Jumat , Juli 30 2021

Valentino Rossi Menolak Kenyataan?

Valentino Rossi

Jakarta (Riaunews.com) – Ada apa dengan Valentino Rossi? Pembalap 42 tahun itu seperti tidak bisa menerima kenyataan masa keemasan di MotoGP sudah berakhir. Bahkan sudah berakhir lebih dari satu dekade yang lalu.

Perlu dicatat tidak ada yang memungkiri Rossi adalah salah satu, bahkan dianggap yang terhebat, dalam sejarah balap motor Grand Prix. Koleksi sembilan gelar juara dunia dan sejumlah rekor adalah bukti sahih dari predikat tersebut.

Tapi keputusan Rossi untuk mengulur waktu keputusan pensiun di MotoGP justru merusak nama besar yang sudah dibangun susah payah oleh The Doctor sejak melakoni debut Grand Prix pada 1996.

Rossi mungkin lupa teori evolusi juga berlaku di olahraga. Setiap era MotoGP selalu muncul pembalap protagonis. Rossi pernah menjadi sosok itu, terutama era 2000 hingga 2009 ketika dia merebut tujuh gelar MotoGP.

Rossi memang pernah menjadi runner-up sepanjang 2014-2016, dan tidak beruntung dikalahkan Jorge Lorenzo pada perebutan gelar juara dunia pada MotoGP 2015, tapi selebihnya Rossi tidak pernah benar-benar melawan.

Casey Stoner sempat mengatakan dia yakin Rossi masih akan menjadi juara dunia jika sepeda motor MotoGP saat ini tidak bergantung dengan perangkat elektronik. Tapi, di situ letak masalahnya. Era MotoGP sudah berganti seiring dengan kemajuan teknologi. Rossi pun tidak bisa beradaptasi.

Rossi bisa saja membalap di MotoGP hingga usianya 50. Tapi, apa gunanya jika hanya mampu finis di posisi 14, 16, 17 atau sesekali masuk di posisi sepuluh besar? Torehan itu hanya akan membuat The Doctor menjadi bahan lelucon pembalap lain dan juga penggemar MotoGP.

Rossi saat ini berada pada titik nadir di MotoGP. Kegagalan finis di MotoGP Belanda pada balapan terakhir paruh pertama MotoGP 2021 membuat pembalap 42 tahun itu semakin terpuruk. Sebuah tren yang sebenarnya sudah terjadi sejak musim 2019.

Rossi merupakan pembalap yang memegang sejumlah rekor luar biasa di MotoGP. Musim ini rekor baru juga diciptakan Rossi, tapi sayangnya yang diciptakan adalah rekor negatif.

Pada MotoGP Doha, Rossi meraih hasil kualifikasi terburuk sepanjang kariernya di MotoGP setelah start dari posisi ke-21. Ketika itu Rossi finis posisi 16 di Sirkuit Losail.

Terakhir Rossi menciptakan rekor negatif baru usai MotoGP Belanda. Untuk kali pertama sepanjang kariernya di MotoGP, Rossi hanya mampu meraih 17 poin dari sembilan balapan awal musim.

Setelah finis keempat di MotoGP San Marino musim lalu, Rossi hanya mampu meraih 25 poin dari 15 seri balapan. Finis kesepuluh di MotoGP Italia musim ini merupakan pencapaian terbaik Rossi dalam 15 balapan terakhir.

Bagi seorang Rossi yang punya segudang pengalaman dan prestasi luar biasa di MotoGP, hanya meraih 25 poin dalam 15 balapan adalah hasil yang sangat buruk. Sebuah hasil yang tidak mencerminkan nama besar Rossi.

Lalu ada apa dengan Valentino Rossi? Jawabannya tentu Rossi belum bisa menerima kenyataan kariernya di MotoGP sudah berakhir.

Dengan kata lain Rossi telat pensiun dari MotoGP. Seharusnya Rossi sudah pensiun sejak beberapa musim yang lalu, bukannya justru mencari-cari alasan.

Terlalu menyedihkan bagi kita melihat Rossi memaksakan diri di MotoGP untuk sebuah hasil yang tidak sepadan.

Keterpurukan Rossi di MotoGP tidak bisa disebut sebagai situasi tidak beruntung. Karena tren negatif ini sudah terjadi sejak 2019. Grafik performa Rossi terus menurun sejak 2019 dan mencapai titik nadir pertengahan musim ini.

Sejak musim 2019 Rossi selalu menyalahkan ban belakang Michelin yang tidak cocok dengan M1 Yamaha yang ditungganginya. Alasan itu kemudian menjadi aneh ketika melihat sejumlah pembalap Yamaha yang lain mampu tampil cepat.

Franco Morbidelli yang juga mengeluhkan performa sepeda motor Petronas Yamaha, sempat mampu menunjukkan peningkatan dengan meraih podium ketiga di MotoGP Spanyol.

Meski kemudian akhirnya terpuruk, perlu diingat Morbidelli tidak menggunakan sepeda motor spec pembalap pabrikan Yamaha seperti yang juga digunakan Rossi.

Maverick Vinales berhasil menang di MotoGP Qatar dan finis kedua di MotoGP Belanda. Sedangkan Fabio Quartararo sudah merebut empat kemenangan musim ini dan memimpin klasemen MotoGP 2021.

Kini Rossi berada di persimpangan. Mantan pembalap Ducati itu mengaku akan memutuskan masa depan di MotoGP pada jeda paruh musim. Andai Rossi memutuskan lanjut tampil di MotoGP musim depan, maka keputusan itu sulit dicerna.

Meski kemudian Rossi memutuskan membalap untuk Aramco VR46, keputusan itu tetap tidak masuk akal. Ketimbang hanya menjadi gimik untuk meningkatkan brand tim di MotoGP 2021, lebih baik Rossi memberi kesempatan pembalap lebih muda. Rossi tidak perlu ikut balapan untuk meningkatkan pamor Aramco VR46, cukup hadir di setiap balapan sebagai pemilik tim.

Saat ini kita tinggal menunggu keputusan apa yang akan diambil Rossi. Semoga keputusan tersebut diambil Rossi dengan melihat kenyataan yang ada.***

Sumber: CNN Indonesia

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: