Kamis , September 23 2021

Gegara Baca Slogan Rumah Makan

Helfizon Assyafei

Oleh: Helfizon Assyafei

(Catatan Akhir Pekan)

Untuk pertamakalinya rasa takut terhadap C-19 mulai memudar adalah justru ketika saya berada di pusat isolasi pasien Covid-19. Ternyata banyak kawan senasib. Untuk pertamakalinya juga tak lagi cemas dan takut mendengar raungan sirine ambulans-yang waktu belum kena dulu-seperti horor. Untuk pertamakalinya juga saya tidak takut lagi melihat para nakes berpakaian hazmat.

Sepertinya rasa takut itu malah pindah ke mereka yang sehat. Dokter, perawat misalnya. Mereka mendatangi kami dengan berpakaian hazmat. Pakaian yang mirip astronot bila ke bulan itu. Sebab sebagai orang sehat mereka harus menjaga agar tak terpapar. Sedang sebagai orang sakit kami tak lagi takut terpapar wong sudah terpapar mau apa lagi.

Rupanya makin banyak takut makin menderita kita. Saya dibanding tiga anak saya yang juga diisolasi tentu memori saya lebih banyak menyimpan info tentang C-19 dibanding mereka. Ternyata mereka lebih cepat pulih dari saya. Mungkin tidak terlalu ke pikiran. Selow saja.

Saya pernah bertanya pada si abang (si sulung) saat hari-hari pertama isolasi apa yang dirasakan, ia hanya menjawab “B” aja. Maksudnya biasa saja; ya pusing, lemas, nggak enak badan.

Hal yang serius bagi saya ternyata “B” saja bagi dia. Begitu juga anak-anak perempuan saya. Mereka juga sepertinya “B” juga. Sementara saya yang kebanyakan informasi bahkan sudah sampai pada bayangan jeleknya; bagaimana kalau saja virus ini menang? Mak oi terbayang hal-hal menakutkan.

Mungkin itu sebabnya kerap asam lambung saya naik dan nyerinya sungguh menyiksa. Sejak itulah saya memutuskan ‘menghilang’ sementara dari fb, twitter dan grup-grup WA. Saya tidak memberitahu siapa-siapa saat pertamakali memasuki isolasi. Kecuali atasan saya di kantor dan minta agar jangan disebar dulu infonya.

Bahkan orangtua (ibu) dan kakak-kakak pun juga tidak saya kabari. Setelah tiga hari tak tampak di lingkungan tempat tinggal kami barulah tetangga telpon; “hei boi kemana aja?” Bahkan seorang wartawan senior sempat komen di grup WA, setelah baca tulisan saya-setelah masa isoman selesai-baru tahu saya kena juga.

Mungkin juga karena saya sudah terbawa kebiasan dari dulu gegara membaca slogan rumah makan; Kalau tak enak beri tahu kami, kalau enak beritahu yang lain. Jadi kalau mengalami hal-hal tak enak saya tahankan saja dulu. Saya hanya memberi tahu pada yang wajib diberitahu. Misalnya kalau sakit ya dokter.

Mengapa?

Begini kata politisi ulung yang saya kira benar juga; biar mereka yang sayang pada kita tidak cemas (khawatir) dan yang benci pada kita tidak gembira. Sebab meski saya bukan politisi tapi sebanyak yang suka pasti juga ada yang tak suka. Itu alami. Begitu teori hukum kehidupan kata orang bijak.

Belajar dari mereka saya jadi tahu tujuan hidup itu bukan supaya disukai orang banyak. Tapi jadilah orang yang disukai oleh pencipta semesta, Allah SWT. Sebab ujungnya kita tidak kembali ke orang banyak, tapi kita kembali kepada-Nya jua.

Kembali ke laptop. Awal isolasi saya bertanya-tanya dalam hati. Kok kami disuruh senam pagi dalam kondisi sakit begini? Jangankan senam, makan enak saja rasa tak enak. Apalagi senam. Rupanya semua itu untuk mengkondisikan kami agar batin tak terpusat pada diri sendiri. Saat sakit kita jadi demikian terpusat pada sakit yang dialami dan kehilangan semangat. Suka mengeluh dan khawatir.

Lewat senam pagi dilanjut senam ceria perlahan psikologi mulai berubah. Meski badan masih terasa tak enak tapi psikologis mulai enak. Apalagi gerakan senam yang lucu dan heboh membuat kami tersenyum bahkan ngakak. Tanpa disadari dua hal ini membuat imun menguat. Imun merasa sedang berada di badan orang sehat. Imun (antibodi) yang kuat adalah obat satu-satunya melawan virus ini. Obat lain mungkin hanya sugesti.

Ternyata happy itu bermanfaat sekali. Jelas sekali apa yang terjadi adalah kebahagiaan dan kegembiraan mengalihkan batin saya dari berpusat pada diri sendiri (sakit) menjadi ‘serasa’ orang sehat. Perlahan imun jadi menguat dan akhirnya kondisi badan terus membaik. Bila takut, khawatir, cemas bisa melumpuhkan imun maka sebaliknya gembira dan bahagia bisa memperkuatnya.

Apapun kondisi kita, respon kita adalah pilihan. Jadi benar kata tuan guru, bila ada yang bertanya bagaimana keadaan mu maka jawablah Alhamdulillah tiga kali. Meskipun kondisi sebenarnya kita tidak sedang baik-baik saja.

Sebab Imun kita mendengarnya dan mengira semua baik-baik saja. Dan itu membuat ia (imun) menguat dan membantu sekali bagi kesehatan kita. Jadi gas, eh gaes jangan lupa bahagia. Don’t worry be happy..***

31 Juli 2021

Penulis merupakan wartawan senior Riau

 

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: