Sabtu , September 18 2021

Mengapa Mesti Bersyukur?

(ilustrasi)

Oleh: Helfizon Assyafei

Mengapa setiap terbangun dari tidur yang pertama diajarkan Nabi adalah bersyukur? Sebab syukur itu menyehatkan jiwa. Berkebalikan dengan sedih dan kecewa.

Kata tuan guru, bersyukur adalah kunci hidup bahagia. Orang yang tak pandai bersyukur maka hatinya akan selalu sempit dan galau meski di tengah kekayaan. Apapun keadaan mu, lanjut tuan guru, ketika bangun pagi ucapan pertama bersyukurlah.

Mengapa?

Karena selagi Tuhan mengembalikan ruh ke tubuh mu untuk melanjutkan hidup di bumi ini artinya adalah rezeki mu masih ada. Masih diberi kesempatan. Kesempatan apa? Kesempatan untuk berbakti pada-Nya dan berbuat baik pada sesama manusia.

“Jadi setiap nafasmu adalah mutiara yang tiada bernilai karena tidak bisa tergantikan. Jika berlalu ia takkan pernah kembali lagi,” ujarnya.

Maka, lanjutnya lagi, janganlah engkau seperti orang-orang bodoh yang tertipu. Menghabiskan waktu dengan perkataan dan perbuatan sia-sia (tak bermanfaat). Setiap hari bersuka-ria karena bertambahnya harta padahal umurnya terus berkurang. Lupa berbekal.

Saya teringat kisah berikut ini. Suatu ketika ada seorang yang pelesiran ke tepi pantai. Ia terpesona dengan gemuruh ombak laut yang saling bekejaran. Melihat begitu banyaknya buih di lautan yang mengambang begitu ombak menghempas pantai. Ia berfikir sebaiknya ia bawa buih-buih itu pulang sebagai bukti bahwa ia telah sampai ke pantai ini.

Ia ambil kopernya dan berdiri menunggu ombak sembari membuka kopernya. Setelah ombak berlalu ia menutup kopernya dan tersenyum melihat banyaknya buih yang tadi masuk ke tasnya itu.

Sesampai di negerinya ia memanggil temannya untuk memperlihatkan isi tasnya itu. Saat dibuka ternyata yang ada hanya kosong. Ia kaget. Ia tak tahu buih itu menguap lalu hilang. Seperti itulah dunia yang kita bangga-bangkan sekarang ini.

Kata tuan guru janganlah engkau berbahagia dengan yang kan sirna. Tetapi berbahagialah bila ilmu dan amal solehmu bertambah.

Sebab hanya ilmu dan amal saleh yang kan bersama mu selamanya ketika suatu saat kelak kau terbaring dalam tanah yang tak dikenal.

Apapun pangkat mu akhirnya sama saja. Terbaring kaku tanpa daya. Ketika semua yang kau kenal dan kau sayangi meninggalkan mu dalam kesendirian. Ketika itulah sesal dan dukamu tak lagi bermakna.

Walaupun hidup seribu tahun tapi tidak sholat dan tidak berbuat baik apalah gunanya?

“Alhamdulillah masih Engkau beri kesempatan ya Robb” katakan itu pada dirimu setiap kali engkau terbangun di pagi hari.

Terimakasih tuan guru..***

26 Agustus 2021

 

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: