Jumat , September 17 2021

TNBT,  Surga tersembunyi di Indragiri Hulu

Salah sartu sisi Taman Nasional Bukit Tigapuluh

 

Cukup melelahkan awalnya. Dalam hati, ada sedikit kekhawatiran untuk mengikuti ekspedisi ini karena beberapa rekan sesama wartawan bercerita tentang medan yang akan ditempuh  memiliki rintangan hampir mirip seperti mendaki gunung Merapi. Namun rasa penasaranku lebih tinggi dari pada kondisi fisik ini yang beberapa bulan lalu baru menjalani operasi pemasangan  ring jantung atau stent.

Bersama 45 orang rekan wartawan lainnya, kami memulai perjalanan dari kota Pekanbaru menggunakan bus hingga sampai di pinggir jalan Lintas Timur menuju Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Rantau Langsat, Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

“Ayo, abang, kakak dan kawan- kawan. Semuanya turun dari bus. Dari sini kita akan masuk ke lokasi sekitar 45 menit menggunakan mobil 4×4. Pindahkan seluruh barang dan pastikan tidak ada yang tertinggal,” Demikian Kunni Masrohanti, leader kami dalam Ekpedisi PWI Riau sempena Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021, meminta seluruh peserta berkemas.

“Ah, ternyata menggunakan kendaraan juga, bukan jalan kaki,” batinku sedikit senang setelah mendengarkan paparan Kunni.

Kukemas seluruh perlengkapan yang dibawa dari rumah, lalu berpindah ke sebuah mobil 4×4 dan ekspedisi dua hari satu malampun dimulai.

Kurang dari pukul empat petang, kami tiba di lokasi yang telah disediakan panitia. Ada dua pilihan menginap ditawarkan, di tenda atau di cabin house. Aku sendiri lebih memilih cabin house, mengingat umur ini sudah tidak muda lagi, sementara teman- teman lain banyak memilih menginap di tenda. “Agar suasana ekspedisi lebih terasa,” ujar mereka.

 

Tenda- tenda yang didirikan di halaman cabin house

 

Disamping memperingati HKN 2021, nuansa ekspedisi  adalah untuk menyuarakan kepedulian anggota PWI Riau terhadap kelestarian lingkungan, terutama kawasan hutan dan cagar alam sejenis. Kegiatan ini juga bertepatan sempena HUT Provinsi Riau ke 64.

Cabin House di Camp Granit cukup nyaman meski tidak dilengkapi pendingin udara, namun karena berada di daerah perbukitan, tidak terasa begitu panas meski berada di kawasan tropis.

Camp ini dulunya dibangun oleh perusahaan penambang granit. Setelah dijadikan kawasan TNBT, perusahaan tersebut tidak diizinkan untuk melakukan penambangan,” demikian dijelaskan Doni, salah seorang petugas path finder TNBT kepadaku.

Susasan camp sangat asri sekali walaupun jaringan telepon selular tidak ada,  namun aku merasa lebih tenteram dengan keheningan yang diciptakan alam. Sambil melepas penat, dari balkon lantai dua pandanganku mengarah ke bebukitan yang terhampar di depan mata. Bukit Tigapuluh dikatakan Doni terpisah dari rangkaian Bukit Barisan yang membentang di pulau Sumatera.

“Bila beruntung, kita bisa melihat burung Rankong yang terbang berpasangan tanpa harus masuk ke hutan. Burung Rangkong ini merupakan simbol kesetiaan karena mereka selalu hidup dengan pasangannya,” ujar Doni sedikit promosi.

Dijelaskan Doni,  kawasan TNBT kaya akan pesona flora dan fauna. Kita dapat menjumpai burung langka seperti Kuau (argusianus argus). Pesona burung berbulu lentik ini, akan terlihat saat menguakkan bulunya yang menimbulkan sensasi tersendiri.

Belum lagi Harimau Sumatera, Tapir, Kucing Hutan, Macan Akar, Kijang, Rusa aneka jenis primata bahkan Gajah Sumatera masih dapat ditemui. Namun disayangkan populasi hewan- hewan tersebut terancam punah akibat perburuan liar dan perluasan kawasan industri.

Bukit Tigapuluh diibaratkan surga tersembunyi di Kabupaten Inhu, Provinsi Riau,  dan keberadaan TNBT merupakan perisai untuk melindungi eksistensi keanekaragaman hayati di dalamnya.

“Kami ini hanya petugas yang menjaga kelestarian alam di Bukit Tigapuluh. Pemilik kawasan ini adalah Provinsi Riau, artinya, seluruh masyarakat Riau juga harus mempertahankan keasliannya yang akan diteruskan kepada  anak cucu di masa mendatang,” ujar Kepala Balai TNBT, Fifin Arifiana Jogasara dalam diskusi terbuka digelar malam hari di halaman Camp Granit, Jumat (06/08/2021).

 

Kepala Balai TNBT, Fifin Arifiana Jogasara

 

Fifin meyakinkan kepada peserta ekspedisi bahwa hewan langka di kawasan tersebut masih terkontrol dengan baik. Hal tersebut dibuktikan Fifin dengan memutar vidio yang direkam menggunakan camera trap pada sejumlah titik di TNBT

“Keberadaan hewan langka ini perlu dipertahankan. Kita juga sudah beberapa kali membawa ke jalur hukum sejumlah pemburu Harimau Sumatera dan Alhamdulillah oknum tersebut sudah divonis bersalah,” kata Fifin dengan semangat.

Peran masyarakat lokal, dalam hal ini suku Talang Mamak, memiliki peran penting menjaga keseimbangan alam TNBT. “Suku Talang Mamak merupakan penjaga alam utama TNBT dengan kearifan lokal yang telah menjadi budaya mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai petugas konservasi, kami lebih banyak melakukan pembinaan kepada mereka, terutama cara- cara dalam memanfaatkan alam tanpa harus merusaknya untuk meningkatkan taraf hidup,” kata Fifin lagi.

Interaksi yang baik antara Petugas TNBT dengan masyarakat Talang Mamak, digambarkan Fifin sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap keberadaan mereka. Pembinaan yang dilakukan diantaranya adalah memberikan pengetahuan mengembangkan produksi madu Kelulut, yaitu sejenis lebah tanpa sengat (stingless bee) atau dalam bahasa Latin disebut Trigona Itama dan Trigona Thoracica.

“Kelompok ini sudah mulai memproduksi madu Kelulut dan sudah dipasarkan. Harganya memang agak tinggi bila dibandingkan madu Sialang. Kisarannya Rp.70 ribu untuk botol kecil,” imbuh Fifin.

Sabtu (8/8/2021), tim ekpedisi PWI Riau dibagi dua kelompok. Sebanyak 20 wartawan melakukan pendakian bukit Lancang dengan ketinggian 450 MDPL dan jarak tempuh satu jam empapuluh lima menit dari Camp Granit. Kelompok lainnya hanya menjelajah lintasan pendek dengan tujuan akhir yang sama, yaitu air terjun alam TNBT dengan masa tempuh kuirang dari satu jam saja.

Aku bersama kelompok dua saat menelusuri TNBT

 

Aku sendiri mengambil lintasan pendek dan perjalanan dimulai sekitar pukul 8.00 wib. Di sepanjang perjalanan, kami ditawarkan berbagai suguhan nuansa alam asiri. Dadaku terasa lebih lega saat bernafas. Hal tersebut tentu saja karena oksigen yang dihirup murni diproduksi pepohonan hutan tanpa ada pengaruh polusi seperti di kota. Segar rasanya meski medan yang dilalui cukup membuatku sedikit tersengal karena tanjakannya cukup tajam. Apalagai sebelum berangkat, aku tidak melakukan latihan khusus layaknya orang akan mendaki gunung.

Sepanjang perjalanan, Kepala Balai TNBT, Fifin Arifiana Jogasara terus bercerita tentang keberadaa alam TNBT hingga medan yang kami lalui tidak begitu terasa berat seperti yang kuduga sebelum menginjakkan kaki di sini.

“Nah, ini adalah gudang granit peninggalan perusahaan ekplorasi yang pernah beroperasi sebelum kawasan ini menjada taman nasional,” ujar Fifin seraya menunjuk sebuah bangunan kosong di tengah hutan  yang didalamnya telah dihuni lebah.

Bangunan tersebut cukup kokoh berdiri di sana meski sudah ditinggalkan puluhan tahun. Kata Fifin, pihaknya tidak ada rencana untuk merubuhkan bangunan tersebut. Disamping sebagai saksi sejarah, juga dapat dimanfaatkan binatang liar untuk bermukim.

Selanjutnya, kami memutar kembali menuju arah camp Granit menelusiri tebing untuk mencapai air terjun.

Sedikit mulai terasa sesak. Aku melambatkan langkah mengimbangi ritme jantung ketika mendaki perbukitan setelah mencapai sepertiga perjalanan. Tak mau ambil resiko, aku sering berhenti sambil menikmati pemandangan yang begitu indah.

 

berpose di bawah pohon tua yang tumbang akibat diterpa angin

 

Seorang Polisi Kehutanan terlihat muncul mengendarai motor tracker. Ia menawarkan kepada rombongan untuk berkendara bila ada yang merasa tidak sanggup untuk mendaki.

Dua orang rombongan akhirnya menerima tawaran tersebut dan melaju menuju tujuan akhir di lokasi air terjun. Aku sendiri merasa masih sanggup dan segan juga rasanya menerima tawaran itu. Apa lagi kulihat seniorku, Said Mustapa Husin, yang sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun, masih tegap menjejakkan langkah, bahkan berada di posisi terdepan.

“Kalau disini, nggak apa berhenti agak lama. Ini namanya Bukit Rindu. Jadi bila kami rindu dengan keluarga, kami mendatangi tempat ini,” ucap salah seorang petugas TNBT seraya mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirimkan panggilan.

Pada titik tersebut, ternyata sinyal ponsel sangat kuat, bahkan untuk melakukan panggilan vidio sangat mumpuni. Sedetik kemudian akupun mulai mengeluarkan ponsel dari saku celana dan langsung menghubungi istriku.

Dari istri aku mendapat kabar anakku demam, tapi panas badannya sudah turun. Cukup lega juga mendengarkannya meski sedikit terbersit pandemi Covid-19 yang sangat erat hubungannya dengan gejala demam.

“Sudah dikasih obat? Apakah ada gejala Covid-19? Indra perasanya bagaimana? Penciumannya hilang nggak?” ujarku mencerca istriku dengan pertanyaan bertubi.

Sesaat kemudian wajah anakku muncul di layar ponsel. “Nggak apa- apa, kok, ayah. Sudah tidak panas badannya. Penciuman dan lidah masih berfungsi dengan baik. Barusan sudah makan seperti biasa,” ujar istriku yang berdiri di belakang anakku.

Lega mendengarkannya. Percakapan sempat berlanjut hingga sepuluh menit. Setelah mengakhiri pembicaraan,  aku menutup ponsel dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 10.00 wib, rombongan kami tiba di air terjun. Aku terkagum melihat pemandangan di depanku. Gemuruh air yang saling mendahului terlihat seperti membuat anak sungai di dinding tebing berbatu granit, lalu pecah terhempas menerpa batuan dibawahnya.

 

Keceriaan rekan- rekan jurnalis meningkahi cucuran air terjun TNBT

 

Banyak yang tidak tahan demi melihat pemandangan tersebut. Seperti lomba pacu lari, kawan- kawan mulai berhamburan untuk berberbasah- basah dibawah air terjun. Letih mendaki bukit sudah tidak terasa lagi, seolah hilang dibawa aliran air yang menerpa sekujur tubuh.

Berlama- lama dibawah air terjun mengubah tingkah polah tim ekpedisi seperti anak- anak. Mulai dari berteriak, berjoget hingga bergaya seperti orang bertapa terlihat menghiasi suasana keceriaan tanpa sedikitpun terbersit rasa malu.

Dari pinggir kumparan air, aku memandangi polah rekan- rekan sambil tersenyum. Suasana yang jarang terjadi menjadi momen pengingat masa kecil.  Ternyata meski usia sudah beranjak tua, tetap saja masih tersimpan prilaku kanak- kanak di dalam setiap diri manusia, hanya itu yang dapat kusimpulkan.

Menjelang siang, kami kembali ke Camp Granit dijemput kendaraan offroad untuk berkemas, karena sesuai jadwal, kami akan meninggalkan TNBT sekitar pukul 14.00 wib menuju Pematang Reba untuk menginap semalam di sana sebelum melanjutkan ekspedisi ke Taman Nasional Teso Nilo di Kabupaten Pelalawan.

 

Penulis : Ipung Sadewo AS
Editor : Pepen

 

 

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: