Kamis , September 23 2021

Obat Galau

(ilustrasi)

Oleh: Helfizon Assyafei

Simpanlah keluhanmu, karena itu adalah simpanan kebaikan. Begitu kata Imam Al Gazali.

Keluhan merusak kebahagiaan mu dan kebahagiaan orang lain. Karena mengeluh itu merugikan batin. Sampaikan keluhan itu pada yang Maha Mendengar. Jangan pada para pendengar. Kalau disampaikan pada para pendengar maka mereka terbagi dua. Satu senang melihat mu susah. Yang satunya lagi jadi susah melihat mu susah. Dua-duanya nambah masalah.

Kata tuan guru, jika kesusahan menimpa hati mu berbisiklah dalam diam. “Ya Allah, hilangkanlah kesusahan ini.” Lalu, lanjutnya, alihkan fokus perhatian dari rasa itu.

Seperti rasa cinta, rasa susah itu bisa terus mengikuti kita ke manapun. Jadi lakukan sesuatu agar ia tak terus-menerus menempel pada kita. Mungkin dengan melakukan kegiatan. Seperti jalan kaki. Atau memberi.

Memberi itu ternyata luar biasa. Bahkan saking luar biasanya dalam Alquran Tuhan menyuruh kita memberi itu baik di waktu sempit (miskin) maupun di waktu lapang (kaya). Saya dulu bertanya dalam hati mengapa di waktu sempit juga disuruh memberi? Bukankah kita ketika itu pantas diberi? Ternyata jawabnya saya temukan dalam sebuah pengalaman berikut ini.

Ketika itu di penghujung bulan. Dompet sedang sunyi sesunyi sunyinya. Sedang tanggal muda masih sepuluh hari lagi. Maklum pekerjaan hanya karyawan. Makan gaji. Dan rasa susah itu pun datang. Bukan cuma datang tapi mengikuti kemana pergi. Duh merana. Seperti orang jatuh cinta pada seseorang yang orang itu tidak tahu kita jatuh cinta padanya. Ruwet kan?

Sedang galau begitu tiba-tiba datang teman lama. Karyawan bukan, pengusaha bukan tapi korban perpanjangan hari-hari yang ‘terkekang’ yang bahasa kekiniannya PPKM. Di PHK. Lalu menganggur. Percakapan kami tak lama. Intinya ia kehabisan beras. Lalu minta saran kemana harus melapor? Ke polsek? Ke kantor Lurah? Ke Masjid? Ke Dinas sosial?

Saya terkekeh. Sudah susah begitu candanya masih saja ada. Dan pertemuan itu selesai. Ia pulang dan berterimakasih meski hanya dapat makan untuk hari itu. Tiba-tiba dada ini rasanya plong sekali. Galau di hati pergi entah kemana.

Rasa susah tadi sirna seperti fajar menyaput ufuk timur dengan senyumnya di pagi hari mengusir gelapnya malam. Rasa galau tadi diganti oleh Tuhan dengan perasaan yang luar biasa. Merasa damai dan lapang. Meski dompet masih tetap sunyi.

Mungkin seperti itu rasa di lagu Koes Plus hati senang walaupun tak punya uang. Tak khawatir lagi jadi untuk besok bagaimana? Itulah kekuatan memberi. Dan memberi selain menghilangkan kesusahan di hati juga membuka pintu rezeki lainnya yang tak terduga.

Memberi itu kata seorang dermawan seperti membuka saluran air mengalir. Air akan terus berganti. Yang penting jangan takut memberi. Dan memberi tak harus menunggu mu kaya dan juga membuat mu gembira.***

25 Agustus 2021

 

Penulis merupakan wartawan senior Riau

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: