Jumat , Juli 30 2021

Kasus Covid-19 Kembali Mengganas, Dimana Tanggungjawab Negara?

Khadijah Nelly, M.Pd

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd.

Sangat disayangkan, gelombang baru peningkatan kasus Covid-19 lonjakannya kembali dirasakan hari-hari ini, bukan hanya di Jakarta, tapi di berbagai wilayah di Indonesia terjadi tren peningkatan kasus yang sama.

Diberitakan, dalam beberapa hari terkahir ini kasus positif Covid-19 berkisar di angka 8.000-an. Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, jumlah kasus positif bertambah 8.161 orang dalam sehari. Sehingga, total kasus Covid-19 hingga saat ini mencapai 1.927.708 orang (16/6/2021).

Merespon kejadian ini, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar mengingatkan masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehetan secara ketat dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Hal ini disampaikan Muhaimin berkaca dari melonjaknya kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia.

“Tetap injak rem, jangan sampai kendor. Ini tidak main-main. Kasus Covid-19 di berbagai daerah melonjak. Tetap selalu waspada,” kata Muhaimin dalam keterangan tertulis, Rabu (16/6/2021).

Ya, kondisi kembali melonjaknya kasus Covid-19 akhir-akhir ini memang sangat disayangkan, di mana kita tahu wabah pandemi yang melanda negeri ini sudah tahun kedua melanda negeri ini, harusnya bangsa ini sudah banyak belajar dari berbagai kebijakan dan penanganan mengapa bisa kasus Covid-19 kembali melonjak? sudah maksimalkah penanganan? strategi jitu apa yang mesti dikembangkan ke depan untuk mengakhiri pandemi? nah ini yang mestinya dipikirkan dan cari jalan solusinya oleh negara sebagai pemegang kebijakan dan pihak yang paling bertanggungjawab.

Lonjakan kasus Covid-19 ini bukan tanpa sebab, menurut pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devi Rahmawati menyebut ada banyak faktor yang memengaruhi diantaranya masyarakat pada umumnya tidak lagi mewaspadai Covid-19 dan membuat kasus Covid-19 makin merangkak naik. Menurut penelitiannya pada tahun lalu, Devi menemukan masyarakat sengaja menghindari mencari atau membaca informasi tentang covid-19. Hal tersebut dilakukan karena takut, akhirnya mereka tidak tahu sudah segawat apa kondisinya sekarang. Dampaknya, mereka tidak lagi menyadari bahwa Covid-19 masih ada di sekitar kita, dampak lainnya mereka jadi masa bodoh dengan keadaan.

Ya, kondisi tersebut memang terlihat jelas faktanya di tengah masyarakat, hal ini membuat warga terlihat santai menghadapi Covid-19. Apalagi aktivitas masyarakat sudah bebas seperti di jalan dan di pasar, kondisi aktivitas masyarakat bergerak seperti biasa. Bahkan pemerintah sendiri yang membuka tempat-tempat wisata. Jauh berbeda kalau kita lihat dengan di luar negeri di mana ada pemandangan jalan dibarikade oleh tentara, jalanan sepi karena ditutup dan warga tidak boleh keluar rumah sama sekali.

Di Indonesia kan itu tidak terjadi, maka wajar jika akhirnya tercipta ‘mindset’ tidak perlu khawatir,” dengan Covid-19. Ditambah lagi, aturan untuk taat pada prokes pun sudah diabaikan dan tak lagi diperdulikan. Parahnya lagi, banyak kepala daerah hingga pejabat negara yang tak memberikan contoh baik mengenai kepatuhan pada aturan protokol kesehatan.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Fahmi Amhar, bahwa lonjakan kasus Covid-19 diberbagai daerah hari ini disebabkan abainya warga atas protokol kesehatan dan negara juga mulai tak tegas dalam menindak dan memberi sanksi pada para pelanggar prokes. Prof. Fahmi Amhar menambahkan, andai saja dalam kondisi seperti ini pemerintah tegas mengambil opsi untuk lockdown seperti yang dilakukan RRC, mungkin pandemi akan cepat teratasi (19/6).

Maka, dengan kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini dan agar lonjakkan kasus tak terus berlanjut hingga memperparah keadaan bangsa ini, perlu adanya evaluasi kebijakan menyeluruh baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Seyoginya negara harus bekerja secara maksimal, mengerahkan segala daya dan upaya untuk penanganan agar pandemi betul-betul dapat diatasi.

Stop dalih agar ekonomi jalan kemudian semua sektor dibuka yang akhirnya membuat warga masyarakat bebas melakukan segala aktivitas di luar rumah hingga tak mengindahkan lagi Prokes. Pemerintah harus tegas terhadap setiap kebijakan dan jangan ambigu apalagi selalu tak konsisten. Kalau memang ingin mengurus negara ini dengan serius, buat aturan lockdown secara total, ikuti contoh negara-negara yang telah berhasil mengatasi pandemi dengan lockdown.

Ya, selama tak ada kesadaran dari warga masyarakat untuk taat pada prokes dan belum ada perubahan kebijakan maka kasus Covid-19 tak akan bisa diatasi bangsa ini. Bisa jadi ke depan akan banyak pasien yang berada di jalan-jalan akibat kekurangan nakes, dan ruangan rumah sakit tak cukup lagi menampung pasien yang terus membludak.

Maka jika opsi lockdown diambil oleh pemerintah dan diberlakukan, artinya tak cukup sampai disitu, tanggungjawab negara dalam mengurus rakyat hingga sampai memenuhi setiap kebutuhan rakyatnya. Hal ini penting agar rakyat tak dilema kalau memang harus beraktivitas dari rumah, sebab negara sudah menjamin kebutuhan selama lockdown.

Mengambil opsi lockdown ini mesti diberlakukan dalam waktu cepat dan bisa dengan waktu singkat asal dengan kekonsistenan. Kemudian negara juga mesti tegas terapkan sanksi hukum bagi pelanggar prokes dan tak tebang pilih.

Pada dasarnya solusi ini sebenarnya sudah dicontohkan Islam dan pernah dilaksakan oleh nabi Muhammad SAW dan para pemimpin Islam sebelumnya dalam mengatasi pandemi, dan terbukti berhasil.

Maka sudah saatnya negara untuk segera melakukan langkah preventif menyelesaikan pandemi di negeri ini. Agar aktivitas disegala bidang dapat segera berjalan dan keadaan kembali normal. Wallahu’alam.***

Penulis merupakan Akademisi dan Pemerhati Sosial Masyarakat

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: