Kamis , September 23 2021

Suara dari Balik Tembok Isolasi

(ilustrasi)

Oleh Helfizon Assyafei

Satu-satunya yang mengobati kerinduan saya akan suasana rumah ketika menjalani isolasi covid-19 kemarin adalah suara dari balik tembok isolasi. Suara azan dari masjid di luar pagar tembok komplek isolasi. Azannya bagus. Suara dan hapalan imamnya juga bagus. Diam-diam sering saya menyimaknya.

Bagi saya suara itu lebih dari sekadar hiburan. Suara itu menguatkan imun. Hiburan lain tak ada. Di kamar isolasi memang ada televisi. Tapi nasibnya sama dengan jam dinding yang tergantung di ruangan itu. Dua-duanya tak berfungsi lagi. Jam dinding sudah lama kehabisan batrai.

Sejak saya masuk hingga meninggalkan kamar itu (selesai isolasi), jam di dinding itu tetap menunjukkan pukul 2 kurang 10 menit. Sedang tv tak lagi mau hidup. Tapi bagus juga. Di rumah pun saya sudah lama tak lagi menonton tv kecuali siaran bulutangkis.

Bila ada pengajian di masjid di balik tembok isolasi itu saya bergegas ke teras kamar. Sebab suara mikrofon-nya cukup jelas sampai ke kamar kami itu. Suatu sore lagi ada wirid ibu-ibu. Bergegas saya mengambil kursi di kamar dan duduk di teras. Kepingin saja menyimaknya.

Dan tuan gurunya pun mulai memberi tausiyah. Saya terkesan. Bahasanya sederhana tapi isinya luar biasa. Tentang pentingnya kita memiliki amal khusus yang diulang-ulang dengan kontinyu (istiqomah) setiap malam. Tema hari itu tentang keutamaan bacaan Alquran khususnya surah Al Mulk. Surah ke-67 di Alquran.

Surah Al-Mulk memiliki keutamaan luar biasa. Bila dibaca setiap malam sebelum tidur maka kata Nabi seperti yang diriwayatkan Abdullah Ibnu Mas’ud dapat menyelamatkan si pembacanya dari siksa kubur, diberi ampunan, dan menetapkan kebaikan dan menghilangkan kejelekan bagi pembacanya. Surah Al-Mulk juga dapat memberikan syafaat (pertolongan) pada hari kiamat.

Kata tuan guru itu, “Ibu-ibu sekalian. Amalkanlah dengan membaca surah ini mulai dari sekarang. Sebab sejak lahir, umur kita tidak punya hitungan mundur. Kita tidak tahu nasib kita di kubur apakah kan disiksa atau tidak. Mendapat ampunan atau tidak. Mendapat pertolongan atau tidak kelak di hari kiamat. Kita tidak tahu. Keluarga juga tidak tahu. Siapapun tidak tahu. Tapi ini jalan yang diberikan Nabi untuk kita semua bisa melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kelanjutan kehidupan kelak kita itu.”

Ia melanjutkan. “Dan melakukan amalan itu di sini di dunia sekarang ini. Jangan tunggu nanti, besok. Sebab sebagai makhluk fana, kita pasti berakhir. Hanya saja kita tidak tahu waktunya. Jadi selagi diberi waktu maka amalkanlah,” ujarnya lagi. Saya tertegun lama mendengarnya. Soal-soal metafisika atau gaib seperti ini pilihan kita hanya dua, percaya atau tidak.

Saya memilih percaya karena ada hal-hal yang tetap ada meski kita percaya atau tidak. Covid-19 misalnya. Percaya atau tidak dia ada. Bisa menulari siapa saja, baik kita percaya atau tidak. Saya percaya karena percaya itu berguna bagi tindakan-tindakan yang kita pilih dan lakukan. Disiplin prokes misalnya adalah tindakan yang lahir dari percaya. Percaya membuat kita tahu apa yang harus dilakukan.

Bila kelak baru percaya ayat itu setelah di kubur untuk apa? Terlambat sudah. Tapi ada orang-orang yang begini. Diabadikan Allah dalam surah Assajadah ayat 12. Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata),
“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar (azab di akhirat), maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” Sebuah kesadaran yang terlambat dan tak lagi berguna.

Alquran adalah petunjuk bagi orang yang mau mengikutinya. Alquran memberitahu kita jangan masuk golongan orang yang kelak menyesal ketika melihat kebenaran di suatu hari kelak tanpa kita bisa kembali lagi ke dunia untuk memperbaiki diri dan kesalahan.

Menyesali dosa-dosa itu sekarang ketika kita masih di dunia dengan bertaubat dan berbuat baik pada sesama. Jangan curang, jangan menzalimi, jangan menipu, jangan berkhianat karena semua itu akan kembali jadi azab bagi pelakunya.

Hidup artinya Tuhan masih memberi kesempatan pada kita untuk memenuhi tujuan penciptaan kita yakni mengabdi kepada-Nya. Jika hidup=kesempatan, maka isi hidupmu dengan apa-apa yang diridhai-Nya.

Satu diantaranya melazimkan membaca surah Al Mulk sebelum tidur. Semoga kita diberi kekuatan untuk istiqomah mengamalkannya. Amiin..***

Jumat berkah, 30 Juli 2021

 

Penulis merupakan wartawan senior Riau
Tulisan ini dikutip dari laman Facebook penulis

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: