kangen didemo. Mas Ade nggak tahu ketika teman saya diangkut polisi, saya nemenin ke Polda. Nah Mas Ade nggak tahu itu. Padahal apa, Jokowi bilang mau didemo. Artinya apa, di situ kan ‘lip of service’-nya benar,” ucapnya.

Delpedro menilai Ade Armando sebagai seorang pembual. Delpedro juga menyebut Armando sebagai ‘pion’ Jokowi yang selalu membela rajanya.

“Nggak salah kalau yang dipujanya itu Jokowi ‘king of lip service’ pembual begitu, ya pasti pion-pionnya juga jago membual begitu kayak Mas Ade,” katanya.

Selain itu, Delpedro menyatakan bahwa semestinya Ade yang membuat papar saat membantah tudingan dari BEM UI soal Jokowi: King of Lip Service.

“Harusnya Ade Armando sebagai dosen melawan konten materinya BEM UI kemarin ya dilawan, kenapa gak pakai papar, kenapa gak pakai akademik? Malah dengan bikin Twit?” katanya.

Delpedro menuding bahwa nyali Ade tak sebesar cuitannya di Twitter. Pasalnya cuitan dengan ucapan yang dilontarkan Ade saat debat justru tak seirama.

“Jadi seakan-akan dia bikin Twit, rame semua. Dia diserang kanan kiri, terus akhirnya sekarang kaya ciut, kaya bilang ‘nggak ini harus terbuka, ini aman, ini ini'” katanya.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: