Kamis , Desember 2 2021

Antara Sport dan Sport Jantung

Anthony Sinisuka Ginting. (Foto: Okezone)

Oleh: Helfizon Assyafei

Saya masih terpaku di depan layar kaca ketika telepon genggam itu berdering. Dari seorang kawan lama yang sesama penggemar badminton.

Onde mande genk, marasai si Daddies kanai gulai dek Cino Taipeh,” ujar suara di ujung telepon. Terjemahan: astaga temanku, hazab gandaputra Indonesia kena hajar (kalah telak) oleh ganda putra China Taipe.

Itulah komentar pertama saya dengar setelah menyaksikan live perempat final bulutangkis Olympiade Tokyo sore kemarin.

Bahkan saya tak sempat sport jantung (deg-degan) melihat pertandingan itu karena jagoan Indonesia Ahsan/Hendra macam tersapu badai disikat wakil China Taipei Lee Yang/Wang Chi-lin dua set langsung tanpa balas.

Speed and power duet muda Taipeh itu memang luar biasa. Jagoan kita tak sempat berkembang permainannya. Tertekan terus. Lalu ambyar. Cuma butuh 12 menit bagi Lee/Wang menutup set pertama dengan skor 21-11. Saya berharap set kedua keadaan berubah. Tapi badai itu tetap tak terhentikan. Lee/Wang menutup set kedua dengan skor 21-10.

Faktor usia memang tak bisa dibohongi. Speed and power pemain muda China Taipie yang selisih usianya dengan ganda senior Indonesia lebih sepuluh tahun itu emang dahsyat. Sama seperti Jepang, tak ada lagi ganda putra Indonesia tersisa di Olympiade. Kandas das das.

Untunglah pagi ini, Sabtu (31/7/2021) kepahitan kemaren dibalaskan oleh ganda putri Indonesia Greysia Polli/Apriyani Rahayu. Mereka melibas ganda putri Korea Selatan dua set langsung tanpa balas di partai semi final. Meski demikian menonton laga akhir pekan kali ini cukup sport jantung karena angka ketat sekali dan selalu berkejaran. Untunglah mereka bisa menuntaskannya dengan skor 21-19, 21-17.

Dan paling sport jantung lagi-juga hari ini-ketika melihat tunggal Putra Indonesia Antoni Sinusika Ginting berlaga di perempat final melawan pemain unggulan ketiga dunia dari Denmark Anders Antonsen. Antoni ‘hanya’ unggulan 6 di ajang itu. Artinya 3 strip di bawah Antonsen. Tapi Ginting cuek soal rangking unggulan itu. Bermain rapi di set pertama bisa menundukkan Antonsen 21-18.

Set kedua Antonsen bangkit membalik keadaan jadi 21- 15. Set ketiga pertarungan berlangsung ketat. Dan Antoni terus tercecer angkanya di belakang Antonsen hingga interval kedua (turun minum) 11-9. Saat berlanjut Antoni makin tercecer. Antonsen melaju hingga kedudukan 14-11.

Tak kuat sport jantung melihatnya saya mematikan tv dan membaca buku. Entah mengapa saya selalu tak siap melihat pemain Indonesia kalah apalagi kalau angkanya kejar-kejaran begitu. Hampir 10 menit tv off. Tapi karena penasaran ingin lihat hasil akhir saya on kan kembali Tv.

Bersamaan dengan itu saya melihat Antoni berteriak keras tanda ia berhasil sukses menumbangkan Antonsen. Saya lihat skornya 21-18. Alhamdulillah. Ada juga wakil Indonesia ke semi final tunggal Putra. Meski di semi final nanti telah menanti satu di antara dua naga bulutangkis yang kan lolos yakni Chen Long (China) atau Chou Tien Chen (Taipeh), Tapi bodo amat, itu urusan nantilah!

Tiba-tiba telepon genggam saya berdering kembali. Rupanya teman lama saya itu menonton juga dan kembali berkomentar; “Sabana santiang si Ginting yo genk,” ujarnya. Translate: Benar-benar hebat si Ginting ya kawan…

Penulis merupakan wartawan senior Riau

 

Artikel ini dipublikasikan pertama kali di laman Facebook penulis

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: