Rabu , September 22 2021

Orang Besar

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyerahkan mobil dinas barunya ke Satgas Covid-19 Sumbar untuk dijadikan mobil operasional. (Foto: Kompas)

Oleh: Helfizon Assyafei

ORANG berjiwa besar itu mampu mendengarkan, memahami dan menghargai kritik. Setelah sempat ramai jadi perbincangan soal harga mobil dinas Gubernur Sumbar yang di atas Rp1 miliar, Mahyeldi sang gubernur merespon cepat. Ia menyerahkan mobil dinas gubernur itu kepada Satgas Covid-19 Sumbar untuk dijadikan mobil operasional.

Bukan itu saja. Ia juga minta maaf kepada publik atas nama pribadi dan pemerintah daerah atas hal itu. Padahal bukan salah dia.

Begitulah selayaknya jiwa pemimpin. Tidak menulikan telinga dan membutakan mata terhadap kritik rakyatnya sendiri. Padahal bukan ia yang minta mobil mewah itu.

Pembelian mobil itu sudah dianggarkan oleh DPRD sesuai dengan pagu anggaran yang ada bahkan sebelum ia terpilih jadi gubernur. Jadi sebenarnya tidak ada masalah kalaupun ia memakai mobil itu. Itu haknya yang dibolehkan oleh undang-undang.

Pertanyaannya kenapa jadi heboh? Itulah permainan politik.

Ini mungkin. Mungkin saja PKS partainya sang gubernur terkenal kritis itu bikin gusar pemain politik lainnya. Mulai dari terang-terangan mengkritik pengecatan pesawat kepresidenan hingga menolak rencana amandemen UUD 1945. Jadi bila ada celah salah silap sedikitpun jadi bahan untuk di blow up (dibesar-besarkan).

Tetapi sekali lagi sikapnya yang ksatria itu menunjukkan kualitas ketokohannya. Ia layak jadi negarawan. Tidak anti kritik. Tidak juga memenjarakan orang yang mengkritiknya. Tahu beda kritik dengan hujatan. Kritik adalah pil pahit yang berguna bagi perubahan.

Sang gubernur juga memerintahkan jajarannya melelang mobil dinas yang dipinjamkan SKPD kepadanya sebelum mobil baru itu datang. Dan dananya digunakan untuk penanggulangan Covid-19. Ia memilih menggunakan mobil pribadinya sendiri digunakan untuk keperluan dinas.

Jadi mengertilah saya mengapa orang seperti ini banyak lawannya. Sebab orang seperti ini bukan mengejar dunia dengan jabatannya. Ciri orang yang sulit diajak kompromi untuk menikmati kue pembangunan dengan cara-cara yang tak baik. Terimakasih pak. Masih ada pemimpin yang seperti bapak. Dikritik mau menerima dan mau berubah.***

 

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: