Rabu , September 22 2021

Ketika Hibah Tak Sekedar ‘Prank’

Raja Kesultanan Siak, Sultan Syarif Kasim II, tercatat pernah menyumbang ke RI yang baru lahir 13 Juta Gulden yang kalau dikonversikan kerupiah sekitar 1.074 Triliun. Dan, itu bukan prank!

Oleh : Alfiah, S.Si

Publik dan pejabat negeri ini sempat terperangah dengan Rp2 trilyun yang akan disumbangkan untuk penanganan covid-19 yang tak kunjung reda. Sebagian besar percaya kalau bantuan itu niscaya. Hanya sedikit yang ragu dan curiga, jangan-jangan hanya janji kosong dan dongeng belaka.

Seakan sudah kenyang dan hafal dengan janji dusta, publikpun membandingkan dengan Rp11ribu trilyun yang 2016 lalu sempat dikoarkan oleh orang nomor satu negeri ini.

Ah…seandainya memang benar adanya yang dijanjikan oleh mereka tentu akan sangat membantu masyarakat di tengah pandemi. Rp11 ribu trilyun yang katanya sudah ada di saku kiri tentu akan bisa mengurangi utang Indonesia secara signifikan.

Mungkin lebih tepat negeri ini dijuluki ‘Negeri 1001 Kebohongan’. Betapa tidak, seakan kebohongan menjadi menu harian. Sekelas kapolda bahkan gubernur saja bisa dibohongi. Bahkan presiden sendiripun dijuluki The King of Lip Service oleh BEM UI yang belakangan justru menyeret rektor UI untuk mundur dari jabatan.

Sah…kita memang sudah berada di akhir zaman yang penuh fitnah dan kebohongan. Kondisi sekarang ini sudah dikabarkan oleh Nabi SAW beberapa abad lampau. Ini sebagaimana hadits riwayat Abu Hurairah RA:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيَأتي علَى النَّاسِ سنواتٌ خدَّاعاتُ يصدَّقُ فيها الكاذِبُ ويُكَذَّبُ فيها الصَّادِقُ ويُؤتَمنُ فيها الخائنُ ويُخوَّنُ فيها الأمينُ وينطِقُ فيها الرُّوَيْبضةُ قيلَ وما الرُّوَيْبضةُ قالَ الرَّجلُ التَّافِهُ في أمرِ العامَّةِ

Yang artinya: “Akan datang tahun-tahun penuh kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianatan terhadap amanah yang diberi, orang yang jujur dikhianati, dan ruwaibidhah ikut berkomentar. Lalu ditanya, apa itu ruwaibidhah? Beliau menjawab: orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.”

Sungguh, pernah ada masa ketika hibah tak sekedar ‘prank’. Bahkan hibah mereka nilainya sangat luar biasa. Bukan untuk mencari pujian atau sensasi, tapi ridho Illahi yang mereka cari. Adalah Abdurrahman bin Auf ra pada perang Tabuk berdiri terdepan menyumbangkan harta. Saat itu dia memiliki empat ribu dinar: dua ribu dinar diberikan untuk jihad, dan sisanya disimpan untuk keluarga. Perlu diketahui bahwa 1 dinar senilai 4.25 gr emas.

Bahkan kedermawanan Abu Bakar Ash Shiddiq tak kalah luar biasa. Beliau telah mengumpulkan semua harta benda yang ada di rumahnya. Kemudian, hartanya diberikan kepada Rasulullah SAW. Dan ketika Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan di rumahmu?” Ia menjawab, “Allah SWT dan Rasul-Nya (yakni perbekalan yang berupa keridhaan-Nya dan Rasul-Nya) ada di rumah.

Namun, tahukah anda bahwa Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak pernah menyumbang Rp1.000 triliun untuk kemerdekaan Indonesia. Beliau menyumbang sebesar 13 Juta Gulden yang kalau dikonversikan kerupiah sekitar 1.074 Triliun!

Dan ini tercatat dalam sejarah adalah sumbangan terbesar dari sumbangan para Sultan di seluruh kesultanan di Nusantara.. Dan ini nyata, bukan sekedar ‘prank’….***

 

Penulis merupakan pengamat dunia pendidikan

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: