Rabu , Oktober 20 2021

Ilusi Pertumbuhan Ekonomi

Presiden Joko Widodo.

Oleh: Alfiah, S.Si

SAYA tidak tahu apakah kabar gembira atau kabar burung. Pasalnya pemerintahan Jokowi mengumumkan pertumbungan ekonomi kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen.

Banyak yang justru menganggap bahwa ini hanya klaim sepihak pemerintah. Rakyat sendiri sama sekali tak merasakan adanya pertumbuhan ekonomi ini. Apalagi di masa pandemi, yang justru semakin membuat kehidupan ekonomi rakyat kian terjepit

Namun bisa jadi angka pertumbuhan ekonomi 7,07 persen karena kekayaan para konglomerat semakin melejit di masa pandemi. Wajar publik bertanya-tanya karena antara fakta dan kondisi riil jauh berbeda dengan klaim tim ekonomi Jokowi itu.

Bahkan anggota DPR RI Fraksi PDIP, Darmadi Durianto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/8/2021) mengatakan “Angkanya benar, tapi bisa membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai kebenaran angka tersebut. Karena masyarakat membandingkannya dengan situasi saat ini,”.

Klaim pertumbungan ekonomi ini jelas bertolak belakang dengan nalar publik yang tengah kesulitan di tengah pandemi Covid-19 sekarang. Kendati sekalipun klaim pertumbuhan ekonomi itu didukung dengan data akurat.

Bahkan, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ini adalah “pertumbuhan ekonomi semu”. Karena menggunakan base rendah di tahun 2020. Menurut INDEF di Q2 2020 pemerintah melakukan PSBB. Sementara di Q2 2021 pelonggaran PPKM terjadi. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tinggi melebihi rata-rata pertumbuhan kuartalan Indonesia sebesar 5%. Demikian menurut lembaga itu dalam pernyataan yang diterima CNBC Indonesia, Sabtu (7/8/2021).

INDEF juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi belum kembali ke kondisi normal. Jika dibandingkan dengan rerata pertumbuhan sebelum pandemi (2018-2019), Q2 2021 hanya tumbuh 3,87%. INDEF menyamakan hal yang terjadi di Indonesia dengan negara lain.

Tidak hanya Indonesia, negara mitra dagang juga sama setelah setahun sebelumnya mengalami kontraksi yang lebih dalam.

Bahkan China bisa tumbuh sebesar 18,3 % (QI 2021) dari sebelumnya -6,8 % (Q1 2020), Singapore 14% (Q2 2021) dari sebelumnya -13,3 % (Q2 2020) dan Amerika tumbuh 12,2 % (Q2 2021) dari sebelumnya -9,1 % (Q2 2020).

Jadi wajar kalau pertumbuhan karena low base effect (dasar perhitungan rendah) memang menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi kita, sama seperti negara-negara di atas.

Fakta Pandemi : yang Kaya Tambah Kaya yang Miskin Tambah Miskin

Kalau ini fakta bahwa pandemi COVID-19 menekan seluruh sendi-sendi perekonomian. Hal ini berdampak pada pendapatan dan pengeluaran masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat gegara pandemi, jumlah penduduk miskin di Indonesia naik 1,12 juta per Maret 2021 menjadi 27,54 juta. Ini artinya ada 10,14% orang miskin di Indonesia.

Managing Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengungkapkan hal ini karena banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan berdampak pada hilangnya pendapatan. Menurutnya resesi membuat pendapatan banyak orang turun, mereka yang berada di kategori hampir miskin menjadi jatuh miskin. Bantuan sosial yang diberikan pemerintah juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Karena jumlahnya sangat kecil jika dibandingkan dengan penghasilan mereka yang hilang. Apalagi pembagian yang tidak merata dan bermasalah.

Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan memang pandemi ini membuat kemiskinan meningkat. Karena aktivitas ekonomi yang terbatas.

Banyak yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah, memang bukan untuk mencegah terjadinya kemiskinan. Bantuan pemerintah lebih kepada untuk menjaga agar masyarakat tetap bisa hidup layak walau terdampak pandemi. Tidak kelaparan meski jatuh ke jurang kemiskinan.

Sehingga naiknya angka kemiskinan ini bukan ukuran kegagalan program bantuan pemerintah. Piter juga menjelaskan di tengah pandemi ini memang membuat yang kaya bertambah kaya dan miskin bertambah miskin.

Seyogyanya pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan rakyat secara keseluruhan. Rakyat merasakan berkah dari pertumbuhan ekonomi ini.

Jadi bukan hanya segelintir orang yang merasakannya. Kekayaan konglomerat melejit, rakyat justru terjepit.

Sakitnya tu di sini…***

Penulis merupakan pengamat dunia sosial

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: